Langsung ke konten utama

Postingan

KITA TAK LAGI NYAMAN

Aku mengajakmu duduk satu meja. Dengan pikiran yang sibuk berkelana. Kita hanya duduk diam berdua, tanpa ada yang memulai pembicaraan. Cukup saling pandang. Dulu kita juga semeja. Kita bercanda, bercerita panjang tentang aktivitas kita, bercerita tentang rencana-rencana yang jelas kemungkinannya. Kita menjadi patung di seberang meja. Dengan secangkir kopi yang telah dingin. Tak ada yang memulai pembicaraan. Kita memiliki membisu dengan keadaan hati yang sibuk menata rindu. Aku tahu, kau tak lagi nyaman semeja denganku. Berulangkali kau meremas jemari. Seakan memberi isyarat, bahwa kau ingin cepat berlalu dari tempat ini. Aku tahu, kau diam-diam memeriksa waktu, menghitung putarannya yang terasa lama saat ditunggu. Dan aku juga tahu, kita tak lagi nyaman. Dengan mengenang masa-masa manis yang kurasa tak perlu diceritakan. Kita menjadi dua orang asing sekarang. Padahal dulu kita akrab sekali. Hingga orang-orang menyebut kita sepasang hati yang cocok sekali. Kenyamanan telah tak ada lagi ...

KAMU, BERHENTILAH

Kamu, berhentilah bersama dia yang tidak mau diajak berjalan di jalan yang sama. Berhentilah berharap pada yang jelas-jelas tidak mengharapkanmu. Dirimu terlalu berharga untuk sekedar memohon pada yang sama sekali tak pernah memohon. Kamu ... Berhentilah untuk tidak peduli pada dia yang jelas-jelas tidak peduli. Dan berhentilah berada di tengah-tengah orang yang berharap hadirmu saja tidak. Hati adalah benda rapuh yang mudah disakiti. Menyerahkan hati pada tempat yang salah, hanya akan membuatmu dikelilingi masalah. Kamu menjadi orang bodoh dengan menanti yang jelas-jelas telah nyaman dengan yang baru, yang tidak mungkin disuruh kembali. Berhentilah, hatimu telah lelah. Bukan cuma mata yang butuh memejam, hati pun butuh diredam.

Hanya pesta kecil untuk luka

u mengadakan pesta kecil untuk menyambut tibanya luka. Dengan hidangan istimewa berupa secangkir janji dan kudapan cinta yang telah basi. Dan kamu menjadi temanya. Terlalu mencolok di antara luka-luka yang lain. Dengan menyerahkan sebuah bingkisan yang kukira berisi cinta, tapi ternyata kosong dalamnya. Pesta ini kukhususkan untuk luka sebagai penyambutan kau yang tiba. Di ujung perkataan manis, namun setelah ditelan ternyata pahit. Nikmatilah semua yang kusuguhkan ini. Dan kamu menjadi tema dari semuanya. Janji yang berlabuh di bibir saja, dan jemari yang menaut kosong di sela-sela luka. Ini hanya pesta kecil untuk luka yang baru kau bawa. By : Erka Ray #Sajak

MENUNGGU LAMA

Aku memasang status cemas di laman sosmed-ku Mengintip di jendela akun-mu Dan jemari gemetar menggeser beranda-mu Menemukan fotomu di tumpukan tag temanmu Aku mondar-mandir di layar messenger-ku Hanya untuk mengirimkan bingkisan pesan rindu Namun tak jadi-jadi jua Sebab kuhapus sebelum menekan panah warna biru muda Aku sumringah dengan disapa rentetan chat-mu Yang mengambang di sisi kanan layar pipih itu Kau bilang, kau rindu Jelas aku tak percaya dustamu Kau yang membuatku menunggu lama Di pesan-pesan yang di-read saja Mana mungkin aku dengan mudah menelan rekayasa Catatan, 17 November 2020

RAKUS

 Berjalan di terangnya kenyataan Dasi-dasi tersampir rapi di jabatan Muka-muka terpampang penuh keyakinan Janji-janji diumbar menyakinkan Raga mulai duduk di kursi-kursi  Beban mulai diletakkan pada bahu kanan kiri Menjalani kewajiban yang tengah dikasihi Mulai menaruh pasti pada yang menanti Tangan-tangan seakan diulurkan Namun nyatanya penuh kepalsuan Senyum seakan pasti menghangatkan Namun diam-diam menikam dari belakang Dia merayap di tengah keramaian Bersembunyi dari tanya-tanya yang mulai mencurigakan Mengelak semua tuduhan Dia yang seharusnya menjadi panutan, Sekarang menjadi tikus menjijikkan Percuma janji-janji masa depan Yang diucap seakan penuh kepastian Dia rakus melahap milik bawahan Mulut dusta, ia jadikan jalan menuju kemenangan Untuk akhir yang bersimbah penyesalan Catatan, 11 November 2020 -Erka Ray

MALAM TEMARAM BERSAMA LUKA

Dari malam yang hanya membisu Merajut cemburu yang merindu cumbu Dipetiklah bintang satu persatu Membuat langit kosong dicekik sendu Angin dingin yang menyelingsing di lapisan kalbu Sampai pada dasar perih yang kau hantar tempo lalu Menyergapku didekapanmu yang dihangatkan rindu Malam temaram sendiri di sana Rindu bersedih saat mengelilingi rasa Yang tak kunjung berlabuh jua Malam temaram memaksa tawa dicampur nista Berbahagialah engkau yang tiba Sekedar untuk menyapa saja Memberi secangkir ceria Yang berampaskan duka Air mata hanya menumpang lewat untuk dihapus jejaknya Sama pula seperti bintang-bintang yang dipaksa turun dari tahtanya. Malam temaram bersama luka catatan, 25 Oktober 2020 -Erka Ray

AGUSTUS

Agustus, Di tanganmu kutitip alur ceritaku Memohon agar kau sudi menulisnya untukku Agustus, Di jejakmu Kutitip sejuta campuran rasa yang tak mampu kubawa pergi dengan jejak ku Di jejakmu, Aku jua akan menitip tumpukan rindu yang tak kunjung sampai pada yang kutuju Agustus, Di punggungmu aku titip beban pilu Tak mampu aku untuk menahannya lebih lama dari itu Agustus, Di matamu aku titip air mataku yang terkumpul di bulan lalu Berharap kau mampu menghapusnya untukku Berharap kau dengan ringan mengganti alasan turunnya air mataku Agustus, Padamu kutitip keluh-kesah bulan lalu Kutitip degup jantung yang tak menentu Kutitip penglihatanku dari melihat ia yang telah tak bersamaku Kutitip semua kenyataan yang seakan membunuhku Agustus, Di bulan lalu aku menanti akan ketibaanmu Maka jangan kau hidangkan aku kecewa dengan kehadiranmu Maka jangan buat aku remuk di waktu yang sebentar itu Agustus, Di saat kau mulai menyapaku Di situlah ia juga beranjak pergi dariku Di situlah ia tanpa sudi meliha...