Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

PUISI "SEMAMPUKU" Oleh ; Erka Ray

Jika esok lusa riuh angin yang berisik tiba-tiba terdiam maka aku akan tetap dengan pijakanku meski mengusir dengan semampunya maka biarkan aku sendiri semampuku Meski kini kau samar-samar berpamitan aku malah terang-terangan mengibarkan penantian tidak peduli berapa kali otakku berkata bodoh tapi telingaku memilih tuli Aku memang tak pandai menjadi ranting tak mampu menjadi tulang tapi aku masih bisa menjadi payung saat hujan melindungi dari air yang berusaha egois menyentuhmu Catatan, 27 Agustus 2021

PUISI "CERITA SUBUH" Oleh ; Erka Ray

Di selimut subuh tadi aku merangkul kita dalam biasan jingga disebut fajar karena dia berpijar terus melindas semua rasa yang aku kaitkan di pinggir jalan Subuh tadi aku mengantarmu berpulang kamu hilang di keramaian tubuh-tubuh penuh ambisi kamu lalu terselip di kaca-kaca kinclong yang tak ada di rumahku Subuh tadi adalah tempat pagi datang bergandengan dengan senang menitip embun pada daun katanya ; jaga dia dengan sepenuhnya Subuh ini, aku sadar kita bukan lagi malam yang sempurna dengan bulannya dan di pembuka pagi, cerita kita sudah tak bermasa Catatan, 20 Agustus 2021 erka.ray12

PUISI "JANGAN DIGANGGU" Oleh ; Erka Ray

Siangku tidur nyenyak tolong jangan ada yang mengganggu dia terlalu bahagia meski tak benar-benar tahu alasannya Dan malamku terjaga tolong jangan membuatnya terlelap dia sedang sibuk bertengkar dengan kegelapannya sendiri biarkan dia yang memutuskan berhenti Siang dan malamku terlalu sibuk meski hanya untuk bertanya kabarku karena baginya itu adalah hal yang tak perlu Ketenangan hariku jangan diganggu Catatan, 18 Juli 2021

PUISI "KATA MALAM" Oleh ; Erka Ray

Aku hanya menjadi pemahat malam ini dari gelap yang kau bubuhi sakit saat mulut terus mengucap sumpah serapah pahit Kata malam, dia minta maaf pada sampai yang tak kunjung usai yang terus meminta dilerai tapi sulit saat mau dituai Malam bermuram saat kutadah tanganku yang awalnya tergenggam katanya aku terlalu palsu mengulur alur yang terus mundur Siapkah malam menjadi pincang karenaku saat cahayanya tanggal satu persatu kata malam, dia tak mau berkorban karenaku Catatan, 17 Juli 2021

SENANDIKA "MASA LALU" Oleh ; Erka Ray

"Ada yang perlu diubah dari diri kita. Dan semuanya harus berawal dari niat kita. Karena niat ibarat fondasi dari sebuah bangunan. Jika fondasinya kokoh, maka bangunannya juga akan kokoh. Tidak akan goyang oleh bising- bising apapun." -----*****----- MASA LALU  Dalam sebuah catatan usang. Aku pernah menulis namamu begitu tebal di sana. Agar untuk menghapusnya menjadi susah. Semua berawal dari tiga huruf yaitu, "Hai" hingga menjadi asal muasal ketimpangan ini. Dari balasan-balasan pendek yang kemudian memanjang. Salahku yang dengan mudah mengikat semuanya pada satu tiang, yang aku kira akan begitu kokoh, yang aku kira akan juga mengikatku dan tak mau melepaskanku.  Entah aku yang salah mengeja kata demi kata, atau kamu yang terlalu banyak mempermainkan kata-kata. Aku kan jadi salah baca. Yang aku kira cinta, ternyata hanya makanan sisa yang tidak enak rasanya. Salahku juga yang terburu-buru menyilahkan tamu baru masuk ke rumahku. Dan dengan bodohnya mengatakan, ...

PUISI "KONSPIRASI SEHARI-HARI" Oleh ; Erka Ray

Kata-kata dipotong tidak rata  Padahal banyak yang berdiri di atas nestapa  Dari jalan yang meminta rata Atau yang meminta rata tapi hanya luarnya saja  Padahal senja semakin dipangkas  Tapi kertas-kertas berwarna terus masuk ke kantong tipis yang seolah bersahaja Kamu yang mengumbar janji di depan kamera Dengan bukti yang tak ada Dari kolong meja  Kamu menyelundup dan duduk tegap Berdasi marga, berjas dusta Menjilat jejak sendiri Tapi kami yang ternistai Dan hari ini, konspirasi menjadi hidangan sehari-hari Perkataan digulung seakan roti Lalu dimakan sendiri  Dan kami mendapat remahannya di sini  Kami mati dicekik dasi-dasi terikat rapi  Kami sesak menghirup ketimpangan kanan kiri  Puisi hanya remah yang berujung sampah  Tapi sampah menipu dan dipajang di gedung megah  Kami yang di bawah hanya bisa resah Suara hanya bisa hilang Dan kami akhirnya malang