Langsung ke konten utama

Postingan

CERPEN "HUJAN DI EMPERAN TOKO (1)", Oleh: Erka Ray

Bagian 1 Sebenarnya tidaklah sulit hari ini. Hari berjalan dengan semestinya dan sewajarnya. Hanya saja langit di atas sana mendung, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Orang-orang di jalanan langsung berteduh ke emperan toko atau kemanapun yang membuatnya tak terkena tempias hujan. Aku mengusap wajah yang terkena hujan. Tadi saat hujan turun dengan tiba-tiba, aku langsung berlari terbirit-birit mencari tempat berteduh di emperan toko yang atap depannya lumayan panjang. Di sampingku ada Ibu-ibu yang sedang berteduh sambih menjinjing tas belanjaannya. Sepertinya baru dari pasar. Aku menatap hujan. Sekeliap kenangan tentangnya tiba-tiba hadir. Dulu kami bertemu saat hujan. Dia dan aku sama-sama terbirit-birit mencari tempat teduh. Kami sebenarnya hanya dua orang yang awalnya tidak saling kenal. Hingga akhirnya dia menyapa, "Mbak. Roknya kotor." Begitu katanya sambil menunjuk rok panjangku yang berwarna putih dan sudah kotor bagian bawahnya. Aku hanya mengangguk. Kam...

CERPEN "ATAS KERTAS", Oleh: Erka Ray

"Ayo, Adan. Makan buburnya, Nak."  Teriakan Mama Nur terdengar nyaring dari luar kamar Adan. "Sudah dimakan tidak?" ucapnya saat baru membuka pintu kamar Adan. Dengan senyum datarnya Adan menunjukkan mangkuk buburnya yang sudah kosong.  "Bagus, begitu dong dimakan sampai habis." Mama Nur tertawa puas.  "Setelah ini istirahat ya, Nak," lanjutnya sambil mengambil mangkuk dari tangan Adan. "Adan. Kamu di mana, Nak." Hari berikutnya, Mama Nur kalang kabut mencari Adan. Pasalnya, Adan tidak ada di kamarnya.  "Adan. Adan ...."  Baru saja kepala Mama Nur muncul di halaman belakang, Adan sudah tersenyum lebar di sana. Duduk santai sambil menikmati matahari pagi. "Kenapa Mama teriak-teriak?" "Kamu tuh yang kenapa? Kan sudah Mama bilang kalau mau kemana-mana bilang Mama, supaya Mama tidak khawatir, Dan."  Mama Nur mengusap kepala anak semata wayangnya yang sudah botak itu.  Bagaimana tidak khawatir, anakn...

PUISI "ENGKAU AKHIRNYA - AKU DAN TUHAN INGIN MENJADI TEMANMU", Oleh: Erka Ray

ENGKAU AKHIRNYA Jika tawamu hanya mampu sepersekian senti Bersaing di antara bunyi nyaring kenalpot bus Kernet yang asing dengan penumpangnya Supir yang tak kenal pada barang-barang titipan di bagasinya Senyum samar bingkai wajah tenang  Aku lumpuh menghamba di dekat pipimu yang masih gak terjamah Waktu akhirnya menjadi penjawab Ragu yang semula kusebut engkau adalah pelaku utama Menjadi tokoh utama pada akhir malam yang telah larut "Tidur," kata malam yang sedang kutembus nyawanya kala di belakangmu Hanya aku yang sedari pagi terdiam di terminal  Dengan aspal basah bekas tangis langit yang ingin kamu bersembah berserah lama  Dan aku yang menjadi makmum yang menggempur dengan amin fasih  Hingga suatu ketika  Aku tak segan menyebutmu di beberapa kecap lidah yang sibuk berkata melebihi pemateri sebuah acara Menjadi paling sering menduga-duga apa aku hamba yang telah bersujud karena senyummu kala itu  Pamekasan, 28 November 2023 *** AKU DAN TUHAN INGIN MENJADI...

PUISI "APA SUDAH DEMIKIAN BUNGAKU - DAN 3 PUISI LAINNYA ...", Oleh: Erka Ray

APA SUDAH DEMIKIAN BUNGAKU Bagaimana dengan bunga yang aku tanam di halaman rumah Apakah sempat kelopaknya menyapa pipimu Atau hanya sekedar lewat warnanya sebagai pengganti lipstik Mengelus rambutmu yang tak hitam pekat Dan mengucap salam dirinya di tanganmu Apa kabar jika demikian Apa bungaku cukup angkuh badannya menyambutmu Mengucapkan kalau dia bukan raja Tapi bunganya mengakar di singgasana Apa bunga di halamanku sekarang bisa menyaringmu  Tidak ingin kamu yang menjadi ucapan masif di keluarkan mulut  Bungaku di halaman meminta kasih  Setelah sebulan tanpa hujan Bungaku meminta rindu  Setelah semalam tanpa pelukan  Bungaku merintih sakit  Ucapanku membuatnya tersingkirkan Pamekasan, 09 November 2023 *** KEHIDUPAN Lincah burung mematuk padi  Si pemilih tunggang langgang menyuruh pergi Sibuk mengoceh ibu di pagi hari Mengitari halaman Anak siapa bisa makan Rumput sebetis diarit bapak tua  Halaman hijau dikotori masa Hanya berbekas jendela ruma...

PUISI "AKU MENCARI TUBUH-MU - MENJADI AKU SAJA", Oleh: Erka Ray

AKU MENCARI TUBUH-MU Bahkan saat orang-orang tertidur dengan selimutnya,  Aku masih mencari tubuh-Mu Tuhan  Bisakah kudapatkan Engkau pada lampu kamar yang kunyalakan tadi,  Atau tangan-Mu justru ada di kotak-kotak tissue yang kucari dengan tertatih karena takut salah mengambil.  Bahkan saat orang-orang terlelap cukup lama  Mereka asik merangkai mimpi Begitupun aku, Aku asik merangkai amin di warna putih mukenahku Berharap kepalaku ikut dielus oleh-Mu Jika tubuh-Mu tak kudapatkan di balik sajadah Mungkin bisa kutemui Engkau pada balik pipi basahku yang sedang ikut mengaminkan permintaan  Apa aku harus ikut tertidur untuk mencari tubuh-Mu Jika iya, Aku harus bersedia menggelar tikar menunggumu di tepi bibi Yang tengah rami merangkai alur  Untuk kemudian dan sekian  Pamekasan, 06 November 2023 *** MENJADI AKU SAJA Mari jadi aku Kuperlihatkan saat tanganku menempel di belakang punggungmu Lidah menjilati liur sendiri Membawa wadah dari tangan belakang...

PUISI "JIKA AKU TERLUKA", Oleh: Erka Ray

Jika sakit, mungkinkah aku terluka dibalik lidah  Dibalik kalimat pembenaran Padahal aku adalah makhluk Tuhan yang ada di bawah kakimu Menangis sampai dalam pipi menyumbang tampungan perih Jika sakit tanganku, Kakimu menginjaknya sendiri Tanpa ampun memperkenalkan sakit  Tanpa jeda memberikan istirahat Sampai penghambaan datang dariku Aku meminta tangan ditepuk Pun, kepalaku dielus Pada akhirnya Luka melata di pipiku kanan kiri Meminta maaf, Merangkai perkataan tulus di telinga Jika kusam ucapanku, Selamatkan dirimu dari kotor akibatku Jika berdarah aku, Selamatkan dirimu dari dilukai olehku Pamekasan, 06 November 2023

HUMOR "MA, MINTA ADEK", Oleh: Erka Ray

Di pagi yang cerah, terjadi obrolan seru dari keluarga kecil di meja makan. Disana ada sepasang suami istri dan dua anaknya laki laki dan perempuan yang masih berumur 6 tahun dan si kaka 8 tahun di sela sela sarapan salah satu dari anak mereka memulai obrolan dengan mengajukan permintaan. "Ma, mama dulu yang buat adek gimana sih ma?" tanya si Kakak yang merupakan anak pertama. "Kenapa Kakak nanya kaya gitu," kata si Mama sembari tesenyum menahan tawa. "Kakak pengen adek lagi." "Pengen adek lagi gimana, Kak?" Si mama mulai kebingungan. "Ya pengen adek lagi, Ma. Adek bayi." Matanya mengerjab-ngerjab menunjukkan muka polosnya. "Itu kan masih ada adeknya, Kak." "Iya, Kak. Itu adeknya masih ada, masih lucu juga." Si papa ikut nyeletuk. "Tapi kakak pengen yang masih bayi, Pa, Ma. Iyakan dek?" Si kakak melirik adeknya, meminta dukungan. "Iya, Pa. Adek juga pengen adek baru yang masih bayi."  "Kalia...