Langsung ke konten utama

PUISI "AKU MENCARI TUBUH-MU - MENJADI AKU SAJA", Oleh: Erka Ray

AKU MENCARI TUBUH-MU

Bahkan saat orang-orang tertidur dengan selimutnya, 
Aku masih mencari tubuh-Mu Tuhan 
Bisakah kudapatkan Engkau pada lampu kamar yang kunyalakan tadi, 
Atau tangan-Mu justru ada di kotak-kotak tissue yang kucari dengan tertatih karena takut salah mengambil. 

Bahkan saat orang-orang terlelap cukup lama 
Mereka asik merangkai mimpi
Begitupun aku,
Aku asik merangkai amin di warna putih mukenahku
Berharap kepalaku ikut dielus oleh-Mu

Jika tubuh-Mu tak kudapatkan di balik sajadah
Mungkin bisa kutemui Engkau pada balik pipi basahku yang sedang ikut mengaminkan permintaan 
Apa aku harus ikut tertidur untuk mencari tubuh-Mu
Jika iya,
Aku harus bersedia menggelar tikar menunggumu di tepi bibi
Yang tengah rami merangkai alur 
Untuk kemudian dan sekian 


Pamekasan, 06 November 2023


***

MENJADI AKU SAJA

Mari jadi aku
Kuperlihatkan saat tanganku menempel di belakang punggungmu
Lidah menjilati liur sendiri
Membawa wadah dari tangan belakang

Mari jadilah aku
Saat aku kebingungan menentukan tangan kanan dan tangan kirimu
Aku yang memotong lidah 
Menyajikan untuk santapan siang
Tangis-tangis yang tak pamit untuk menetes

Mari aku tunjukkan aku 
Yang malam-malam menurunkan ego
Mata yang tak kunjung bersalaman dengan pikiran untuk bersama-sama istitahat
Tangan yang menjadi pekerja kasar
Menghapus pipi 

Apa kau ingin menjadi aku
Saa punggungmu kotor
Bajuku dibuka untuk membersihkan
Saat kakimu kotor, begitu juga tangan dan mukamu yang kusam

Jadi aku saja jika demikian 
Kuperlihatkan muka-muka yang tak kunjung bersepakat dengan hati
Acuh luar 
Memeluk duri saat tidur


Pamekasan, 07 November 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

PUISI "MURAHAN - CERITA PUTRI RAJA - YANG TAK BERTAPAK - KEHILANGAN", Oleh: Erka Ray

MURAHAN  Si murah sedang menulis kisah-kisah baru di buku yang menguning Si murah sedang menyatakan dengan lantang soal dirinya yang murahan Si murah tak bermoral menjilat sepatu sendiri yang kotor di depan halayak Si murah baru saja menghapus air mata sendiri Apakah si murah sudah tak layak menempatkan harga tinggi?  Semisal setara semangkuk mie yang mengepul asap baru dimasak Sumenep, 30 Januari 2023 CERITA PUTRI RAJA Aku pintar berbual Jika aku adalah seorang putri raja Gaunku indah sekali  Kalau disuruh ketika mungkin aku akan lepaskannya  Berbaring sendirian dalam pengaduan Aku tak tahu, aku putri yang seperti apa Aku pandai membuat cerita  Biar kukisahkan lagi soal tahtaku yang tinggi Saat menoleh aku telah terlampau jauh dari kalian Akulah putri raja yang tiaranya berdarah Nyawaku tersangkut di sana Suatu ketika di ceritaku Aku meninggal memeluk kain-kain lusuh Agaknya aku baru saja menulis Akulah yang akhirnya membuat cerita diriku yang mati  Malang...

CERMIN - "KISAH MAS BULAN", Oleh: Erka Ray

"Seperti Anjani yang kehilangan Mas Laut dalam tragedi demo tahun 1998 dalam novel 'Laut Bercerita', semoga Mas Bulan tidak pernah kehilangan siapapun dan apapun. Itu doaku. Doa sepintas saat kita bertemu." Aku tidak tahu siapa nama Mas Bulan, tapi karena wajahmu teduh layaknya bulan saat ditatap, maka aku menamaimu 'Mas Bulan'. Laki-laki pertama yang kutemui di bus, yang tidak basa-basi menyapa perempuan yang duduk di sebelahnya. Kau tak menyapaku sama sekali, Mas. Tak seperti laki-laki lain. Mereka para lelaki baik tua atau muda masih sering basa-basi menyapaku di dalam bus dengan berbagai perangai modusnya. Aku tak suka laki-laki atau siapapun yang mengajakku berbicara saat di bus. Aku mual, Mas. Aku sakit kepala, ngantuk bukan kepalang. Dan mereka masih basa-basi menyapaku, menggangguku yang hanya ingin menatap pemandangan dari kaca bus. Padahal aku sama sekali tidak terbesit untuk basa-basi mengajak berbicara siapapun di dalam bus. Kecuali, or...