Langsung ke konten utama

PUISI "APA SUDAH DEMIKIAN BUNGAKU - DAN 3 PUISI LAINNYA ...", Oleh: Erka Ray

APA SUDAH DEMIKIAN BUNGAKU

Bagaimana dengan bunga yang aku tanam di halaman rumah
Apakah sempat kelopaknya menyapa pipimu
Atau hanya sekedar lewat warnanya sebagai pengganti lipstik
Mengelus rambutmu yang tak hitam pekat
Dan mengucap salam dirinya di tanganmu

Apa kabar jika demikian
Apa bungaku cukup angkuh badannya menyambutmu
Mengucapkan kalau dia bukan raja
Tapi bunganya mengakar di singgasana
Apa bunga di halamanku sekarang bisa menyaringmu 
Tidak ingin kamu yang menjadi ucapan masif di keluarkan mulut 

Bungaku di halaman meminta kasih 
Setelah sebulan tanpa hujan
Bungaku meminta rindu 
Setelah semalam tanpa pelukan 
Bungaku merintih sakit 
Ucapanku membuatnya tersingkirkan


Pamekasan, 09 November 2023

***

KEHIDUPAN

Lincah burung mematuk padi 
Si pemilih tunggang langgang menyuruh pergi
Sibuk mengoceh ibu di pagi hari
Mengitari halaman
Anak siapa bisa makan
Rumput sebetis diarit bapak tua 
Halaman hijau dikotori masa
Hanya berbekas jendela rumah dibuka
Pagi menjelang siang orang mengaduh panasnya

Pagi datang dari timur 
Meski hanya filosofi
Menggoes sepeda di tanah berdebu 
Mata mengerjab-ngerjab,
Pulanglah pagi ini sayang,
Cucian piring menunggu di dapur tuan

Sejenak istirahatlah
Tuan mengusir burung di ladang orang
Berbaik hati meksi jam istirahat siang 
Meneriaki si ibu agar anak pulang bermain
Hitam kulitmu, Nak
Ibumu mengomeli sambil memberi nasi

Hingga sore tetep pagi dipatuk burung 
Kepalamu yang aduhai mengenang
Hingga tutup usia si senja di bawah kaki menuju surau
Panggilan Tuhan menyejukkan hati tiap orang

Pamekasan, 09 November 2023

***

KAU HARUS TAHU NAMAKU SEBAGAI APA 

Ada nama di kertasku
Kenapa aku dilarang menulisnya lebih terang
Ada impian di penanya
Kenapa aku tidak boleh memegangnya
Ada segenggam kebanggaan jika aku datang
Kenapa aku disuruh mundur 
Ada sedikit senyum jika aku maju 
Percaya diriku bertambah
Kenapa aku tidak boleh menjemputnya
Sekali,
Mungkin dua kali,
Dulu pun demikian
Aku dipandang ada apanya
Aku dipandang tidak ada apa-apanya
Aku yang kau kira tidak tahu apa-apa

Lihat kertasnya
Namaku yang diberikan olehmu dulu tertera di sana 
Bisa aku ke sana
Sedikit ingin kujelaskan,
Itu membanggakan
Bukan hal remeh saat dipandang
Aku ingin menjemput namaku,
Kau harus tahu itu,
Akan kuperlihatkan
Dia anggun saat ditulis seseorang sebagai apresiasi terhadapku

Katamu tidak usah,
Aku di belakangmu saja
Begitu kiranya kau gambarkan aku


Pamekasan, 09 November 2023

***

PATAH SEBELUM MAJU

Aku terluka
Aku patah 
Aku tak tahu maksudnya
Aku sebelum maju
Aku yang mundur
Pegang bahu,
Mari, aku patah kesekian
Tersandung diri
Tubuh sendiri

Patah seribu tulang
Serentak di tanganmu
Aku di sana 
Telah berhamburan tangis di jariku yang terluka
Aku ingin 
Aku menginginkan
Aku patah sebelum maju


Pamekasan, 09 November 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

NOVELETTE - "KEPAL TANGAN", Oleh; Erka Ray

Pagi hari, kehidupan mulai menggeliat di sebuah pedesaan. Satu dua jendela rumah mulai dibuka oleh pemiliknya. Ayam tak berhenti berkokok sahut-sahutan dengan suara kicau burung di atas sana. Dari arah timur mentari mulai muncul. Cahayanya menyirami persawahan dengan padi yang mulai membungkuk memasuki usia panen, menyapa ladang penduduk dengan beranekaragam tanaman. Embun di rumput-rumput sebetis mulai menggelayut, diinjak oleh orang-orang yang mulai pergi ke ladang pagi ini. Menjemur punggung dibawah terik matahari sampai siang bahkan ada yang sampai sore hari.  Terdengar suara ibu-ibu memanggil seorang tukang sayur. Teriakan ibu-ibu memanggil anak-anak yang bandel susah disuruh mandi untuk berangkat sekolah. Teriakan ibu-ibu yang meminjam bumbu pada tetangganya. Kehidupan di desa ini sudah mulai menggeliat sejak subuh dengan suara air yang ramai di kamar mandi. Suara adzan yang nyaring sekali, terdengar kesemua penjuru.  Anak-anak berseragam dengan tas besar ter...

PUISI "SAJAK TOPLES KOSONG", Oleh: Erka Ray

Aku toples yang diambil pagi-pagi dalam lemari  Kemana aku dibawa Meja yang habis dilap itulah tempatku berada Aku toples yang dibuka dengan gembira  Tangan tuan rumah, tangan tamu-tamu menjamah isi dalamku Aku ditawarkan, "Mari makan" "Mari dicicipi" Aku toples yang gembira di hari raya Itu aku, Itu aku yang dulu Kemana aku hari ini? Aku adalah toples yang membisu di dalam lemari  Badanku kosong Tangan-tangan tua dan muda tak menjamahku Tuan rumah acuh kiranya, Kemana uangnya untuk membeli isi yang biasanya diletakkan pada tubuhku  Pun rumah ini sepi  Tuan rumah seperti mati di hari raya Di mana aku? Aku ada dalam lemari saat hari raya Aku tak diambil pagi-pagi untuk diletakkan di atas meja ruang tamu Tuanku tengah miskin  Tuanku tak ada uangnya Tuanku membuatku tak lagi diperlihatkan pada tamu-tamunya  Dan tuanku rumahnya tak bertamu Sumenep, 11 April 2024