Langsung ke konten utama

CERPEN "HUJAN DI EMPERAN TOKO (1)", Oleh: Erka Ray

Bagian 1

Sebenarnya tidaklah sulit hari ini. Hari berjalan dengan semestinya dan sewajarnya. Hanya saja langit di atas sana mendung, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Orang-orang di jalanan langsung berteduh ke emperan toko atau kemanapun yang membuatnya tak terkena tempias hujan.

Aku mengusap wajah yang terkena hujan. Tadi saat hujan turun dengan tiba-tiba, aku langsung berlari terbirit-birit mencari tempat berteduh di emperan toko yang atap depannya lumayan panjang. Di sampingku ada Ibu-ibu yang sedang berteduh sambih menjinjing tas belanjaannya. Sepertinya baru dari pasar.

Aku menatap hujan. Sekeliap kenangan tentangnya tiba-tiba hadir. Dulu kami bertemu saat hujan. Dia dan aku sama-sama terbirit-birit mencari tempat teduh. Kami sebenarnya hanya dua orang yang awalnya tidak saling kenal. Hingga akhirnya dia menyapa,

"Mbak. Roknya kotor." Begitu katanya sambil menunjuk rok panjangku yang berwarna putih dan sudah kotor bagian bawahnya. Aku hanya mengangguk. Kami adalah orang yang tidak saling kenal waktu itu.

Karena hujan tidak kunjung reda, dan masih saja deras beserta angin kencangnya. Laki-laki itu menyapa lagi.

"Hujannya gak reda ya."

Aku hanya menimpali seadanya. Dari situ kami mulai bercerita untuk menghilangkan jenuh karena menunggu hujan.

Dia bilang dia sedang mencari pekerjaan. Sudah ada beberapa instansi yang dia datangi semuanya menolak. Sudah dua hari terakhir dia ke sana kemari. Sedangkan aku, aku baru saja datang dari kampus lalu mampir ke toko buku. Berjalan kaki hendak menyetop Bus, tiba-tiba hujan.

Kami dipertemukan saat hujan.

Kami terus berbicara. Seru rupanya berbagi pengalaman seperti ini. Hal-hal random terus dibicarakan. Sampai kenapa katak selalu ramai bersuara saat hujan, kami bicarakan di situ.

Sayangnya kisah ini berakhir waktu itu. Hujan berhenti dan kami sama-sama berpamitan untuk pulang.

"Semoga bertemu lagi ya," katanya sambil melambaikan tangan. 

Di emperan toko itu kami berpisah.

***

Dan saat ini, aku sedang berdiri di emperan toko yang sama dengan waktu itu bertemu dengannya. Tiba-tiba teringat saat kami berlari-lari mencari tempat teduh, lalu tidak sengaja akrab di tengah hujan.

Sebenarnya kisah ini tidak ada spesialnya sama sekali. Aku hanya ingin mengenangnya. Entah siapa dia. Yang aku tahu, namanya Rayhan. Dan namaku Rayana. Sedikit mirip. Tapi tidak ada kata spesial di dalamnya.

Cukup lama hujan ini turun, hingga akhirnya berhenti berhenti juga. Aku harus segera pergi dari emperan toko ini.



Diselesaikan di Pamekasan, 11 Februari 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

NOVELETTE - "KEPAL TANGAN", Oleh; Erka Ray

Pagi hari, kehidupan mulai menggeliat di sebuah pedesaan. Satu dua jendela rumah mulai dibuka oleh pemiliknya. Ayam tak berhenti berkokok sahut-sahutan dengan suara kicau burung di atas sana. Dari arah timur mentari mulai muncul. Cahayanya menyirami persawahan dengan padi yang mulai membungkuk memasuki usia panen, menyapa ladang penduduk dengan beranekaragam tanaman. Embun di rumput-rumput sebetis mulai menggelayut, diinjak oleh orang-orang yang mulai pergi ke ladang pagi ini. Menjemur punggung dibawah terik matahari sampai siang bahkan ada yang sampai sore hari.  Terdengar suara ibu-ibu memanggil seorang tukang sayur. Teriakan ibu-ibu memanggil anak-anak yang bandel susah disuruh mandi untuk berangkat sekolah. Teriakan ibu-ibu yang meminjam bumbu pada tetangganya. Kehidupan di desa ini sudah mulai menggeliat sejak subuh dengan suara air yang ramai di kamar mandi. Suara adzan yang nyaring sekali, terdengar kesemua penjuru.  Anak-anak berseragam dengan tas besar ter...

PUISI "SAJAK TOPLES KOSONG", Oleh: Erka Ray

Aku toples yang diambil pagi-pagi dalam lemari  Kemana aku dibawa Meja yang habis dilap itulah tempatku berada Aku toples yang dibuka dengan gembira  Tangan tuan rumah, tangan tamu-tamu menjamah isi dalamku Aku ditawarkan, "Mari makan" "Mari dicicipi" Aku toples yang gembira di hari raya Itu aku, Itu aku yang dulu Kemana aku hari ini? Aku adalah toples yang membisu di dalam lemari  Badanku kosong Tangan-tangan tua dan muda tak menjamahku Tuan rumah acuh kiranya, Kemana uangnya untuk membeli isi yang biasanya diletakkan pada tubuhku  Pun rumah ini sepi  Tuan rumah seperti mati di hari raya Di mana aku? Aku ada dalam lemari saat hari raya Aku tak diambil pagi-pagi untuk diletakkan di atas meja ruang tamu Tuanku tengah miskin  Tuanku tak ada uangnya Tuanku membuatku tak lagi diperlihatkan pada tamu-tamunya  Dan tuanku rumahnya tak bertamu Sumenep, 11 April 2024