"Ayo, Adan. Makan buburnya, Nak."
Teriakan Mama Nur terdengar nyaring dari luar kamar Adan.
"Sudah dimakan tidak?" ucapnya saat baru membuka pintu kamar Adan. Dengan senyum datarnya Adan menunjukkan mangkuk buburnya yang sudah kosong.
"Bagus, begitu dong dimakan sampai habis." Mama Nur tertawa puas.
"Setelah ini istirahat ya, Nak," lanjutnya sambil mengambil mangkuk dari tangan Adan.
"Adan. Kamu di mana, Nak." Hari berikutnya, Mama Nur kalang kabut mencari Adan. Pasalnya, Adan tidak ada di kamarnya.
"Adan. Adan ...."
Baru saja kepala Mama Nur muncul di halaman belakang, Adan sudah tersenyum lebar di sana. Duduk santai sambil menikmati matahari pagi.
"Kenapa Mama teriak-teriak?"
"Kamu tuh yang kenapa? Kan sudah Mama bilang kalau mau kemana-mana bilang Mama, supaya Mama tidak khawatir, Dan."
Mama Nur mengusap kepala anak semata wayangnya yang sudah botak itu.
Bagaimana tidak khawatir, anaknya yang bernama Adan sedang sakit parah. Kanker paru-paru. Kebiasaan merokoknya yang sejak duduk di bangku SMP membuatnya mengidap penyakit kanker paru-paru. Sudah diobati kebanyak rumah sakit. Enam bulan terakhir Adan menjalani kemoterapi untuk mengobati penyakitnya. Entahlah, apa kemajuannya. Mama Nur hanya terus memberikan dukungan positif untuk anaknya.
****
"Kamu tidak ingin tidur, Dan? Sudah malam. Lanjut besok lagi tugasnya."
"Jangan membantah, Adan." Mama Nur melotot. Adan bebal sekali untuk disuruh istirahat. Meski sakit dia sibuk mengerjakan tugas skripsinya. Adan adalah mahasiswa hukum semester akhir yang sedang menyelesaikan tugas skripsinya.
"Doakan Adan, Ma. Minggu depan Adan akan ujian skripsi."
"Nanti kalau wisuda, Adan mau mama juga memakai baju wisuda Adan setelah Adan nerima ijazah Adan. Pasti Mama cantik. Adan juga udah beli baju untuk keluarga kita saat hadir ke wisuda Adan nanti," ucap Adan.
Mama Nur menjawab dengan anggukan dan mengomel lagi menyuruh Adan tidur.
"Bagaimana apa Adan sudah tidur?" Papa Iman bertanya saat melihat istrinya baru masuk ke dalam kamar.
***
Semua keadaan menjadi genting satu Minggu kemudian. Adan memaksakan diri ikut ujian skripsi gelombang pertama. Mamanya sudah mewanti-wanti jangan. Pasalnya kondisi Adan memprihatinkan sekali. Wajahnya pucat.
"Ayoo Adan semangat." Itu teriakan Rico, Danil, dan Rama. Mereka teman kuliah Adan.
"Akhirnya kita lulus bareng-bareng ya," kata Ira dengan suara cemprengnya.
"Doain aku besok ujian juga temen-temen." Wajah Rico harap-harap cemas meminta doa.
"Yakin sih gak lulus." Yuli asal nyeletuk. Lalu dibalas pukulan kertas oleh Rico.
Adan tertawa belum masuk ruang sidang.
Sayangnya cepat sekali langit berubah. Cerah tidak menjamin satu menit kemudian akan tetap cerah. Mendung pun tidak berjanji satu menit kemudian akan turun hujan. Adan lulus ujian skripsinya. Tapi gawat sekali, dia terjatuh tepat di depan ruang ujian. Tubuhnya sudah sangat payah. Panik orang-orang di sana, Mama Nur berteriak. Siang itu tubuh yang sudah tak sadarkan diri itu dibawa ke rumah sakit.
***
"Aku ingat betul senyumnya saat memasuki ruang sidang, Pa. Aku ingat perkataannya malam itu saat meminta doa akan mengikuti ujian. Aku ingat."
Ingatan Mama Nur masih lengkap soal Adan. Mama Nur menangis histeris di pelukan suaminya. Anak satu-satunya sudah berpulang ke Ilahi Robbi.
Adan menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit setelah dirawat lagi dua bulan. Setelah tak sadarkan diri dari ruang ujian waktu itu, Adan sempat dirawat inap selama dua bulan. Namun, keadaannya sudah sangat payah, kankernya juga semakin parah. Hingga akhirnya, tubuhnya memilih menyerah dengan semua penyakit yang mulai menggerogoti. Tangis terdengar nyaring di dinding rumah sakit waktu itu. Pun saat mendiang Adan dibawa ke rumah, tangis keluarga dan teman masih terus pecah.
"Kan sudah aku bilang, Dan. Kita tuh wisudanya bareng. Biar nanti foto-foto terus bikin konten-konten yang viral saat wisuda itu. Lempar-lemparan toga ke udara. Bahkan Rama sudah siap jadi fotografer kita loh. Kan rencananya jadi berantakan karena kamu mati duluan. Gak asik kamu, Dan." Danil menunduk. Tangisnya tak kuasa lagi ditahan meski hanya mengucapkan beberapa bilah kalimat.
"Kamu gak adil, Dan. Waktu kamu ujian aku datang, waktu aku yang ujian kamu malah di rumah sakit. Seharusnya kamu datang, minimal bawa buket rokok Surya gitu." Rico mengusap air matanya.
Yuli, Rama dan Ira hanya diam membisu.
Sore hari itu, jasad Adan dikebumikan. Lantunan ayat Al Qur'an mengiringi sepanjang tubuh kaku itu ditimbun tanah. Doa-doa lihai berhamburan menyertai. Mama Nur tak bisa disebut tegar, sudah tiga kali pingsan.
"Aku masih ingat saat aku panik mencairnya yang tidak ada di kamar. Aku masih ingat senyum datarnya yang dengan berat hati menghabiskan bubur." Tangis Mama Nur terus pecah. Perih sekali Tuhan.
Mama Nur masih terus menceracau tidak jelas sehabis pemakaman. Kematian Adan membuatnya terpukul.
***
"Ma, kok makanannya gak ada?" Papa Iman tertegun saat membuka tudung saji yang isinya kosong.
"Kenapa?" Papa Iman menyentuh pelan bahu istrinya.
"Ikhlaskan, Ma. Adan sudah tenang di sana. Sudah dua bulan Adan pergi, tinggal bagaimana cara mama kembali melanjutkan hidup lagi, kembali tersenyum seperti yang Adan mau. Adan pasti gak mau lihat mama kayak gini terus." Mata itu saling menatap memberi kekuatan. Mama nur mengangguk atas perkataan suaminya.
Siang harinya, Mama Nur masuk ke kamar Adan. Kakinya berhenti tepat di ujung ranjang. Teringat wajah Adan. Tidak mau berlarut-larut, Mama Nur berlanjut membuka lemari Adan, niat hati ingin membersihkannya. Tidak sengaja matanya menemukan kotak hitam yang di rak lemari bagian bawah. Tangan Mama Nur terjulur mengambilnya, memindahkannya ke atas ranjang.
"Untuk Wisuda." Tertera tulisan itu di atas kotak hitam itu. Tangan Mama Nur terjulur membukanya. Matanya tertegun melihat isi kotak itu. Ada tiga stel baju di dalamnya. Dua stel baju batik untuk laki-laki lengkap dengan celana dan sepatunya. Dan satu stel baju kebaya untuk perempuan lengkap dengan kerudung dan sepatunya.
Mama Nur teringat sesuatu. Perkataan Adan soal baju mereka saat menghadiri acara wisudanya nanti.
"Nak, apa kamu benar-benar menyiapkan semuanya?" Air mata Mama Nur tidak bisa dibendung lagi. Tangisnya pecah.
Ada secarik kertas di bagian bawah baju.
"Adan to the poin aja ya, Ma, Pa. Adan tidak tahu sampai kapan Adan akan tertahan sama penyakit Adan. Yang akan rasakan setiap harinya hanya sakit yang terus menggerogoti Adan. Adan sudah berubah optimis untuk sembuh seperti yang sering Mama katakan pada Adan. Tapi kenyataannya susah Ma dengan keadaan Adan yang semakin menurun tiap harinya. Kemoterapi itu seperti tidak ada hasilnya. Di kotak ini ada baju yang sengaja Adan beli untuk hari wisuda nanti. Dipakai ya. Entah Adan akan ikut memakainya atau tidak, Adan tidak tahu. Tapi, Mama dan Papa harus hadir ke wisuda Adan nanti dengan memakai baju yang Adan beli. Nanti jangan rebutan ya buat pakai toganya Adan kalau semisal Adan tidak bisa memakai toga itu. Terima kasih, Adan akhirnya to the poin-nya."
Demikian isi kertas itu terlampir.
***
Sesuai dengan permintaan Adan, baju itu dipakai oleh Mama Nur dan Papa Iman di hari wisuda Adan.
"Almarhum Adan Safira Putra".
Suara itu nyaring dipanggil di atas podium wisuda. Papa Iman maju untuk mengambil ijazah putranya. Bersalaman dengan rektor kampus Adan. Lalu kembali duduk dengan istrinya di kursi undangan wali murid.
Mama Nur mengambil ijazah tersebut. Mengusap nama anaknya yang tertera di atas kertas ijazah tersebut. Setelah acara wisuda itu selesai Mama Nur dan Papa Iman langsung menuju makam Adan. Sempat berpapasan dengan Rico, Danil, Rama, Ira dan Yuli. Mereka menyalami orang tua Adan satu persatu.
"Lihat, Adan. Mama sama Papa tidak rebutan buat pakai toganya Adan. Papa yang akan pakai duluan." Mama Nur menunjuk papa Iman yang sedang memakai toga dan baju wisuda Adan di depan makan Adan. Mereka tersenyum lebar.
"Nah, sekarang gantian waktunya Mama yang pakai, Dan. Mama kamu terlihat gendut memakai baju wisuda kamu, Dan. Gak ada cantik-cantiknya seperti kata kamu."
Ucapan Papa Iman dibalas pukulan kecil oleh Mama Nur.
"Lihat, Nak. Nama kamu lengkap sekarang. Sudah bertitel." Mama Nur mengusap nama Adan di kertas ijazah itu.
"Indah namamu, Dan." Keduanya kini menundukkan wajah.
Setalah kaki cukup kebas berjongkok, mereka pamit pulang. Hari sudah semakin sore, menunaikan kemauan Adan agar oreng tuanya memakai baju yang telah dia persiapkan untuk hari wisudanya, sudah terwujud. Kaki dua orang yang semakin menua itu mulai menjauh dari area pemakaman.
Diselesaikan di Sumenep, 20 Desember 2023
Komentar
Posting Komentar