Langsung ke konten utama

PUISI "ENGKAU AKHIRNYA - AKU DAN TUHAN INGIN MENJADI TEMANMU", Oleh: Erka Ray

ENGKAU AKHIRNYA

Jika tawamu hanya mampu sepersekian senti
Bersaing di antara bunyi nyaring kenalpot bus
Kernet yang asing dengan penumpangnya
Supir yang tak kenal pada barang-barang titipan di bagasinya
Senyum samar bingkai wajah tenang 
Aku lumpuh menghamba di dekat pipimu yang masih gak terjamah

Waktu akhirnya menjadi penjawab
Ragu yang semula kusebut engkau adalah pelaku utama
Menjadi tokoh utama pada akhir malam yang telah larut
"Tidur," kata malam yang sedang kutembus nyawanya kala di belakangmu

Hanya aku yang sedari pagi terdiam di terminal 
Dengan aspal basah bekas tangis langit yang ingin kamu bersembah berserah lama 
Dan aku yang menjadi makmum yang menggempur dengan amin fasih 

Hingga suatu ketika 
Aku tak segan menyebutmu di beberapa kecap lidah yang sibuk berkata melebihi pemateri sebuah acara
Menjadi paling sering menduga-duga apa aku hamba yang telah bersujud karena senyummu kala itu 


Pamekasan, 28 November 2023

***

AKU DAN TUHAN INGIN MENJADI TEMANMU

Kusebut syukur dengan lama 
Apa aku adalah parasit di mukenah yang tak berhenti dipakai
Hingga suatu ketika
Aku mendekat pada sarungmu yang hendak dipakai bershalat 
Aku membuntuti mimpi di sela tanganmu yang tengah menengadah
Izin, aku sebagai mukenah bermakmum di belakang tubuhmu
Sebab Tuhan, dan aku ingin menjadi temanmu 

Bisa aku ikut 
Aku hanya noda di belakang bajumu yang putih 
Larik coklat yang telah lama tak kau basuh 
Aku hanya sedikit ingin berhasil menjadi corak
Bukan noda tak berbentuk

Sebab pada akhir cerita,
Aku merayu Tuhan dengan fasih 
Dengan lihai menyebut nama dengan maksud dan tujuan
Aku mungkin tak sanggup
Aku mungkin tanah di bawah kakimu yang diinjak 
Bersujud kasih,
Aku berserikat dengan Tuhan untuk menjadi temanmu


Pamekasan, 28 November 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

PUISI "MURAHAN - CERITA PUTRI RAJA - YANG TAK BERTAPAK - KEHILANGAN", Oleh: Erka Ray

MURAHAN  Si murah sedang menulis kisah-kisah baru di buku yang menguning Si murah sedang menyatakan dengan lantang soal dirinya yang murahan Si murah tak bermoral menjilat sepatu sendiri yang kotor di depan halayak Si murah baru saja menghapus air mata sendiri Apakah si murah sudah tak layak menempatkan harga tinggi?  Semisal setara semangkuk mie yang mengepul asap baru dimasak Sumenep, 30 Januari 2023 CERITA PUTRI RAJA Aku pintar berbual Jika aku adalah seorang putri raja Gaunku indah sekali  Kalau disuruh ketika mungkin aku akan lepaskannya  Berbaring sendirian dalam pengaduan Aku tak tahu, aku putri yang seperti apa Aku pandai membuat cerita  Biar kukisahkan lagi soal tahtaku yang tinggi Saat menoleh aku telah terlampau jauh dari kalian Akulah putri raja yang tiaranya berdarah Nyawaku tersangkut di sana Suatu ketika di ceritaku Aku meninggal memeluk kain-kain lusuh Agaknya aku baru saja menulis Akulah yang akhirnya membuat cerita diriku yang mati  Malang...

CERMIN - "KISAH MAS BULAN", Oleh: Erka Ray

"Seperti Anjani yang kehilangan Mas Laut dalam tragedi demo tahun 1998 dalam novel 'Laut Bercerita', semoga Mas Bulan tidak pernah kehilangan siapapun dan apapun. Itu doaku. Doa sepintas saat kita bertemu." Aku tidak tahu siapa nama Mas Bulan, tapi karena wajahmu teduh layaknya bulan saat ditatap, maka aku menamaimu 'Mas Bulan'. Laki-laki pertama yang kutemui di bus, yang tidak basa-basi menyapa perempuan yang duduk di sebelahnya. Kau tak menyapaku sama sekali, Mas. Tak seperti laki-laki lain. Mereka para lelaki baik tua atau muda masih sering basa-basi menyapaku di dalam bus dengan berbagai perangai modusnya. Aku tak suka laki-laki atau siapapun yang mengajakku berbicara saat di bus. Aku mual, Mas. Aku sakit kepala, ngantuk bukan kepalang. Dan mereka masih basa-basi menyapaku, menggangguku yang hanya ingin menatap pemandangan dari kaca bus. Padahal aku sama sekali tidak terbesit untuk basa-basi mengajak berbicara siapapun di dalam bus. Kecuali, or...