Langsung ke konten utama

Postingan

PUISI SEBULAN FEBRUARI 2024, Oleh: Erka Ray

TANPA MATA UANG - PUSAKA Februari 2024 Sebelum kita mengenal adanya mata uang yang kita pakai sekarang Orang-orang zaman dahulu, Sebut mereka dengan zaman Praaksara  ; zaman batu dan logam konon katanya  Tak ada mata uang  Sedang mereka mulai sadar soal status mereka sebagai makhluk hidup sosial Yang saling membutuhkan  Pada zaman itu  Jauh sekali untuk mengenal angka-angka nilai mata uang  Mereka mencari penyelesaian Mulai merapatkan barisan Dari tangan yang satu datang pada tangan yang lain  Hendak menukar apa yang dipunya dengan apa yang dibutuhkan (diinginkan) Mereka jauh dari kata mengenal mata uang  Tak ada lembar-lembar yang sekali tukar bisa mendapat makanan Mereka mulai menukar ; sistem barter namanya Dari laut ditukar ke daerah pengunungan Pun sebaliknya Garam di laut, sayur di pengunungan Ikan di laut, padi disawah Hingga mulailah tradisi itu dijadikan transaksi perdagangan yang sah pada zaman dahulu Sejak saat itu selembar ...

PUISI "PENIPU", Oleh: Erka Ray

Langit mendung,  Apa akan benar-benar turun hujan Bukankah kemarin aku tertipu Langit mendung, Aku melihat ke atas  Aku kira juga akan hujan Dia penipu yang ulung  Memanfaatkan perasaanku Langit cerah Ah, sial! Baju-bajuku malah kehujanan di jemuran Dia menipuku lagi dengan perasaan ; perasaan menunggunya Langit cerah, Ah, bodoh! Aku malah menawarkan kuas untuk melukis pelangi Lupa dengan perasaanku yang telah berantakan  Sumenep, 02 Februari 2024

PUISI "TUHAN BERKATA", Oleh: Erka Ray

Jika Tuhan telah berkata Jangankan langit ingin mendung Cincin emas akan segera berpindah tangan dari tanganmu pada tanganku Jika Tuhan telah berkata Segeralah aku memujamu yang lekuk tubuhnya siap menjadi kepala keluarga Memberikan sekian rupiah  Jika Tuhan berkata Esok mendung hanya sekedar mendung Lebih pekat warna jas yang akan dipakai olehmu Jika Tuhan berkata jangankan abu hendak terbang Sayap-sayap burung segera patah di depan rumahmu Tuhan berkata; Ia adalah yang paling mahir memahat Oleh sebabnya ia memahatku dan kau dalam bingkai kaca Ia yang paling pandai membuat Oleh karena-Nya aku dan kau dibuat Tuhan berkata; Jika datang hari esok  Seperti mendung yang segera pergi Sebab yang mendukung hanya wajah-wajah yang gagal ; Segeralah gelar tikar-tikar paling bagus yang di punya Ada sebongkah berlian dan seperangkat alat shalat serang diletakkan dalam nampan Sumenep, 01 Februari 2024

PUISI "YANG AKAN MERAYAKAN", Oleh: Erka Ray

(picture by: Flores Editorial) *** Ucapkan selamat padaku yang akan merayakan perasaan di tanggal 07 Maret nanti Ucapkan selamat padaku yang sedang menulis puisi ini untuk suatu perayaan Ucapkan selamat padaku yang masih tangguh menyusun abjad dari majas-majas dalam puisi ini Tak ada potongan kue Tak ada tiupan lilin  Ucapkan saja selamat padaku dengan tangan kosong (tanganku dan tanganmu) Ucapkan selamat padaku yang tak bisa menukar perasaan dengan sarkas majas apapun  Peluk aku di ruang 38 pada hari Selasa di jam 10 siang Ucapkan selamat padaku dengan mengusik diriku yang tenang Alih-alih kau membuatku menjerit geli pada hewan yang ditakuti semua perempuan (kecoak) Tuangkan senja di minuman kopi instan milikku Jangan lupa, kau yang bilang padaku,  ; bahwa sore adalah tempat pulang kita dari kelelahan  Menunjuk kanan kiri  ; bahwa di sana adalah salah satu tempat kenanganmu berada Setidaknya kau turut mengucapkan selamat padaku Turut ikut campur dal...

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

CERPEN "MATAHARI ESOK PAGI", Oleh: Erka Ray

Aduh, kenapa bapak baik sekali kepada orang. Lihat, mungkin sudah tak terhitung sepagi ini bapak memberikan semangkuk bakso pada pengemis yang lewat di warung kami. Padahal warung kami sepi karena banyak pesaingnya. Eh, bapak malah memberikan bakso gratis pada orang-orang. "Silahkan dimakan, Bu. Semoga ibu suka dengan bakso di warung saya." Ah, lihat bahkan bapak menyuruh ibu-ibu pengemis itu duduk di warung kami, makan bakso secara cuma-cuma. Dan setiap kali aku bertanya, kenapa bapak selalu memberikan bakso kepada pengemis, kenapa tidak dikasih uang seribuan saja, kan sudah cukup. Atau bapak usir saja, bilang kita tidak punya.  "Tidak ada salahnya bersedekah, Dani. Toh bakso kita banyak kan."  Begitu jawaban bapak.  Lalu aku menyanggah, "Tapi kan pak, warung kita sepi. Tidak setiap hari rame." "Justru siapa tahu dengan bersedekah sehabis ini warung kita rame pembeli kan."  Entahlah, bapak terlalu baik. Padahal belum tentu orang-orang baik pada ...

CERPEN "TUNGGU AKU PULANG", Oleh: Erka Ray (BELUM SELESAI DITULIS)

"Kau tidak bosan duduk di pos ronda ini setiap hari, Ram?"  Itu adalah pertanyaan kesekian yang dilontarkan Nizam teman sebayaku beberapa hari terakhir ini. Agaknya dia sudah bosan melihatku yang setiap pulang sekolah mendatangi pos ronda yang ada di dekat pintu gerbang kampung.  Namaku Ramli dan aku memang selalu mendatangi pos ronda itu setiap pulang sekolah sekitar jam 11 siang, membawa buku-buku pelajaran dan buku-buku cerita. Kadang aku di sana hanya sendirian, kadang ditemani oleh Nizam, Ali dan Bahrul. Saat jam perkiraan menunjukkan setengah dua siang, aku pulang ke rumah, mandi, shalat terus bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah agama sore di belakang rumah. Lalu pulang menjelang Maghrib dari sekolah agama sore itu, mandi lagi dan bersiap-siap untuk pergi mengaji ke surau sampai selepas isya'.  "Ah susah sekali soal yang ini." Bahrul menggerutu di samping Nizam mengacak-acak rambutnya. "Tidak susah, kau saja yang bodoh." Ali santai sekali men...