Langsung ke konten utama

Postingan

PUISI "MASIHKAH BERKESEMPATAN" Oleh ; Erka Ray

Apa daun yang menguning mengibaratkan jatuh Apa pintu lapuk mengibaratkan rapuh Apa bunga yang layu mengibaratkan gugur Aku bertanya atas dasar kebingungan yang menginginkan jawaban Dari daun yang kemarin kamu remas Aku di sini mulai cemas Kita sudah tidak seperti yang aku kira Kamu yang mulai menggugurkan satu persatu bunga lalu dilanjutkan menghapus warna Aku tahu, kita bukan debu yang masih berkesempatan untuk digenggam Kita hanya angin yang penuh ketidak jelasan Kita juga bukan lagi siapa-siapa untuk bisa disebut apa Kita sekarang hanya sebatas ada yang tidak tahu arahnya Aku salah menaruh kaca di samping jendela Aku bukan memasangnya Jadilah dia pecah karena keegoisan angin yang mendera Aku juga salah menaruh bunga di dalam rumah, dan tidak menyiramnya Akibatnya dia layu di potnya Sumenep, 12 November 2021

PUISI "AKU SIAPA" Oleh ; Erka Ray

 Siapa aku yang ingin terus memaksa angin berwujud Siapa aku yang terus ingin menuntut hijau menjadi biru Siapa pula diriku yang ingin mencegah daun jatuh Aku bukan siapa-siapa.  Aku hanya apa yang belum tentu adanya Pula saat aku memaksa mengulur, aku bertanya aku siapa? Saat aku hendak mengakui, aku pula bertanya, aku siapa?  Jadi saat aku masih bukan siapa-siapa, aku tak pantas untuk menjadikan diriku sebagai bagian dari yang kau punya Aku siapa di sini. di tanah yang haus akan air, di air yang rindu akan kejernihan Aku hanya aku yang pasrah dengan warna pekat yang terus menutupi kepastian Aku hanya patahan yang sedang berkelana mencari keutuhan Aku teduh yang masih panas Aku sejuk yang sampai saat ini masih gerah Aku bingung aku ini apa dari wadah-wadah kosongmu apa aku adalah isinya, atau hanya sekedar sempat yang tak pernah kau sempatkan Catatan, 18 Oktober 2021

PUISI "TENTANG IKHLAS" Oleh ; Erka Ray

 Jika memang senja hanya mampu jadi alas Maka biarkan aku untuk terus menginjaknya Jika air hanya mampu membasahiku, Maka terus biarkan aku basah olehnya Jika semuanya harus sesuai pada alurnya, maka aku tidak akan melarang daun patah dari rantingnya Tidak akan cemburu angin menyapa anak rambutnya Tapi izinkan aku untuk memiliki jemarinya yang terus ingin ku genggam atau setidaknya jangan jadikan aku gersang sendirian di antara ketidakpastiannya Maaf untuk sempat yang hampir tepat tapi ternyata hanya kesalahan letak tempat Kita mungkin memang bukan bunga dan tangkainya yang berdampingan Mungkin kita cukup jadi cat tembok yang gampang berlunturan.  Catatan, 12 Oktober 2021

PUISI "SEMAMPUKU" Oleh ; Erka Ray

Jika esok lusa riuh angin yang berisik tiba-tiba terdiam maka aku akan tetap dengan pijakanku meski mengusir dengan semampunya maka biarkan aku sendiri semampuku Meski kini kau samar-samar berpamitan aku malah terang-terangan mengibarkan penantian tidak peduli berapa kali otakku berkata bodoh tapi telingaku memilih tuli Aku memang tak pandai menjadi ranting tak mampu menjadi tulang tapi aku masih bisa menjadi payung saat hujan melindungi dari air yang berusaha egois menyentuhmu Catatan, 27 Agustus 2021

PUISI "CERITA SUBUH" Oleh ; Erka Ray

Di selimut subuh tadi aku merangkul kita dalam biasan jingga disebut fajar karena dia berpijar terus melindas semua rasa yang aku kaitkan di pinggir jalan Subuh tadi aku mengantarmu berpulang kamu hilang di keramaian tubuh-tubuh penuh ambisi kamu lalu terselip di kaca-kaca kinclong yang tak ada di rumahku Subuh tadi adalah tempat pagi datang bergandengan dengan senang menitip embun pada daun katanya ; jaga dia dengan sepenuhnya Subuh ini, aku sadar kita bukan lagi malam yang sempurna dengan bulannya dan di pembuka pagi, cerita kita sudah tak bermasa Catatan, 20 Agustus 2021 erka.ray12

PUISI "SATU SAMPUL" Oleh ; Erka Ray

Kenapa kita harus menusuk kaki dengan seribu mata yang melihat dari kanan kiri Jeritan yang disumpal Akankah mendapatkan balasan yang setimpal Kamu, yang aku sebut kertas lusuh masih lebih bersih dari yang kubasuh  Bisakah kita terus berpegangan meski tangan kotor dengan serabutan yang aku ciptakan Saat mulai redup aku kira, kita tak akan seperti cangkir yang isinya mudah diseruput Ternyata aku salah kira Mari kita belah jalanan dengan pisau tumpul Agar kita bisa berkumpul pada satu sampul yang sebenarnya tak menjamin apapun Aku mau kita rapat meski rapat yang terus bersekat-sekat  Tapi kamu malah berbisik pelan ; kita cukup di sini ya Catatan, 06 Juli 2021 erka.ray12

SENANDIKA "SEEGOIS ITU" Oleh ; Erka Ray

"Egois adalah ; ketika kita tahu betul bahwa itu tidak baik, tapi kita malah memaksanya untuk menjadi baik."  -------****------ Ternyata aku seegois itu. Aku memaksa sesuatu yang saat dipaksakan hanya membuat sakit. Seharusnya dari dulu sudah diikhlaskan dan dilupakan. Bukan malah menuntut sana sini untuk digenggam. Dari awal aku tahu, bahwa menggenggam batang mawar hanya akan memberi luka pada diri sendiri. Tapi saya terus memaksa untuk menggenggamnya hanya demi sekuntum mawar yang nampak indah yang menempel di batangnya. Apa sebegitu mulusnya sebuah keindahan memanipulasi? Padahal yang tidak menarik seringkali menawarkan sebuah kebahagiaan yang sudah pasti. Kita sering menipu diri sendiri untuk memenuhi sebuah ambisi. Hingga akhirnya sadar bahwa penyesalan selalu ada di belakang. Manusia seringkali rela melakukan apapun demi sebuah kemauan. Lalu berdalih bahwa itu adalah pengorbanan. Pada dasarnya, berkorban boleh saja. Tapi jangan sampai kita mengorbankan orang lain hanya ...