Langsung ke konten utama

PUISI "HATI-HATI DI JALAN", Oleh: Erka Ray

Yah, 
Aku menangis malam ini
Bukan karena apa,
Anakmu memang tidak sekuat itu, Yah
Yah, saat malam-malam aku berulangkali mengintip kautidur 
Anak kecil ini masih ingin tertidur di sampingmu sebenernya
Tapi teramat gengsi dan malu, Yah

Yah, jika malam ini angin malam membuat bajumu terasa dingin 
Kaulapisi dengan selimut, Yah
Meskipun tak seberapa hangatnya
Setidaknya satu yang harus kau tahu, 
Hatiku menghangat saat dulu kau tersenyum memakan buah yang baru kita beli di sebuah toko

Yah,
Anakmu hanya pandai merangkai puisi
Namun tak pernah pandai berbincang denganmu meski hanya untuk bertanya kopimu habis atau tidak
Apalagi saat bertanya bajumu yang mana yang harus aku cuci
Aku harus merangkai kalimat terlebih dahulu 

Yah, 
malam ini jauh sekali kau pamit pada orang-orang rumah secara tiba-tiba
Baju-baju telah kaulipat
Kau berhasil pula melipat hatiku
Aku tak pandai berpura-pura mencari pembahasan hanya untuk sekedar mengulurkan tangan,
; hendak mencium tanganmu
Tapi percayalah
Hariku meguap,
Melebur,
Hancur
Saat kau mulai memakai sandal jepitmu yang sudah tak lagi baru 

Sederhana, Yah
Meksi aku pula tak pandai menggenggam tanganmu
Kelak kau tambah menua
Biarkan pula puisi-puisi ini semakin tua juga
Meski tak bermajas hiperbola
Pun tak istimewa
Hati-hati di jalan, Yah
Aku tengah mengetik puisi ini di layar ponsel 



Sumenep, 16 Januari 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

NOVELETTE - "KEPAL TANGAN", Oleh; Erka Ray

Pagi hari, kehidupan mulai menggeliat di sebuah pedesaan. Satu dua jendela rumah mulai dibuka oleh pemiliknya. Ayam tak berhenti berkokok sahut-sahutan dengan suara kicau burung di atas sana. Dari arah timur mentari mulai muncul. Cahayanya menyirami persawahan dengan padi yang mulai membungkuk memasuki usia panen, menyapa ladang penduduk dengan beranekaragam tanaman. Embun di rumput-rumput sebetis mulai menggelayut, diinjak oleh orang-orang yang mulai pergi ke ladang pagi ini. Menjemur punggung dibawah terik matahari sampai siang bahkan ada yang sampai sore hari.  Terdengar suara ibu-ibu memanggil seorang tukang sayur. Teriakan ibu-ibu memanggil anak-anak yang bandel susah disuruh mandi untuk berangkat sekolah. Teriakan ibu-ibu yang meminjam bumbu pada tetangganya. Kehidupan di desa ini sudah mulai menggeliat sejak subuh dengan suara air yang ramai di kamar mandi. Suara adzan yang nyaring sekali, terdengar kesemua penjuru.  Anak-anak berseragam dengan tas besar ter...

PUISI "SAJAK TOPLES KOSONG", Oleh: Erka Ray

Aku toples yang diambil pagi-pagi dalam lemari  Kemana aku dibawa Meja yang habis dilap itulah tempatku berada Aku toples yang dibuka dengan gembira  Tangan tuan rumah, tangan tamu-tamu menjamah isi dalamku Aku ditawarkan, "Mari makan" "Mari dicicipi" Aku toples yang gembira di hari raya Itu aku, Itu aku yang dulu Kemana aku hari ini? Aku adalah toples yang membisu di dalam lemari  Badanku kosong Tangan-tangan tua dan muda tak menjamahku Tuan rumah acuh kiranya, Kemana uangnya untuk membeli isi yang biasanya diletakkan pada tubuhku  Pun rumah ini sepi  Tuan rumah seperti mati di hari raya Di mana aku? Aku ada dalam lemari saat hari raya Aku tak diambil pagi-pagi untuk diletakkan di atas meja ruang tamu Tuanku tengah miskin  Tuanku tak ada uangnya Tuanku membuatku tak lagi diperlihatkan pada tamu-tamunya  Dan tuanku rumahnya tak bertamu Sumenep, 11 April 2024