Langsung ke konten utama

PUISI "TERAKHIR DENGAN ER - YANG LUPA MELUPAKAN", Oleh: Erka Ray

TERAKHIR DENGAN ER

Er, sebentar lagi tanganmu tak bisa kujumpai
Pun, aku tak bisa menghitung berapa jemarimu
Yang terus kuulang meski kutahu kalau itu sepuluh
Balik badanmu, Er
Kita lupa saling berhadapan lama untuk menggenang sisa-sisa acara kemarin dengan nuansa warna marunnya
 
Er;
Lihat purnama di atas kepalamu 
Bulat sempurna
Akankah bulat tekadku selanjutnya untuk bertemu dirimu
Pun langit berbintang yang mengejekku saat terbangun tanpa mimpi yang dapat menyaingi mimpimu untuk ibumu

Er;
Pulanglah sebelum aku yang pergi tanpa pesan 
Hanya menyisakan perayaan kecil saat ada seorang lelaki yang menyematkan cincin di jemari 
Atau malah orang-orang yang ada di sekitarku berpakaian rapi mengiringi kerinduanku pada Sang Maha Esa

Er;
Jika punggungmu tak kutemui dan juga sebaliknya punggungku 
Jangan lupa akan ejekanku saat melihatmu sibuk mengambilnya gambar diri 


Sumenep, 30 Oktober 2023

***

YANG LUPA MELUPAKAN

Demikian saat kita saling mengejek
Entah soal apa
Atau namamu yang kukira jadul dengan menyebutkannya huruf 'C' bukan 'K'
Senyum pulang di jemari
Punggung tangan menghitam oleh mentari
Bisa kuberbisik sebentar
Lirih,
Berusaha syahdu mengalihkan rebana yang kau tabuh 
Tentang esok lusa yang mungkin lupa dan melupakan

Aku tercengang dengan dua tiga judul puisimu 
Bibirku yang bungkam
Memetik baitmu untuk kubawa pulang di saku baju
Menyelinap pelan meski tak pamit 

Nikmati kepulan asap rokok yang kau sebut kekasih hati 
Pun rebana jika kau ingin mendua 
Tentang lupa dan melupakan,
Pulang dan tak kembali,
Tak ada sinopsis singkat yang disuguhkan pada si pembaca
Meski akhir,
Kita tak bersanding jua


Pamekasan, 30 Oktober 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

NOVELETTE - "KEPAL TANGAN", Oleh; Erka Ray

Pagi hari, kehidupan mulai menggeliat di sebuah pedesaan. Satu dua jendela rumah mulai dibuka oleh pemiliknya. Ayam tak berhenti berkokok sahut-sahutan dengan suara kicau burung di atas sana. Dari arah timur mentari mulai muncul. Cahayanya menyirami persawahan dengan padi yang mulai membungkuk memasuki usia panen, menyapa ladang penduduk dengan beranekaragam tanaman. Embun di rumput-rumput sebetis mulai menggelayut, diinjak oleh orang-orang yang mulai pergi ke ladang pagi ini. Menjemur punggung dibawah terik matahari sampai siang bahkan ada yang sampai sore hari.  Terdengar suara ibu-ibu memanggil seorang tukang sayur. Teriakan ibu-ibu memanggil anak-anak yang bandel susah disuruh mandi untuk berangkat sekolah. Teriakan ibu-ibu yang meminjam bumbu pada tetangganya. Kehidupan di desa ini sudah mulai menggeliat sejak subuh dengan suara air yang ramai di kamar mandi. Suara adzan yang nyaring sekali, terdengar kesemua penjuru.  Anak-anak berseragam dengan tas besar ter...

PUISI "SAJAK TOPLES KOSONG", Oleh: Erka Ray

Aku toples yang diambil pagi-pagi dalam lemari  Kemana aku dibawa Meja yang habis dilap itulah tempatku berada Aku toples yang dibuka dengan gembira  Tangan tuan rumah, tangan tamu-tamu menjamah isi dalamku Aku ditawarkan, "Mari makan" "Mari dicicipi" Aku toples yang gembira di hari raya Itu aku, Itu aku yang dulu Kemana aku hari ini? Aku adalah toples yang membisu di dalam lemari  Badanku kosong Tangan-tangan tua dan muda tak menjamahku Tuan rumah acuh kiranya, Kemana uangnya untuk membeli isi yang biasanya diletakkan pada tubuhku  Pun rumah ini sepi  Tuan rumah seperti mati di hari raya Di mana aku? Aku ada dalam lemari saat hari raya Aku tak diambil pagi-pagi untuk diletakkan di atas meja ruang tamu Tuanku tengah miskin  Tuanku tak ada uangnya Tuanku membuatku tak lagi diperlihatkan pada tamu-tamunya  Dan tuanku rumahnya tak bertamu Sumenep, 11 April 2024