Langsung ke konten utama

PUISI "MENEMPATKANMU DENGAN MAKSUD - PELUK IBU BAPAK - BERTUKAR PERAN", Oleh: Erka Ray

MENEMPATKANMU DENGAN MAKSUD

Aku akhir-akhir ini menuliskan namamu di kolong meja
Dengan maksud
Jika kacaku hitam
Kau tampak lebih terjaga
Aku pun menulismu di beberapa pigura
Dengan maksud menyembunyikanmu di balik foto-foto kenangan
Dengan senyum yang lebar
Aku bermaksud menitipkanmu di salah satunya

Aku menempatkanmu di lemari
Meski aku sering kebingungan akan warna baju dan modelnya
Tapi aku menempatkan dirimu di laci-laci
Jika kucari,
Kau dengan mudah kutemui

Ditempatkan di manapun
Kau tetap kujaga di tangan kanan
Dengan maksud,
Jika tangan tangan kananku kotor
Kau menjadi titik bersih yang kujaga

Bertempatlah di manapun
Aku juga akan di sana

Pamekasan, 23 Oktober 2023

***

PELUK IBU BAPAK

Pangkuan ibu kosong
Pula pangkuan bapak
Pulang, Nak
Pelukan ibu masih tak ada yang meminang
Mari bercerita
Jika tadi malem jendela kamarmu lupa ditutup
Ceritakan jika kau lupa mencuci piring di rumah rantaumu

Pangkuan ibu bapak tak ada anak 
Pulang baru saja ayam tetangga berkokok mengusik kompor ibu yang sudah menyala sejak subuh 
Meracik bumbu untuk keluarga
Meski ramai orang-orang di luar dengan kisahnya 
Ibu bapak pun berkisah dengan piring berisikan sarapan mereka yang masih mengepul 

Ceritakanlah, Nak
Ibuk bapak rindu pelukan 
Pun rindu saat pagi-pagi bapak berseru di atas motor hendak mengantar sekolah
Atau ibu berceloteh perihal uang jajan agar tidak dihabiskan membeli novel-novel


Pamekasan, 23 Oktober 2023


***

TUKAR PERAN

Bu, Pak
Jika mulut Tuhan terlalu lincah menjatuhkan cacian, 
Punggung anakmu nyatanya tak cukup kuat untuk menjadi perisai
Pun jika tangan-tangan Tuhan lama mengelus dada kalian, 
Lalu aku sebagai apa? 

Bu;
: jika sakit tanganmu untuk memelukku saat tertidur
Mari berganti peran 
Biar kuceritakan kisah anak-anak bapak yang lebih lengkap
Yang tidur tanpa dekapanmu
Biar kuganti peran tanganmu mencuci piring,
: Biar aku yang memerah darah dalam cangkir demi nadimu sumringah

Pak;
Jangan bingung dompet anakmu tak bernadi
Biar kuganti kelak ragamu yang membungkuk --
Yang kebingungan mencarikan senyumku yang telah terselip di antara lipatan lusuh bajumu
Pak;
Aku pun akan menceritakan kisah anak-anak ibu yang sudah bisa mencuci baju sendiri
Yang telah bisa melipat baju sendiri

Bu, Pak
: pulanglah jika tangan Tuhan ternyata sesempit tangan anakmu
Ada dipanku yang kosong di kamar depan
Jika mulut-mulut Tuhan tak lincah menceritakan asmaraloka
Jangan menangis karena hujannya yang terlalu lebat 
: pun caciannya 



Pamekasan, 23 Oktober 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

PUISI "MURAHAN - CERITA PUTRI RAJA - YANG TAK BERTAPAK - KEHILANGAN", Oleh: Erka Ray

MURAHAN  Si murah sedang menulis kisah-kisah baru di buku yang menguning Si murah sedang menyatakan dengan lantang soal dirinya yang murahan Si murah tak bermoral menjilat sepatu sendiri yang kotor di depan halayak Si murah baru saja menghapus air mata sendiri Apakah si murah sudah tak layak menempatkan harga tinggi?  Semisal setara semangkuk mie yang mengepul asap baru dimasak Sumenep, 30 Januari 2023 CERITA PUTRI RAJA Aku pintar berbual Jika aku adalah seorang putri raja Gaunku indah sekali  Kalau disuruh ketika mungkin aku akan lepaskannya  Berbaring sendirian dalam pengaduan Aku tak tahu, aku putri yang seperti apa Aku pandai membuat cerita  Biar kukisahkan lagi soal tahtaku yang tinggi Saat menoleh aku telah terlampau jauh dari kalian Akulah putri raja yang tiaranya berdarah Nyawaku tersangkut di sana Suatu ketika di ceritaku Aku meninggal memeluk kain-kain lusuh Agaknya aku baru saja menulis Akulah yang akhirnya membuat cerita diriku yang mati  Malang...

CERMIN - "KISAH MAS BULAN", Oleh: Erka Ray

"Seperti Anjani yang kehilangan Mas Laut dalam tragedi demo tahun 1998 dalam novel 'Laut Bercerita', semoga Mas Bulan tidak pernah kehilangan siapapun dan apapun. Itu doaku. Doa sepintas saat kita bertemu." Aku tidak tahu siapa nama Mas Bulan, tapi karena wajahmu teduh layaknya bulan saat ditatap, maka aku menamaimu 'Mas Bulan'. Laki-laki pertama yang kutemui di bus, yang tidak basa-basi menyapa perempuan yang duduk di sebelahnya. Kau tak menyapaku sama sekali, Mas. Tak seperti laki-laki lain. Mereka para lelaki baik tua atau muda masih sering basa-basi menyapaku di dalam bus dengan berbagai perangai modusnya. Aku tak suka laki-laki atau siapapun yang mengajakku berbicara saat di bus. Aku mual, Mas. Aku sakit kepala, ngantuk bukan kepalang. Dan mereka masih basa-basi menyapaku, menggangguku yang hanya ingin menatap pemandangan dari kaca bus. Padahal aku sama sekali tidak terbesit untuk basa-basi mengajak berbicara siapapun di dalam bus. Kecuali, or...