Langsung ke konten utama

PUISI "ITU ADALAH AKU - DARI PESAN SINGKAT PAGI", Oleh: Erka Ray

ITU ADALAH AKU

Jika tubuhmu berbentuk pusara
Dengan tanah merah tanpa kerikil besar 
Batu nisanmu anggun layaknya mahkota
Camar berorkestra dibalik tangismu kemudian 
Tawaku ikut dibalik lapisan pertama kain kafanmu

Jika tubuhmu tanah merah di celanaku yang barusan diusap
Takkan kubasuh air untuk menghilangkan
Kuusap putihnya kafanmu
Biar wajahku yang menguning di sore hari saat pemakamanmu 

Saat tubuhmu diambil tanah 
Saat tubuhmu berpusara,
Nisan-nisan bertulisan nama dan angka,
Tanganku hanya bisa mengantarkan sebentar
Ikut mengikat beberapa lapis kafanmu
Ucapkan selamat tinggal pada tempat tidur lamu
Mungkin tak ada lagi aku
Tak ada lagi kita,
: pun saat-saat senyum yang mulai lebur di pusaramu


Pamekasan, 19 Oktober 2023


*JIKA TUBUHMU TELAH BERPUSARA
[19/10 06.37] Rakashiwi: Aku;
Aku adalah baju gamis yang melekat di tubuh seorang wanita
Bercorak mawar dengan merah warna yang dipunya
Aku seseorang yang tak pernah berkerudung pasmina
Hanya bisa memakai apa yang menutupi dada
Aku;
Seseorang yang telah bisa pergi ke sana ke sini tanpa ibu 
Aku telah jauh memilih warna sepatu yang senada dengan baju
Aku;
Yang perjalanannya telah beberapa kali tersandung batu
Pun aku, 
Yang akhirnya tak pulang karena ego
Namun luluh ke pelukanmu karena rindu 

Aku putri kecil ayah
Yang dulu meminta bando
Dan hari ini minta punggung ayah dikikis bebannya
Aku,
Ibu sering mengomeliku karena tak mau diperintah
Hari ini aku pulang tanpa perintah

Aku;
Itu adalah aku 


Pamekasan, 19 Oktober 2023

***

DARI PESAN SINGKAT PAGI

Tak ada segelintir kalimat manis di bibirmu pagi ini 
Pesan singkat "iya" balasan dari semalam 

Selamat pagi; 
Jika hari dirasa telah mengelus pelan rambutmu
Bersihkanlah tubuh 
Di sisi kananmu aku tengah menghitung jari
Seberapa sering kau menyentuhnya 
Segelintir tatapan sayu
Kau baru mengerjab
Pagi yang menceritakan ulang dirinya 
Yang kemarin sempat memakimu karena kesiangan

Disambut hiruk-pikuk kanan kirimu yang tak menatap iba
Berangkatlah,
Berangkat dari pesan-pesan singkat yang aku ucap semalam
Dan pesan singkatmu yang berantakan tadi pagi 


Pamekasan, 19 Oktober 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

PUISI "MURAHAN - CERITA PUTRI RAJA - YANG TAK BERTAPAK - KEHILANGAN", Oleh: Erka Ray

MURAHAN  Si murah sedang menulis kisah-kisah baru di buku yang menguning Si murah sedang menyatakan dengan lantang soal dirinya yang murahan Si murah tak bermoral menjilat sepatu sendiri yang kotor di depan halayak Si murah baru saja menghapus air mata sendiri Apakah si murah sudah tak layak menempatkan harga tinggi?  Semisal setara semangkuk mie yang mengepul asap baru dimasak Sumenep, 30 Januari 2023 CERITA PUTRI RAJA Aku pintar berbual Jika aku adalah seorang putri raja Gaunku indah sekali  Kalau disuruh ketika mungkin aku akan lepaskannya  Berbaring sendirian dalam pengaduan Aku tak tahu, aku putri yang seperti apa Aku pandai membuat cerita  Biar kukisahkan lagi soal tahtaku yang tinggi Saat menoleh aku telah terlampau jauh dari kalian Akulah putri raja yang tiaranya berdarah Nyawaku tersangkut di sana Suatu ketika di ceritaku Aku meninggal memeluk kain-kain lusuh Agaknya aku baru saja menulis Akulah yang akhirnya membuat cerita diriku yang mati  Malang...

CERMIN - "KISAH MAS BULAN", Oleh: Erka Ray

"Seperti Anjani yang kehilangan Mas Laut dalam tragedi demo tahun 1998 dalam novel 'Laut Bercerita', semoga Mas Bulan tidak pernah kehilangan siapapun dan apapun. Itu doaku. Doa sepintas saat kita bertemu." Aku tidak tahu siapa nama Mas Bulan, tapi karena wajahmu teduh layaknya bulan saat ditatap, maka aku menamaimu 'Mas Bulan'. Laki-laki pertama yang kutemui di bus, yang tidak basa-basi menyapa perempuan yang duduk di sebelahnya. Kau tak menyapaku sama sekali, Mas. Tak seperti laki-laki lain. Mereka para lelaki baik tua atau muda masih sering basa-basi menyapaku di dalam bus dengan berbagai perangai modusnya. Aku tak suka laki-laki atau siapapun yang mengajakku berbicara saat di bus. Aku mual, Mas. Aku sakit kepala, ngantuk bukan kepalang. Dan mereka masih basa-basi menyapaku, menggangguku yang hanya ingin menatap pemandangan dari kaca bus. Padahal aku sama sekali tidak terbesit untuk basa-basi mengajak berbicara siapapun di dalam bus. Kecuali, or...