Pagi itu di suatu sekolah dasar bernama Budi Luhur sedang berlangsung proses hajar-menghajar. Eh maaf, maksudnya belajar-mengajar yang mana dalam pelajaran tersebut guru membahas tentang cita-cita.
Setelah menjelaskan mengenai apa itu cita-cita ibu guru pun bertanya pada murid-muridnya untuk melatih keaktifan mereka.
"Baik sekarang ibu tanya ya," ucapnya seraya tersenyum.
"Siap, Bu," jawab mereka serentak.
"Mila, cita-cita kamu apa?"
"Saya ingin jadi penulis bu seperti Tere Liye. Nanti buku saya dipajang berdampingan dengan buku bukunya Tere Liye." Mila menjawab dengan semangat.
"Wah ..., bagus sekalii cita-cita mila, semangat ya."
Mila mengangguk.
"Oke, sekarang gilaran Ray. Ayo Ray cita-cita kamu apa?"
"Cita-cita saya mau jadi pilot,Bu. Biar bisa naik pesawat setiap hari." Ray menyengir leber.
"Wah hebat, Ray. Semoga cita-cita Ray tercapai."
"Aamiin .... Terima kasih, Bu."
Beralih pada pertanyaan selanjutnya,
"Baik satu lagi .... Emmm .... Yanto, nahh silahkan Yanto sampaikan cita-cita kamu."
Yanto menunduk dan menjawab dengan pelan,
"Hem ..., kayaknya saya harus kubur cita cita saya, Bu."
"Loh kenapa gitu, Yanto?" Ibu guru kebingungan.
"Kata ibu saya tidak pantas orang biasa seperti saya punya cita-cita seperti itu, Bu. cita-cita saya ketinggian kata ibu saya."
"Yanto, meskipun kamu orang biasa jangan patah semangat, kamu pasti bisa meraih cita- cita kamu. Cita-cita kamu tidak ketinggian, Yanto. Hanya saja semangat kamu perlu di besarkan." Ibu guru mencoba membesarkan hati Yanto.
"Kata ibu saya itu cita cita yang mustahil bagi orang biasa seperti saya, Bu."
"Memangnya cita cita kamu apa?"
Dengan polos yanto menjawab,
"Jadi habib, Bu."
An*ir Yantoo
To ganjel to ganjel to ganjel to ganjel ....
Pamekasan, 04 Oktober 2023
Komentar
Posting Komentar