Langsung ke konten utama

HUMOR "CITA-CITAMU APA", Oleh: Erka Ray

Pagi itu di suatu sekolah dasar bernama Budi Luhur sedang berlangsung proses hajar-menghajar. Eh maaf, maksudnya belajar-mengajar yang mana dalam pelajaran tersebut guru membahas tentang cita-cita. 

Setelah menjelaskan mengenai apa itu cita-cita ibu guru pun bertanya pada murid-muridnya untuk melatih keaktifan mereka. 

"Baik sekarang ibu tanya ya," ucapnya seraya tersenyum. 

"Siap, Bu," jawab mereka serentak.

"Mila, cita-cita kamu apa?" 

"Saya ingin jadi penulis bu seperti Tere Liye. Nanti buku saya dipajang berdampingan dengan buku bukunya Tere Liye." Mila menjawab dengan semangat.

"Wah ..., bagus sekalii cita-cita mila, semangat ya."
 Mila mengangguk.

"Oke, sekarang gilaran Ray. Ayo Ray cita-cita kamu apa?"

"Cita-cita saya mau jadi pilot,Bu. Biar bisa naik pesawat setiap hari." Ray menyengir leber.

"Wah hebat, Ray. Semoga cita-cita Ray tercapai."
 
"Aamiin .... Terima kasih, Bu." 

Beralih pada pertanyaan selanjutnya,
"Baik satu lagi .... Emmm .... Yanto, nahh silahkan Yanto sampaikan cita-cita kamu." 

Yanto menunduk dan menjawab dengan pelan, 
"Hem ..., kayaknya saya harus kubur cita cita saya, Bu." 

"Loh kenapa gitu, Yanto?" Ibu guru kebingungan.

"Kata ibu saya tidak pantas orang biasa seperti saya punya cita-cita seperti itu, Bu. cita-cita saya ketinggian kata ibu saya." 

"Yanto, meskipun kamu orang biasa jangan patah semangat, kamu pasti bisa meraih cita- cita kamu. Cita-cita kamu tidak ketinggian, Yanto. Hanya saja semangat kamu perlu di besarkan." Ibu guru mencoba membesarkan hati Yanto.

"Kata ibu saya itu cita cita yang mustahil bagi orang biasa seperti saya, Bu." 

"Memangnya cita cita kamu apa?" 

Dengan polos yanto menjawab,
"Jadi habib, Bu." 

An*ir Yantoo 
To ganjel to ganjel to ganjel to ganjel ....


Pamekasan, 04 Oktober 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

NOVELETTE - "KEPAL TANGAN", Oleh; Erka Ray

Pagi hari, kehidupan mulai menggeliat di sebuah pedesaan. Satu dua jendela rumah mulai dibuka oleh pemiliknya. Ayam tak berhenti berkokok sahut-sahutan dengan suara kicau burung di atas sana. Dari arah timur mentari mulai muncul. Cahayanya menyirami persawahan dengan padi yang mulai membungkuk memasuki usia panen, menyapa ladang penduduk dengan beranekaragam tanaman. Embun di rumput-rumput sebetis mulai menggelayut, diinjak oleh orang-orang yang mulai pergi ke ladang pagi ini. Menjemur punggung dibawah terik matahari sampai siang bahkan ada yang sampai sore hari.  Terdengar suara ibu-ibu memanggil seorang tukang sayur. Teriakan ibu-ibu memanggil anak-anak yang bandel susah disuruh mandi untuk berangkat sekolah. Teriakan ibu-ibu yang meminjam bumbu pada tetangganya. Kehidupan di desa ini sudah mulai menggeliat sejak subuh dengan suara air yang ramai di kamar mandi. Suara adzan yang nyaring sekali, terdengar kesemua penjuru.  Anak-anak berseragam dengan tas besar ter...

PUISI "SAJAK TOPLES KOSONG", Oleh: Erka Ray

Aku toples yang diambil pagi-pagi dalam lemari  Kemana aku dibawa Meja yang habis dilap itulah tempatku berada Aku toples yang dibuka dengan gembira  Tangan tuan rumah, tangan tamu-tamu menjamah isi dalamku Aku ditawarkan, "Mari makan" "Mari dicicipi" Aku toples yang gembira di hari raya Itu aku, Itu aku yang dulu Kemana aku hari ini? Aku adalah toples yang membisu di dalam lemari  Badanku kosong Tangan-tangan tua dan muda tak menjamahku Tuan rumah acuh kiranya, Kemana uangnya untuk membeli isi yang biasanya diletakkan pada tubuhku  Pun rumah ini sepi  Tuan rumah seperti mati di hari raya Di mana aku? Aku ada dalam lemari saat hari raya Aku tak diambil pagi-pagi untuk diletakkan di atas meja ruang tamu Tuanku tengah miskin  Tuanku tak ada uangnya Tuanku membuatku tak lagi diperlihatkan pada tamu-tamunya  Dan tuanku rumahnya tak bertamu Sumenep, 11 April 2024