Langsung ke konten utama

PUISI "ANGIN BERKASIH DI SELA-SELA AMIN - DAN 2 PUISI LAINNYA ....", Oleh: Erka Ray

ANGIN BERKASIH DI SELA-SELA AMIN

Angin tak pernah berbisik santai 
Liar mengusik ujung kerudung dan baju 
Binal menyatakan kasih sayang
Angin tak luluh dijamah tangan 
Memohon ampun selepas surau-surau bertalu beduknya 

Malam semakin meringsut tak tahu arah
Menyelinap di bajuku yang masih basah selepas dicuci 
Wajah yang acak-acakan
Menyatakan kasih yang lagi-lagi sala kaprah

Hingga bergema suara beduk menyingsing di telinga
Amin paling kencang mengecup bibir dengan binal 
Tak khayal lagi 'tuk berkasih 

Angin terbatuk-batuk di sisi kiri 
Meringsut di sisi kasih yang masih mengucap amin 
Hingga ujung kerudung diajak berdansa
Berpesta setelah malam melenyapkan diri


Sumenep, 29 Juli 2023

***

MULUT-MULUT YANG RAMAI

Mulut-mulut ramai mengerubungi telinga
Jilat menjilat lidah pada tanah 
Tanah bukan haknya

Mulut-mulut basah mengucap sumpah serapah
Mulut-mulut memakan kertas bertinta 
Lahap nan rakus terlihat
Bahkan mulut-mulut mengerubungi kaca 
Jilat menjilat debu 
Hingga habis tak tersisa

Mulut ramai di telinga
Tak mundur sejengkal
Tak lagi mengucap kasih atau kisah 

Sumenep, 29 Juli 2023

***

AKU DI BELAKANGMU

Sesekali lihat aku di tumpukan sakit yang ada di belakang
Lihat aku yang tertarik mencari alas kaki 
Lihat kakiku yang telah berdarah tak dikasihi 

Coba lihat aku di belakangmu sebentar
Aku sedang mencoba berdiri
Aku sedang berusaha mengusap peluh sendiri
Lihat aku,
Aku sedang bersusah hati menata kembali senyum-senyum
Melukisnya kembali

Lihat, 
Aku menyedihkan di belakangmu 


Sumenep, 29 Juli 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

PUISI "MURAHAN - CERITA PUTRI RAJA - YANG TAK BERTAPAK - KEHILANGAN", Oleh: Erka Ray

MURAHAN  Si murah sedang menulis kisah-kisah baru di buku yang menguning Si murah sedang menyatakan dengan lantang soal dirinya yang murahan Si murah tak bermoral menjilat sepatu sendiri yang kotor di depan halayak Si murah baru saja menghapus air mata sendiri Apakah si murah sudah tak layak menempatkan harga tinggi?  Semisal setara semangkuk mie yang mengepul asap baru dimasak Sumenep, 30 Januari 2023 CERITA PUTRI RAJA Aku pintar berbual Jika aku adalah seorang putri raja Gaunku indah sekali  Kalau disuruh ketika mungkin aku akan lepaskannya  Berbaring sendirian dalam pengaduan Aku tak tahu, aku putri yang seperti apa Aku pandai membuat cerita  Biar kukisahkan lagi soal tahtaku yang tinggi Saat menoleh aku telah terlampau jauh dari kalian Akulah putri raja yang tiaranya berdarah Nyawaku tersangkut di sana Suatu ketika di ceritaku Aku meninggal memeluk kain-kain lusuh Agaknya aku baru saja menulis Akulah yang akhirnya membuat cerita diriku yang mati  Malang...

CERMIN - "KISAH MAS BULAN", Oleh: Erka Ray

"Seperti Anjani yang kehilangan Mas Laut dalam tragedi demo tahun 1998 dalam novel 'Laut Bercerita', semoga Mas Bulan tidak pernah kehilangan siapapun dan apapun. Itu doaku. Doa sepintas saat kita bertemu." Aku tidak tahu siapa nama Mas Bulan, tapi karena wajahmu teduh layaknya bulan saat ditatap, maka aku menamaimu 'Mas Bulan'. Laki-laki pertama yang kutemui di bus, yang tidak basa-basi menyapa perempuan yang duduk di sebelahnya. Kau tak menyapaku sama sekali, Mas. Tak seperti laki-laki lain. Mereka para lelaki baik tua atau muda masih sering basa-basi menyapaku di dalam bus dengan berbagai perangai modusnya. Aku tak suka laki-laki atau siapapun yang mengajakku berbicara saat di bus. Aku mual, Mas. Aku sakit kepala, ngantuk bukan kepalang. Dan mereka masih basa-basi menyapaku, menggangguku yang hanya ingin menatap pemandangan dari kaca bus. Padahal aku sama sekali tidak terbesit untuk basa-basi mengajak berbicara siapapun di dalam bus. Kecuali, or...