"Terlalu banyak judul meskipun hanya untuk menceritakan soal dirimu. Aku yang terlalu rumit, atau kisah ini yang telah ku buat rumit".
****
BAGIAN 1
-Yang Aku Khawatirkan-
Aku mengkhawatirkan sesuatu. Sesuatu yang akan terjadi padaku. Bagaimana jika untuk beberapa hari kedepan, untuk minggu-minggu kedepan, bulan-bulan kedepan atau bahkan untuk tahun-tahun kedepan, perasaan ini masih ada dan bahkan sama seperti waktu pertama kali mekar. Layaknya bunga, mungkin aku mengibaratkannya sebagai bunga edelweiss, bunga abadi. Perasaan ini ikut abadi seperti bunga itu. Terus mekar tidak kenal cuaca. Lalu bagaimana jika perasaan ini terus ada, sedangkan kamu telah jauh-jauh hari menghapus perasaanmu dengan mudah. Lalu bagaimana dengan aku. Itu yang aku khawatirkan. Apa aku harus mengulang episode yang sama seperti yang lalu-lalu, mencintai seseorang tanpa diberi imbalan apapun, misalnya dicintai balik.
Aku tidak sekuat itu dengan memiliki perasaan untuk bisa melihatmu tertawa dengan orang selain diriku. Aku tidak sekuat itu untuk melihatku bersama dengan seseorang selain diriku. Pun aku tidak sekuat itu jika suatu saat kamu mencintai seseorang selain diriku. Bagaimana dengan diriku. Hanya itu yang aku khawatirkan. Selanjutnya aku memilih melanjutkan hidupku. Berusaha untuk tidak terlalu memikirkanmu seperti yang kamu sarankan waktu itu. Kamu bilang, perasaanku akan hilang jika aku tidak terlalu memikirkannya. Sebab itu yang kamu lakukan untuk menghilangkan perasaanmu untukku. Lalu bagaimana jika aku tidak berhasil setelah menggunakan ribuan cara untuk melupakanmu dan perasaan ini.
Bahkan setiap harinya yang aku lakukan hanya terus berpura-pura. Berpura-pura untuk tidak memiliki perasaan ini lagi. Berpura-pura biasa saja saat kamu menceritakan orang lain padaku dengan antusias. Pun berpura-pura acuh dengan keadaanmu. Aku juga menahan banyak hal, terutama untuk tidak membalas cepat pesanmu. Menahan diri untuk tidak selalu bertanya soal apa yang kamu lakukan sepanjang hari. Pun aku menahan diri untuk tidak memintamu mencintaiku lagi.
Yang aku khawatirkan hanya perihal hatiku. Bagaimana jika untuk tahun-tahun berikutnya perasaan ini masih ada dan tetap sama, atau justru malah semakin dalam mengakar hingga untuk menghapusnya saja aku tidak memiliki kekuatan dan bahkan aku harus melukai diriku sendiri. Bagaimana jika ternyata sampai tahun-tahun yang akan datang Tuhan belum mengabulkan doa-doa panjangku untuk menghapus perasaan ini untukmu.
Sumenep, 11 Juli 2023
Komentar
Posting Komentar