Langsung ke konten utama

PUISI "PEMAKAMAN SEPEKAN - NAPASKU DI HARI ESOK", Oleh: Erka Ray

PEMAKAMAN SEPEKAN 

Jika esok tanah di pemakamanku terlihat basah 
Hujan semalam turun deras dengan lancang
Tanah merah itu basah 
Tubuhku mengaduh 
Meski siraman doa datang silih berganti dari keluarga

Bukankah bunga di pemakamanku tercium wangi
Kemarin diganti yang baru 
Lalu malamnya aku meniti pilu 
Aku tak bisa memeluk tubuhmu 
Bunga di pemakamanku menjerit haru 
Meninabobokanku sepanjang malam saat hujan 
Berbaik hati mengatakan dirimu baik-baik saja 
Lalu terlelap bersama kafanku 

Bukankah pemakamanku sudah sepekan
Tulangku sudah tak kenal hari meminta ampun 
Meski sesekali aku bertamu meminta doa 
Bahkan aku telah lama berusaha menghapus duka

Bukankah sudah sepakan,
Dipan di kamarku sepi 
Yang biasanya sibuk
Telah terdiam 
Tak ada aku yang pagi-pagi terburu-buru menuju pelukanmu 


Sumenep, 13 Juli 2023


***

NAPASKU DI HARI ESOK

Terlihat tanah basah di depan rumah
Meski sesekali tetangga mengaduh soal jemurannya yang tak kering 
Pun saat sedang di ladang 
Lebih ramai menjejal telinga dari pada burung

Tanah depan rumah sejuk memelukku 
Sepanjang malam saat napas hanya sepenggal
Menyelimuti diri beberapa kali dengan sarung tipis 
Napasku semoga sampai esok pagi 

Sekali dua mulai cemas
Untuk 
Tidak ada yang tahu aku menjerit-jerit
Napasku seakan ingin pergi
Dadaku menakutiku,
Menyakitiku,
Untuk pelan-pelan aku jatuh terbuai mimpi dengan susah payah 

Bukankah tanah depan rumah basah 
Sama dengan mataku tadi malam 
Napasku didoakan semoga sampai pada hari esok 
Untuk bisa memeluk diriku sendiri


Sumenep, 13 Juli 2023


*NAPASKU DI HARI ESOK

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

PUISI "MURAHAN - CERITA PUTRI RAJA - YANG TAK BERTAPAK - KEHILANGAN", Oleh: Erka Ray

MURAHAN  Si murah sedang menulis kisah-kisah baru di buku yang menguning Si murah sedang menyatakan dengan lantang soal dirinya yang murahan Si murah tak bermoral menjilat sepatu sendiri yang kotor di depan halayak Si murah baru saja menghapus air mata sendiri Apakah si murah sudah tak layak menempatkan harga tinggi?  Semisal setara semangkuk mie yang mengepul asap baru dimasak Sumenep, 30 Januari 2023 CERITA PUTRI RAJA Aku pintar berbual Jika aku adalah seorang putri raja Gaunku indah sekali  Kalau disuruh ketika mungkin aku akan lepaskannya  Berbaring sendirian dalam pengaduan Aku tak tahu, aku putri yang seperti apa Aku pandai membuat cerita  Biar kukisahkan lagi soal tahtaku yang tinggi Saat menoleh aku telah terlampau jauh dari kalian Akulah putri raja yang tiaranya berdarah Nyawaku tersangkut di sana Suatu ketika di ceritaku Aku meninggal memeluk kain-kain lusuh Agaknya aku baru saja menulis Akulah yang akhirnya membuat cerita diriku yang mati  Malang...

CERMIN - "KISAH MAS BULAN", Oleh: Erka Ray

"Seperti Anjani yang kehilangan Mas Laut dalam tragedi demo tahun 1998 dalam novel 'Laut Bercerita', semoga Mas Bulan tidak pernah kehilangan siapapun dan apapun. Itu doaku. Doa sepintas saat kita bertemu." Aku tidak tahu siapa nama Mas Bulan, tapi karena wajahmu teduh layaknya bulan saat ditatap, maka aku menamaimu 'Mas Bulan'. Laki-laki pertama yang kutemui di bus, yang tidak basa-basi menyapa perempuan yang duduk di sebelahnya. Kau tak menyapaku sama sekali, Mas. Tak seperti laki-laki lain. Mereka para lelaki baik tua atau muda masih sering basa-basi menyapaku di dalam bus dengan berbagai perangai modusnya. Aku tak suka laki-laki atau siapapun yang mengajakku berbicara saat di bus. Aku mual, Mas. Aku sakit kepala, ngantuk bukan kepalang. Dan mereka masih basa-basi menyapaku, menggangguku yang hanya ingin menatap pemandangan dari kaca bus. Padahal aku sama sekali tidak terbesit untuk basa-basi mengajak berbicara siapapun di dalam bus. Kecuali, or...