Sepagi ini, jendela-jendela di rumah-rumah tetangga mulai di buka. Embun-embun menggelayut di ujung dedaunan. Sejuk sekali pagi ini. Dan arah timur dengan siluet menguning pembuka kehidupan. Orang-orang bersepeda santai menyusuri jalanan beraspal. Satu dua ada yang langsung ke ladang dan sawah masing-masing. Memulai hidup dengan mencari isi perut selanjutnya.
Meski hari ini adalah bulan puasa ramadhan, tapi aktifitas penduduk sama sekali tidak terhambat. Bukankah puasa tidak bisa kita jadikan alasan untuk bermalas-malasan, apalagi cuma tidur seharian di rumah tanpa aktifitas lainnya, embel-embelnya pasti karena lagi puasa. Orang-orang itu ada-ada saja, dianya saja yang pemalas. Malah menjadi puasa sebagai alasan. Bilang tidak kuat puasa jika sambil beraktifitas berat. Padahal itu tidak benar.
"Bu Asih, sayur yang kemarin masih ada?" Itu Bu Darmi tetangga Bu Asih datang pagi-pagi buta hendak bertanya soal sayur dari kebun Bu Asih yang kemarin dijual ke beberapa tetangga.
Bu Asih yang berada di teras rumahnya mengangguk santai. Berdiri dan berjalan menuju belakang rumahnya yang disulap menjadi kebun dengan berbagai macam tanaman sayur dan rempah-rempah.
Beliau memetik beberapa sayuran sawi, bayam dan kangkung yang diminta oleh Bu Darmi. Meski usia Bu Asih tidak terbilang muda lagi. Ibu dengan lima orang anak dan dua belas cucu ini masih aktif berkebun untuk menikmati hari-hari tuanya. Suaminya sudah tiga tahun yang lalu meninggal.
"Anak-anak kapan pulang, Bu." Bu Darmi basa-basi bertanya di sela-sela keheningan mereka.
Bu Asih menggeleng.
"Masih puasa ke lima belas kan, Mi? Mereka biasa pulang mudik puasa hari ke dua puluh delapan." Begitu kata Bu Asih.
"Aduh, seharusnya mereka jangan pulang se mepet itu, Bu. Itu mah hari raya sudah tinggal dua hari. Apa tidak rindu dengan Ibu di kampung halaman. Saya rasa mereka juga pulangnya tidak sampai seminggu setelah itu berangkat lagi." Bu Darmi tidak habis pikir.
Iya, kelima anak Bu Asih memang jarang sekali pulang ke kampung halaman. Pernah kelimanya tidak pulang selama satu tahun, katanya sibuk kerja di kota masing-masing. Setelah menikah, kelima anak Bu Asih memang tidak lagi tinggal di rumah itu. Mereka semua tinggal di kota yang berbeda, menjadi orang-orang sukses di kota dengan pekerjaan yang mentereng dan gaji oke. Pulang saat lebaran, itupun kadang hanya bertahan lima hari setelah lebaran, lalu berangkat lagi.
Apa Bu Asih kesepian di rumah itu? Jelas. Sendiri di usia senja itu tidak enak. Semenjak sepeninggal suaminya, anaknya yang pertama memang mengajak Bu asih untuk tinggal bersamanya di kota. Akan tetapi, Bu Asih menolak, dia bilang tak ingin meninggalkan rumah peninggalan suaminya. Jadilah beliau di rumah itu seorang dia. Anak-anaknya hanya mengirimkan uang setiap bulan melalui kartu rekening Bank.
Selang sepuluh menit. Sayur yang diminta Bu Darmi sudah dibungkus plastik hitam.
"Berapa, Bu Asih?" Bu Darmi bertanya sambil merogoh uang di saku dasternya. Bu Asih menyebutkan nominal.
"Terima kasih ya, Bu." Bu Darmi balik kanan lalu pulang.
Sepagi ini Bu Asih sudah berpeluh. Sehat, begitu katanya. Jangan salah membayangkan usia tua Bu Asih. Meski tua, beliau tetap segar bugar. Tidak seperti remaja-remaja sekarang yang sering kali mengeluh soal sakit punggung, sakit lutut dan semacamnya.
Bu Asih masuk ke dalam rumahnya, hendak istirahat sebentar lalu membersihkan diri.
Baru beberapa menit duduk di sofa empuknya, suara dering telpon memecah keheningan rumah. Tertulis nama anak keempatnya di layar telepon. Memang anak keempatnya ini sering sekali menelepon menanyakan kabar.
"Ibu sehat kan di sana?" Itu yang ditanyakan anak keempatnya saat telepon diangkat.
Bu Asih mengangguk. Mereka berbicara cukup panjang setelahnya membahas soal ini dan itu. Bu Asih bertanya soal ketiga cucunya. Anak keempatnya bilang, mereka baik. Sudah sekolah SD sekarang.
"Kamu kapan pulang, Yun." Bu Asih bertanya takzim.
"Ndak tahu, Bu. Mas Heri belum libur dari kantornya. Tapi Yuni pasti mudik ke kampung halaman kok, Bu. Ibu ingin dibawakan oleh-oleh apa saat nanti Yuni pulang?" Yuni anak keempat Bu Aish bertanya.
"Ndak, Yun. Ibu tidak ingin apapun. Ibu hanya ingin kamu dan saudara-saudaramu yang lain pulang. Ibu rindu kalian. Ibu rindu cucu-cucu Ibu. Ibu hanya berharap kalian pulang lebih awal hari raya tahun ini. Dan lebih lama menetap di rumah. Meski Ibu tahu, itu akan sulit sekali. Kalian sekarang mempunya kehidupan masing-masing." Bu Asih menghela napasnya yang terasa berat.
Percayalah, ada binar-binar rindu di mata Bu Asih pada kelima anaknya. Rindu seorang Ibu yang lama tidak bertemu. Sesak hatinya saat selepas shalat Maghrib mendoakan anak-anaknya. Mendoakan kesehatan dan kesuksesan anak-anaknya.
Percakapan di telepon ini menjadi menyesakkan bagi Bu Asih. Rindu untuk kelima anaknya sudah teramat sangat.
Telepon ini akhirnya diakhiri dengan satu dua patah kalimat. Yuni bilang, dia akan pulang. Pasti pulang.
***
"Bang. Ibu meminta kita pulang lebih awal tahun ini." Itu kata Yuni lewat sambungan telepon beberapa hari berikutnya pada kakak pertamanya, anak pertama Bu Asih.
"Aku menelpon Ibu beberapa hari yang lalu. Ibu rindu kita," lanjut Yuni.
"Aku bukannya tidak ingin pulang lebih awal, Yun. Tapi kamu tahu sendiri kan bengkel Abang ini tidak bisa ditinggal. Setiap harinya rame pengunjung. Apalagi menjelang hari raya begini, banyak orang-orang yang memperbaikinya kendaraannya untuk persiapan mudik. Lagi pula Abang belum memberikan gaji dan THR pada karyawan Abang, Yun." Begitu kata Romli anak pertama Bu Asih.
Yuni hanya menghela napas. Yuni yang memang paling tidak tega jika Ibunya harus sendirian di rumah, tapi harus bagaimana lagi, dia ikut suami yang merupakan pekerja kantoran dan dia tidak bisa sembarangan pulang.
Telepon itu akhirnya ditutup dengan perkataan dari Romli,
"Abang pasti pulang setelah memberikan gaji dan THR pada karyawan, paling tiga hari sebelum lebaran."
Yuni lelah, dia memikirkannya Ibunya di kampung halaman.
Saat hendak berdiri, bunyi telepon berikut terdengar. Itu Kakak ketiganya, anak ketiga Bu Asih. Eni namanya.
"Mbak sudah memisahkan beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kampung halaman, Yun." Itu kata Eni di pembukaan telepon.
"Ada beberapa kue bikinan Mbak yang terbaru. Ini paling laris di toko kue Mbak. Pesanan jadi membludak karena menu baru ini. Mbak jadi kualahan," begitu lanjutnya.
"Mbak kapan mudik?" Yuni bertanya.
"Belum tahu Yun. Mungkin seperti tahun-tahun sebelumnya. Dua hari sebelum hari raya. Mbak sibuk, Yun. Toko kue Mbak gak bisa ditinggal. Lagi pula Mas Sobri belum libur kantor," itu kata Eni.
Percakapan ini juga tidak membuahkan hasil. Anak-anak Bu Asih sama-sama sibuk dengan aktifitas masing-masing di kota. Pulang? Tentu mereka akan menyempatkan, meski sesekali ditunda kadang pekerjaan mereka yang juga tidak bisa ditunda.
***
Kembali pada rumah Bu Asih.
Sore ini hujan cukup lebat mengguyur desa itu. Kenapa Bu Asih? beliau sedang berteduh di emperan toko, baru selesai berbelanja beberapa bahan pokok untuk diolah sebagai Menu berbuka puasa. Hujan sudah dari sebelum jam tiga sore sudah mengguyur. Mula-mula gerimis kecil, lalu berubah menjadi gerimis besar dan deras. Dibarengi dengan angin yang cukup kencang, siluet desa menjadi berkabut.
Karena tak kunjung reda, sedangkan jam dinding di toko tempat Bu Asih berteduh sudah menunjukkan jam 4, dan beliau belum memasak untuk menu berbuka. Jadilah beliau memutuskan untuk menerobos hujan.
"Loh, Bu Asih dari mana? Kok hujan-hujanan Bu. Kemari Bu, satu payung sama saya." Di tengah jalan Bu Asih bertemu dengan Laila anak dari tetangganya yang juga sedang keluar menggunakan payung.
Jadilah Laila menawarkan diri untuk mengantar Bu Asih yang memang sudah basah kuyup ke rumahnya.
"Ibu langsung mandi, Bu. Bersih-bersih dulu, supaya tidak sakit," itu kata Laila di depan rumah Bu Asih. Dia lalu pamit undur diri karena harus membeli garam suruhan Ibunya.
Bu Asih tertatih-tatih memasuki rumah dengan baju yang basah. Beliau bergegas mandi. Berganti baju yang kering dan cukup hangat di cuaca dingin sore ini. Sedang di luar, hujan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Setelah itu beliau tidak istirahat. Bu Asih harus memasak untuk buka puasa dan sahurnya nanti. Dengan beberapa menu masakan sederhana, akhirnya sudah tersaji di meja makan rumah itu.
Sayup-sayup di tengah guyuran hujan, suara azan Maghrib berkumandang dari masjid desa. Bu Asih akhirnya berbuka puasa. Saat rumah-rumah yang lain berbuka puasa ramai-ramai bersama keluarga, Bu Asih berbuka seorang diri.
Hujan di desa itu baru berhenti setelah azan isya' berkumandang. Bu Asih sedang istirahat di kamarnya. Malam ini tidak pergi tarawih seperti biasa. Beliau termasuk orang yang rajin datang ke masjid. Terkadang sambil membawakan beberapa makanan untuk orang yang bertadarus.
Akan tapi malam ini Bu Asih terbaring di depannya. Dia tidak enak badan. Awalnya cuma selesma ringan. Satu dua kali bersin. Tapi kemudian, suhu tubuhnya meninggi. Dia demam. Beliau tidur cukup lama, saat bangun jam dinding di kamar sudah menunjukkan pukul satu malam. Tubuhnya terasa sakit semua, suhu tubuhnya meninggi, kepalanya berkunang-kunang dan matanya terasa berat untuk dibuka. Bagaimana nasib Bu Asih malam ini.
Beliau seorang diri di rumah itu, tak akan ada tetangga yang berkunjung kerumahnya jam segini. Jadilah dengan sisa kekuatannya, Bu Asih berusaha berdiri menuju dapur mengambil air dingin untuk mengompres dirinya yang sedang demam. Lalu tertatih lagi menuju kamarnya.
Malang sekali siluet malam ini.
Keesokan harinya benar-benar gawat, beliau memang memutuskan tidak puasa hari ini. Bu Asih yang memang sudah demam tinggi, Memaksakan bangun dari tempat tidurnya pagi-pagi hendak ke kamar mandi. Sempat membuka pintu depan dan jendela rumahnya. Lalu bagaimanalah, kepalanya tiba-tiba pusing, penglihatannya tiba-tiba kabur. Bu Asih yang sudah tidak bisa lagi menopang tubuhnya kala itu, akhirnya ambruk di kamar mandi. Beliau tidak sadarkan diri. Tidak ada orang di rumah itu yang akan menolong.
Akan tetapi berbarengan dengan itu, Bu Darmi yang memang sudah biasa membeli sayur pada Bu Asih, beberapa kali memanggil Bu Asih namun tidak ada jawaban. Karena pintu rumah Bu Asih terbuka, jadilah Bu Darmi nyelonong masuk meski dia rasa tidak sopan. Saat masuk di ruang tamu, kamar mandi yang memang terlihat dari sana, langsung tampaklah tubuh Bu Asih yang sudah tergeletak tak berdaya.
Bu Darmi reflek menjerit. Lalu luntang-lantung menghampiri Bu Asih yang sudah tak sadarkan diri. Karena tak kuat untuk mengangkat tubuh Bu Asih, Bu Darmi meminta bantuan beberapa tetangga. Ada yang memberi usulan untuk segera dibawa ke puskesmas terdekat, dan usulan itu langsung disepakati. Pagi itu Bu Asih dibawa ke puskesmas dengan tubuh yang demam dan tak sadarkan diri.
Wajah-wajah panik, wajah-wajah bingung ikut menemani Bu Asih. Tuhan masih berbaik hati pagi ini. Bu Asih dikelilingi orang-orang baik.
Selang beberapa menit setelah Bu Asih ditangani dokter, akhirnya Bu Asih sadarkan diri. Sore hari baru diperbolehkan pulang.
Bu Darmi membantu memasak di sana.
"Ayo Bu dimakan dulu buburnya." Bu Darmi datang sambil membawa semangkuk bubur yang baru matang.
"Apa anak-anak sudah diberi kabar kalau Ibu sakit?" tanya Bu Darmi.
Bu Asih hanya menggeleng.
"Sebaiknya diberitahu, Bu. Supaya mereka pulang. Masak ibunya sakit mereka tidak akan pulang. Kasian Bu Asih gak ada yang ngurus di sini." Begitu kata Darmi.
"Sudahlah, Mi. Tidak usah. Mereka sibuk. Lagi pula lebaran sudah dekat. Mereka juga sebentar lagi pulang." Begitu kata Bu Asih. Sedangkan Bu Darmi masih bersikukuh menyuruh Bu Asih untuk memberitahu anak-anaknya.
Sayangnya Bu Darmi tidak mendengarkan perkataan Bu Asih untuk tidak memberitahu anak-anaknya. Saat Bu Asih terlelap, Bu Darmi meminjam telepon Bu Asih lalu menelepon salah satu anak Bu Asih.
"Pulanglah, Ibumu sakit. Dia sendirian. Ditemukan tidak sadarkan diri di kamar mandi," ucapan Singkat padat dari Bu Darmi.
Yuni yang ditelfon hari itu langsung menghubungi saudara-saudaranya yang lain. Romli anak pertama yang ditelfon Yuni saat itu sedang sibuk di bengkelnya, langsung pulang memberitahu istri dan anaknya untuk segera berberes dan pulang. Begitu juga dengan Eni anak kedua dan Husni anak kelima Bu Asih, mereka bergegas beres-beres untuk pulang. Ibu mereka sakit, mereka berlima akan pulang.
Sementara di rumahnya, keadaan Bu Asih belum bisa dikatakan baik. Demamnya masih tinggi. Entahlah sepertinya resep dokter kemarin tidak membuahkan hasil. Bu Darmi sering menjenguk Bu Asih. Kasihan katanya, tidak tega melihat Bu Asih harus sakit sendirian.
"Ini Bu minum dulu obatnya. Habis ini saya kompres Bu Asih ya," ucap Bu Darmi. Bu Asih hanya mengangguk lemas.
"Anak-anak belum pulang, Bu?" Bu Darmi bertanya. Bu Asih lagi-lagi hanya menggeleng.
"Waduh, padahal kemarin sudah saya telfon menyuruh pulang dan bilang kalau Ibunya sedang sakit. Bebak sekali ternyata mereka." Bu Darmi nyerocos sebal dengan anak-anak Bu Asih yang tak kunjung pulang.
"Kamu menelfon mereka, Mi?"
"Kan sudah aku bilang tidak perlu, mereka sibuk dengan pekerjaannya, Mi. Aku bisa memaklumi itu. Lagi pula lebaran ini mereka pulang," ucap Bu Asih.
"Bu Asih selalu saja tidak apa-apa. Tidak bisa begitu, Bu. Mereka harus tahu kalau Ibu sedang sakit."
"Assalamualaikum." Ditengah perbincangan Bu Asih dan Bu Darmin terdengar ucapan salam dari arah luar. Bu Darmi kemudian bangun menuju arah pintu.
"Bu, Ibu sakit apa? Kenapa bisa parah begini." Itu Yuni anak Bu Asih langsung menerobos masuk. Rindu sekali dengan Ibunya. Yuni baru sampai hari ini setelah kemarin buru-buru pulang dari kota rantauannya bersama anak dan suaminya.
"Ibu ndak apa-apa, Yun. Ibu hanya demam."
Komentar
Posting Komentar