"Jangan lari-lari, Cia. Tunggu." Suara tawa, suara ribut dan derap kaki anak-anak yang baru pulang sekolah terdengar sepanjang jalan setapak yang menuju sebuah desa di seberang sungai. Ada lima anak yang pulang sekolah bersama-sama. Mereka pulang melalui jalan pintas, tidak melewati jalan raya dengan jalanan beraspal yang cenderung panas jika siang-siang begini. Kelima anak itu bernama Ahmad, Dani, Sintia, Ayu dan Bela. Kelimanya kompak sekali berjalan kaki saat berangkat dan pulang sekolah. Dengan embel-embel lebih seru, bisa tertawa, lari-larian, kejar-kejaran, bisa mampir dulu di sungai sambil bermain air dengan merendamkan kaki di airnya yang segar.
Jalan pintas ini sedikit melipir ke arah kanan dari arah menuju jalan raya dengan padatnya kendaraan. Mereka melewati belakang masjid megah yang ada di dekat sekolah mereka, terus memasuki ladang-ladang penduduk dengan sisi kanan kiri berupa pohon pisang, pohon singkong, dan pohon bambu yang lumayan lebat sehingga membuat jalan setapak yang berkontur tanah itu menjadi rindang yang sedikit horor, apalagi kalau sedang mendung. Lalu diujung ladang-ladang penduduk mereka akan melewati jembatan beton yang baru saja dibangun oleh aparat pemerintah setempat setelah bertahun-tahun lamanya hanya omong kosong belaka. Di bawah jembatan itu terdapat sungai yang lumayan luas melintang dari barat ke timur, airnya jernih hanya saat hujan saja menjadi keruh karena mendapat kiriman sampah-sampah dari selokan rumah-rumah penduduk. Sebelum jembatan itu ada, orang-orang yang hendak menyeberang harus turun dulu ke sungai dengan meniti batu-batu yang melintang dari utara ke selatan sebagai pijakan baru akan tiba ke sisi sungai yang satunya.
"Kita tidak mampir dulu ke sungai, Cia," tanya Ayu pada Cia. Lebih tepatnya Sintia tapi teman-temannya dari dulu sudah memanggilnya dengan sebutan Cia. Seperti Ahmad yang di panggil Mamad. Hanya Dani, Ayu dan Bela yang tetap nama panggilannya.
"Tidak, aku harus segera pulang membantu bapak membungkus keripik untuk dijual." Cia hanya menoleh tidak peduli dan terus berlari meninggalkan teman-temannya. Sambil bilang kalau akan pulang duluan.
Dia harus segera pulang, kalau tidak Bapaknya akan marah. Seperti pesan Bapaknya waktu itu, "Kalau sudah pulang sekolah tidak boleh mampir kemanapun, cepat pulang tidak perlu ikut Ahmad dan yang lain main di sungai. Terhayut di sungai baru tahu rasa." Begitulah kata Bapak Cia waktu itu saat Cia pulang terlalu siang karena keasikan bermain dengan teman-teman di sungai setelah pulang sekolah. Bapaknya marah-marah sepanjang sore, baru reda saat malam-malam hendak tertidur. Sedari kecil, Cia hanya tinggal berdua dengan Bapaknya di rumah mereka. Dengan bapaknya yang berkerja sebagai kuli bangunan dan penjual keripik pisang yang dititipkan pada warung milik tetangga mereka yang berada di dekat jalan raya.
"Bagus, Cia. Dibungkus semua ya," kata Bapak Cia yang sedang fokus menyalakan sumbu api untuk menjilit plastik-plastik yang berisi keripik. Mereka masih menggunakan cara tradisional, menjilit plastik dengan api.
"Kata Mamanya Bela besok Bapak diundang ke rumahnya untuk acara syukuran. Mereka baru saja membeli kendaraan baru, Pak," ucap Cia pada bapaknya, sedangkan matanya masih fokus memasukkan keripik pisang ke dalam plastik.
"Baiklah, nanti Bapak datang."
"Sudah tidak ada lagi pak keripiknya?" Cia celingak-celinguk mencari keripik di bakul yang ada di sampingnya.
"Sudah tidak ada. Kita bungkus segitu saja dulu. Bapak akan bawa ini ke tokonya Bu Halimah sambil mengambil uang penjualan keripik kemarin."
"Kau istirahat saja, atau kerjakan tugas sekolah," demikian kata Bapaknya.
Setelah Bapak Cia pergi. Cia membereskan bakul-bakul yang tadi digunakan sebagai wadah keripik pisang. Menaruh sumbu api ke tempatnya, dan menyapu teras rumah mereka. Setelahnya Cia membersihkan diri. Ada tugas bahasa Indonesia yang harus dikerjakan.
"Seberapa cantik Ibu kalian." Ya seperti itulah tugas yang Cia baca di buku bahasa Indonesia. Guru mereka, Pak Ganjar memberikan tugas sederhana untuk memperingati hari Ibu, yaitu menceritakan seberapa cantik ibu kita. Anak-anak itu diberi kebebasan untuk menulis apapun yang mereka akan tulis. Tidak ada patokan kepenulisan harus berbentuk ini dan itu, yang penting menulis seberapa cantik ibu kita dengan sekreatif mungkin.
Cia duduk di kamarnya memandang kosong kertas-kertas dihadapannya. Seberapa cantik Ibu? Pertanyaan itu terus ada di benak Cia semenjak Pak Gandar memberikan tugas tadi siang. Terakhir kali saat Cia bertanya soal Ibunya pada Bapaknya. Cia mendapat amukan dari Bapaknya. Entah apa yang terjadi pada Bapak Cia, padahal dia hanya bertanya siapa Ibunya. Bapaknya marah-marah tidak suka. Membentak Cia, menyuruh Cia untuk tidak bertanya lagi.
"Sudah bapak bilang berapa kali, Cia. Tidak perlu bertanya soal Ibumu. Tidak perlu mengungkit-ungkit. Bapak tidak suka. Sekali lagi kau bertanya soal ibumu itu, bapak kurung kau di dalam kamar. Tidak boleh keluar, tidak boleh bermain dan tidak boleh sekolah sekalipun," ucap Bapak Cia waktu itu dengan amarahnya yang membeludak.
Semenjak kecil dan bisa mengenal dunia, Cia memang tidak pernah tahu siapa Ibunya. Seperti yang dikatakan sebelumnya, Cia hanya hidup berdua bersama Bapaknya dari kecil sampai Cia sekarang duduk di bangku kelas 5 SD. Bapaknya tidak pernah menjelaskan siapa ibunya, ada di mana Ibunya. Setiap kali Cia bertanya, yang didapat hanya marahan dan amukan bapaknya seperti tidak suka jika Cia membahas soal Ibunya.
Cia kembali menutup bukunya. Batal menulis. Mungkin nanti malam jika suasana hati bapaknya sedang membaik, Cia akan pelan-pelan bertanya.
Ternyata benar, suasana hati bapaknya sedang membaik. Malam hari setelah shalat isya' Bapak Cia mengajak Cia untuk duduk santai di teras rumah mereka sambil memakan keripik pisang yang sengaja disisihkan untuk dimakan sendiri.
"Bagaimana sekolahmu, Cia. Apa gurunya galak? Banyak memberi tugas?" Bapaknya bertanya sambil memasukkan keripik ke dalam mulut.
"Sekolah Cia baik-baik saja. Gurunya baik-baik, Pak. Apalagi Guru baru di sekolah Cia yang bernama Pak Ghazali. Beliau kocak sekali saat mengajar. Membuat tertawa seisi kelas."
"Kalau perihal tugas tentu banyak sekali. Pak Ghazali ini meskipun kocak, tidak bisa dinegosiasikan kalau soal tugas. Mengeringkan. Hanya itu minusnya dari guru baru itu."
Malam ini siluet percakapan antara bapak dan anak terlihat syahdu di lihat dari teras rumah dengan langit cerah berbintang.
"Namanya sekolah, Cia. Dulu bapak saat sekolah juga begitu. Tugas banyak, itupun gurunya galak juga. Ada salah satu guru, namanya pak Muslim. Beliau galak sekali. Anak-anak yang bandel anak-anak yang nakal pasti terkena jewerannya. Termasuk Bapak juga waktu itu. Tapi Cia, sebenarnya hal seperti itu adalah bentuk didikan guru pada muridnya. Meski sebenarnya terlihat keras sekali, sampai ada yang dipukuli karena muridnya terlampau bandel."
Obrolan-obrolan selanjutnya terus berlanjut di antara Cia dan bapaknya. Sebenarnya Cia ingat soal tugas sekolahnya dari pak Ganjar. Membuat tulisan dengan tema "Seberapa cantik ibu kita". Namun beberapa kali diurungkan untuk bertanya. Jarang sekali bapaknya akan tertawa seperti malam ini. Biasanya lebih sering marah-marah. Mungkin besok pagi-pagi sekali saat mereka sarapan Cia akan berani bertanya.
Malam itu akhirnya ditutup dengan teriakan bapaknya dari arah dapur.
"Cepat tutup pintu rumah Cia, banyak nyamuk. Kau tidak dengar?"
***
"Bagaimana perkembangan tugas dari Bapak Ganjar?" Dani iseng bertanya memecah lengang saat mereka berjalan melintasi jembatan beton untuk berangkat sekolah.
"Tidak gimana-gimana," jawab Bela dengan sekenanya.
Dani menepuk jidatnya.
"Maksudku bukan seperti itu, Bel." Dani menggaruk-garuk rambutnya, frustasi dengan jawaban Bela.
"Iya iya, aku tahu. Hanya pura-pura tidak tahu saja. Kan memang lebih baik pura-pura tidak tahu dari pada sok tahu," ucap Bela.
"Terserah kau sajalah, Bel. Aku malas mendengar perkataanmu. Seperti menyindir tapi tidak tahu siapa yang disindir."
"Kau lah, dasar tidak peka," ucap Bela kemudian.
Sambil lalu Bela dan Dani yang berkengkar sepanjang perjalanan, akhirnya dari ujung jalan sana sekolah mereka sudah terlihat. Terlihat anak-anak yang sedang ramai kesana kemari memasukkan gerbang sekolah. Siap menuntut ilmu hari ini dengan seragam yang rapi.
Hari ini berjalan baik, pun hari-hari berikutnya. Namun, tugas dari pak Ganjar semakin dekat pula pengumpulannya. Sekarang sudah hari Senin. Hari Sabtu tugas ini harus dikumpulkan.
Samar-samar dari luar terdengar suara derap langkah kaki Bapaknya Cia. Baru pulang bekerja sebagai kuli bangunan.
"Bisa kau masak mie ini, Cia. Bapak lapar." Begitu perintah bapaknya sambil menyerahkan bungkusan plastik hitam berisi dua bungkus mie instan yang didapat dari rumah tetangga yang membangun rumah.
Cia mengangguk kemudian berlalu.
Cia berencana menanyakan Ibunya lagi hari ini pada Bapaknya. Sebenarnya terlepas dari tugas pak Ganjar tentang karangan seberapa cantik ibu kita, Cia juga sangat-sangat ingin menanyakan siapa Ibunya.
Pernah Cia bertanya pada Mamaknya Ayu. Beliau berkata, "Kamu tanya sendiri saja sama Bapakmu, Cia. Bibi tidak bisa memberitahu apapun padamu. Biarkan bapakmu yang memberitahu."
Begitu juga saat Cia bertanya pada Bapaknya Ahmad waktu mereka berlima mengerjakan tugas bersama di rumahnya Ahmad.
"Bapakmu belum memberitahu?" Bapaknya Ahmad malah bertanya balik.
"Pak." Cia takut-takut memulai percakapan.
"Iya, kenapa?" Bapak Cia masih fokus menyeruput kuah mie instan yang tadi dimasak oleh Cia.
"Siapa Ibu Cia, Pak. Seperti apa Ibu, Cia. Ada dimana Ibu Cia sekarang, Pak?" Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya terlontar dari mulut Cia setelah ditahan.
Sontak bapaknya langsung meletakkan sendok yang sedang dipegangnya. Wajahnya berubah. Mukanya terangkat menatap Cia anaknya.
"Siapa Ibu Cia, Pak. Cia ingin tahu siapa dia. Tidak ada yang memberi tahu cia selama ini mengenai siapa Ibu, Cia." Cia menghela napas. Mulai sesenggukan kecil.
"Cia bahkan bertanya pada Mamaknya Ayu dan Bapaknya Ahmad, tidak ada yang memberitahu Cia, Pak. Mereka bilang, biar Bapak yang memberitahu, Cia."
Terdengar sesenggukan berikutnya. Hati Cia tidak kuasa menahan semua ini. Amat sesak dirasanya. Cia hanya ingin tahu siapa Ibunya. Itu saja.
Bapak Cia hanya diam membisu. Sama sekali tidak ada tanda-tanda akan menjawab pertanyaan Cia.
"Beritahu Cia, Pak. Cia sudah besar. Sudah seharusnya Cia tahu siapa Ibu, Cia. Cia diolok-olok waris dan teman-temannya, Pak. Mereka bilang Cia tidak punya Ibu."
Plak!
Satu pukulan tangan Bapak Cia di meja membuat mangkuk mie yang masih tersisa setengah itu tumpah. Cia terkejut, tangisnya tercekat.
"Sudah bapak bilang berapa kali, Cia. Tidak perlu bertanya perihal Ibumu. Bapak tidak suka. Bapak bahkan sudah tenang tanpa adanya Ibumu, Cia." Suara Bapak Cia meningi sama dengan amarah yang juga mulai meninggi.
"Tapi, Pak. Cia hanya ingin tahu siapa Ibu Cia. Hanya itu." Cia kali ini benar-benar menangis kencang. Tidak lagi ditahan-tahan. Bapaknya tetap tidak mau memberitahu siapa ibunya.
"Cia ada tugas sekolah dari pak Ganjar untuk membuat sebuah karangan mengenai seberapa cantik Ibu. Cia ingin membuat karangan yang bagus dengan menceritakan seperti apa Ibu Cia, Pak." Cia bersuara lagi. Memberitahu soal tugas pak Ganjar.
"Hanya karena tugas itu kau sampai harus menangis memohon pada Bapak, Cia. Kau bahkan bisa mengarang sendiri dengan karangan yang lebih bagus, Cia."
"Tidak perlu sampai mengungkit-ungkit Ibumu."
"Tidak pak. Tidak. Cia tidak peduli dengan karangan itu. Cia tidak peduli dengan tugas itu. Tugas itu hanya kebetulan saja menyinggung tema tentang ibu. Cia ingin tahu siapa ibu Cia, Pak."
"Ibumu Jahat Cia. Ibumu Jahat. Dia menelantarkanmu dan Bapak. Sudah, Bapak tidak ingin mendengar kamu menanyakan itu lagi. Berhenti, Cia."
"Bapak punya alasan yang kuat kenapa tidak memberitahu siapa Ibumu, Cia. Bapak punya alasan. Bapak hanya tidak mau kau membenci Ibumu terlepas dari sejahat apa perbuatan yang dilakukan Ibumu padamu, Cia."
"Kau tidak butuh Ibumu, Cia. Bapak sanggup membesarkanmu sendirian meskipun dengan pekerjaan bapak yang begini. Bapak menyayangimu. Bapak bisa menjadi Bapak dan Ibu bagimu. Kau tidak butuh Ibumu, Cia."
"Bohong. Bapak tidak sayang, Cia. Kalau Bapak sayang Cia kenapa bapak tidak memberitahu pada Cia siapa Ibu Cia dan dimana keberadaannya." Cia berteriak kali ini pada Bapaknya.
"Sudah cukup. Kau tidak dengar perkataan bapak tadi. Bapak punya alasan, Cia. Berhenti untuk bertanya soal Ibumu lagi."
Bapak Cia berlalu dari hadapan Cia yang masih menangis di kursi meja makan yang satunya.
Malam ini suasananya menjadi tegang sekali. Bapak Cia pergi keluar. Meninggalnya Cia yang masih menangis. Baru pulang lagi setelah Cia tertidur di kursi panjang ruang tamu. Bapaknya bahkan tidak membangunkannya untuk pindah ke kamar.
Pagi hari, suasana di antara mereka masih menegang. Bapak Cia tidak berkata sepatah katapun. Berlalu begitu saya dengan membawa peralatan kulinya. Cia berangkat sekolah dengan tidak sarapan pagi ini. Bapaknya tidak memasak lauk. Hanya ada nasi, karena memasak nasi memang tugasnya Cia, sedangkan untuk lauk dimasak oleh bapaknya.
"Matamu kenapa Cia. Habis menangis ya. Sembab sekali." Itu yang ditanyakan Dani di jalan saat mereka berlima berangkat sekolah dengan melewati jembatan yang melintang di atas sungai. Tapi Cia acuh saja. Tidak menjawab pertanyaan Dani.
Satu yang dipikirkan Cia dari tadi malam. Apa maksud Bapaknya bilang kalau ibunya telah menelantarkan dirinya dan bapaknya. Apa saat tahu kenyatannya Cia akan membenci Ibunya. Sayangnya Cia tidak bisa kembali bertanya pada bapaknya. Mereka sedang tidak saling sapa sejak kejadian tadi malam di meja makan.
Sepulang sekolah, Cia tidak mendapati bapaknya di rumah. Mungkin sedang bekerja sebagai kuli bangunan. Membangun rumahnya Bu Jamilah di dekat perempatan jalan. Cia memilih membersihkan diri, menaruh tas sekolahnya di kamar, meletakkannya buku-buku sekolahnya.
Cia tidur-tiduran di ruang tengah di atas tikar anyaman. Bapaknya akan pulang nanti sekitar jam tiga sore. Entahlah, apakah Cia akan kembali bertegur sapa dengan bapaknya. Nyatanya, saat bapaknya pulang, Cia tidak berbicara sepatah katapun. Memilih diam, bahkan saat meletakkan secangkir kopi yang dibuatnya untuk bapaknya. Bagi Cia apapun alasan Bapaknya menutupi identitas ibunya tetaplah salah. Cia tidak peduli jika pada akhirnya akan membenci Ibunya jika tahu yang sebenarnya. Cia hanya ingin tahu siapa Ibunya. Sama seperti anak-anak yang lain, anak-anak yang punya ibu. Setiap pagi sarapan dengan masakan ibunya. Cia ingin merasakan itu juga.
Selepas shalat isya', Cia terduduk sendiri di teras rumah. Sekitarnya lengang, tidak ada tetangga yang nongkrong di teras rumahnya. Hanya ada suara derik serangga. Cia menghapus sia-sia air mata di wajahnya. Perutnya berbunyi, baru tersadar jika seharian belum menyentuh makanan sama sekali. Urusan perihal ibunya ini membuatnya tidak tertarik untuk mengunyah makanan sedikitpun. Tapi ternyata perutnya juga butuh asupan. Sudah berbunyi keroncongan. Cacing-cacingnya pasti sedang berdemo seperti mahasiswa yang berdemo soal kenaikan BBM beberapa hari lalu yang dia tonton di televisi saat berada di rumahnya Bela.
Tadi selepas shalat Maghrib, Cia kembali berbicara pada bapaknya.
"Perihal Ibu ....." Patah-patah Cia mengeluarkan kalimat itu.
Sontak bapaknya yang semula duduk di ruang tamu langsung berdiri.
"Jika kau ingin bertanya soal ibumu lagi bapak tetap dengan pendirian bapak Cia. Bapak tidak akan pernah bercerita apapun soal ibumu."
"Biarkan bapak hidup tenang tanpa wanita jahat itu. Jadi berhenti membahas ibumu, karena jawaban bapak akan tetap sama." Suara Bapak Cia meninggi. Kembali terjadi ketegangan di rumah itu selepas Maghrib.
Maksud Cia menanyakan hal itu lagi, berharap bapaknya sudah sedikit reda emosinya dan bisa diajak bicara baik-baik. Namun nyatanya tidak.
"Bapak selalu saja bilang Ibu tidak baik, Ibu jahat. Tapi Bapak tidak pernah sedikitpun bercerita kepada Cia tantang Ibu, Cia. Bapak bahkan tidak pernah menunjukkan wajah Ibu pada Cia dan Bapak tidak memberitahu Cia apa Ibu Cia masih hidup atau tidak." Kali ini Cia menangis lagi. Sesenggukan. Bapaknya kekeh tidak mau memberitahu. Apa sejahat itu ibu Cia.
Karena tidak ingin memperpanjang pertengkaran ini, Bapak Cia memilih pergi dari hadapan Cia. Tinggallah Cia yang masuk menangis di salah satu kursi ruang tamu.
Jika mengingat kejadian tadi saat Maghrib, Cia masih bersedih. Kecewa dengan tanggapan bapaknya yang malah marah-marah. Cia akhirnya memilih masuk ke dalam rumah, tidak mendapati bapaknya di dalam. Mungkin sudah beristirahat di kamarnya. Lalu membuka tudung saji. Hanya ada nasi tanpa lauk di sana. Sepertinya Bapak Cia tidak tertarik untuk memasak lauk hari ini.
Mungkin hari ini tidak usah makan. Cia mengelus perutnya yang terus berbunyi. Masuk ke dalam kamarnya, membaringkan diri di atas dipan. Meringkuk menutupi tubuhnya dengan selimut. Malam ini Cia tertidur beberapa saat kemudian setelah menangis lagi.
***
Pagi hari, seperti biasa Bapaknya bangun lebih dulu. Shalat subuh lalu menyiapkan bahan masakan untuk dimasak. Bapak Cia baru teringat jika kemarin dia tidak memasak sama sekali. Apakah Cia kemarin makan? Itu yang dipikirkannya. Ternyata amarahnya membuatnya tidak peduli dengan apapun. Bapak Cia tidak ambil pusing lagi, Cia pasti sudah makan kemarin entah dengan membeli atau makan di manalah. Itu yang dipikirkan Bapak Cia lagi. Hari ini dia akan memasak untuk anaknya dengan bahan masakan yang masih tersisa di rumah karena kemarin tidak membeli yang baru.
Satu jam kemudian masakan itu siap tersaji. Ada kacang panjang kuah kuning, telur dadar dan ceplok, serta ada tempe dimasak tumis. Soal urusan memasak Bapak Cia memang pandai sekali. Bahkan teman-teman Cia sepakat mengatakan masakan Bapak Cia enak.
Sejak bangun subuh tadi bahkan sampai selesai memasak, Bapak Cia tidak melihat Cia sama sekali. Bahkan Bapaknya yang kali ini memasak nasi yang seharusnya menjadi tugas Cia. Pelan-pelan Bapaknya mengetuk pintu kamar Cia. Sekali ketukan, dua kali ketukan bahkan tiga kali ketukan tidak ada jawaban dari Cia. Bapaknya memilih membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci. Di dalam ada tubuh Cia yang masih berbaring di atas dipan dengan ditutupi selimut. Pelan-pelan Bapaknya masuk dan hendak membangunkan Cia. Tapi saat menyentuh lengan Cia. Bapaknya terkejut, badannya panas sekali. Dipegang dahinya ternyata sama panasnya. Tunggang langganglah Bapak Cia menuju dapur mengambilnya baskom berikan air untuk mengompres Cia.
"Kenapa tidak memanggil Bapak jika kamu sakit," ucap Bapak Cia sambil terus mengompresi Cia.
"Apa kau sudah makan? Atau kau belum makan dari kemarin?" Tanpa menunggu jawaban dari Cia bapaknya berlalu ke meja makan untuk mengambil nasi dan lauk.
"Ayo makan Cia. Makanlah sedikit ya. Maafkan Bapak jika kemarin tidak memperhatikanmu." Terlihat raut wajah khawatir dari Bapak Cia. Anaknya pagi ini demam tinggi.
Cia hari ini tidak sekolah, tadi saat bapaknya membeli obat ke warung dekat rumah mereka sekalian mampir ke rumah Ayu memberitahu bahwa Cia tidak masuk sekolah. Selepas makan dan minum obat Cia kembali merebahkan diri. Bapaknya masih setia di sampingnya. Sambil sesekali mengompres. Demamnya belum juga turun. Badan Cia bahkan sampai menggigil.
Tidak tahu, apa yang harus diperbuat. Dari dulu setiap Cia sakit, Bapak Cia memang selalu kebingungan, khawatir. Entah disadari atau tidak, Cia butuh sosok Ibu yang akan mengurusnya. Karena bapaknya tidak sepenuhnya paham soal mengurus anak. Tapi Bapaknya tidak memusingkan itu. Baginya dia masih bisa mengurus Cia seorang diri.
Siang harinya setelah shalat dhuhur. Bapak Cia kembali mengecek badan Cia. Ternyata masih sama, demamnya tidak turun.
"Bapak akan membawamu ke rumah sakit Cia. Kau akan sembuh, Nak." Suara Bapak Cia bergetar. Dia selalu tidak kuasa jika harus melihat anaknya sakit. Bahkan dulu saat Cia tidak sengaja terkena pisau, bapaknya kalang kabut mencari plester.
"Kita ke rumah sakit Cia agar demammu cepat turun," ucap Bapak Cia lagi.
Samar-samar saat membopong Cia dari dipan. Cia menceracau, menyebut ibunya.
Siang itu Cia dibawa ke rumah sakit. Setelah diperiksa oleh dokter dan diberi beberapa resep obat penurun demam, bapak Cia membawanya pulang.
"Istirahat, Cia. Jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal tidak perlu," pinta bapak Cia.
"Bapak temani kamu sampai kamu tidur," lanjutnya. Cia hanya mengangguk sebagai jawabannya. Matanya sedikit memanas jika Bapaknya sudah sangat perhatian seperti ini. Karena takut menangis di depan Bapaknya, Cia memutuskan patuh untuk tidur cepat.
Sekarang sudah malam hari di rumah Cia, sekitar jam delapan malam. Cia sudah selesai makan dan minum obat. Masakan Bapaknya tadi siang lezat sekali meskipun dengan menu yang sederhana. Bapaknya memintanya lekas tidur agar demamnya cepat sembuh.
Sekitar tiga puluh menit. Bapak Cia masih setia duduk di pinggir dipan menunggu sampai Cia benar-benar terlelap.
"Maafkan Bapak, Nak." Meski samar, suara Isak itu masih cukup terdengar di sunyinya malam.
"Maafkan Bapak karena tidak pernah memberitahu siapa Ibumu. Bapak terlanjur sakit hati atas keputusan Ibumu, Nak," lanjut Bapak Cia. Wajahnya tertunduk, tangannya masih berada di atas kepala Cia baru mengganti kain yang digunakan untuk mengompres.
"Bapak tahu kamu sangat ingin tahu dan bertemu dengan Ibumu, Cia. Tapi Bapak juga benar-benar minta maaf, Cia. Bapak tidak bisa membuatmu bertemu Ibumu. Ibumu sudah memilih orang lain, Nak."
"Bapak tidak punya cukup kekuatan untuk mengatakan kalau Ibumu pergi memilih orang lain. Saat kamu tertidur seperti ini, wajahmu mirip sekali Ibumu, Cia. Matanya, hidungnya. Semuanya. Bapak bahkan seperti bisa melihat wajah ibumu lagi. Tapi, Nak. Jangan tanyakan Ibumu kemana. Bapak tidak pernah punya kekuatan untuk mengatakan bahwa Ibumu pergi bersama orang yang lebih mapan. Ibumu memilih laki-laki Itu Cia. Laki-laki yang lebih bisa memberikan segalanya bagi Ibumu. Dia bahkan meninggalkanmu yang masih berumur tiga bulan. Bukan karena ibumu meninggalkan Bapak yang paling bapak benci, tapi karena Ibumu sama sekali tidak peduli denganmu, Nak."
"Kamu yang masih membutuhkan asi Ibumu waktu itu, sama sekali tidak digubris olehnya. Apa setega itu ibumu terhadap anaknya sendiri. Bahkan Bapak sampai memohonkan hanya untuk meminta asi untukmu, Nak."
Bapak Cia kali ini tergugu lama. Wajahnya menunduk. Tangisnya samar-samar terdengar, namun buru-buru dihapus. Dia tidak boleh terlihat menangis di depan anaknya.
"Lekaslah sembuh, Cia. Bapak selalu tidak bisa melihatmu sakit begini. Meski Bapak sadar kalau Bapak selama ini terlalu keras mendidikmu, Nak. Selalu membentak dan semacamnya." Tangan bapak Cia terjulur kembali mengusap kening Cia. Mengecek suhu badan. Pelan-pelan berdiri menuju dapur, mengganti air kompresan. Lalu menggelar tikar, hendak tidur di samping dipan. Malam ini sedikit pilu siluet rumah itu. Malam lamat-lamat mulai hening. Hanya sesekali terdengar suara derik serangga. Lampu ruang tamu sudah sejak tadi dimatikan.
***
"Siapa yang menyuruhmu memasak nasi, Cia." Suara Bapak Cia terdengar dari ujung pintu luar baru datang dari membeli penyedap rasa. Langsung terburu-buru menuju dapur saat melihat Cia yang sudah memasukkan nasi ke rise cooker.
"Bapak sudah bilang, jangan kemana-mana dari dipan. Berbaring saja. Apa susahnya menurut, Cia. Kau bebal sekali." Bapak Cia mengambil alih piring yang sedang dibawa Cia yang hendak dia cuci di wastafel.
"Cia bosan pak di kamar terus. Cia juga sudah sembuh tidak demam. Bapak kan menjaga Cia semalaman," ucap Cia.
Bapaknya tidak menjawab apapun langsung sibuk menyiapkan bahan masakan.
"Kau duduk saja tidak perlu membantu bapak. Dengar, Cia?"
Iya, Cia mendengarkan. Kali ini kalimat Bapaknya serius sekali.
"Masakan Bapak selalu enak." Cia mengacungkan dua jempol, memuji masakan Bapaknya. Yang dipuji tersipu malu. Tapi langsung berusaha mengalihkan fokus.
"Sudah makan saja, jangan banyak bicara. Tidak baik berbicara saat makan." Demikian kata bapak Cia.
Keadaan Cia sudah membaik. Demamnya sudah turun. Tubuhnya berangsur pulih.
Adegan sarapan pagi sudah berlalu sekitar dua jam yang lalu. Sekarang sudah jam setengah sembilan pagi. Cia sedang duduk-duduk di atas dipan. Membuka buku tugas. Karena sakit kemarin dia jadi sedikit lupa dengan tugasnya.
Terdengar suara pintu dibuka. Bapak Cia masuk membawakan bubur yang baru saya dia masak. Bapak Cia tidak bekerja hari ini. Pembangunan rumah itu sudah selesai kemarin lusa. Masih menunggu pekerjaan selanjutnya. Jadilah Bapak Cia bisa menjaga Cia yang sedang sakit.
"Cia masih kenyang, Pak." Buru-buru Cia menutup mulutnya saat Bapaknya hendak menyuapi bubur.
"Hanya bubur, Cia. Tidak membuat kenyang."
Cia tetap menggeleng. Perutnya masih kenyang. Bapaknya menyerah, memilih meletakkan bubur di atas nakas.
"Kau sedang mengerjakan Apa?" Bapaknya bertanya. Sambil menimang-nimang buku paket sekolah Cia. Dibolak-balik, dilihat-lihat, tidak dibaca.
"Mengerjakan tugas karangan dari pak Ganjar, Pak."
"Tugas sialan itu lagi. Kenapa pula gurumu harus memberikan tugas seperti itu, seperti kehabisan ide saja." Bapaknya ngedumel. Mungkin teringat dengan pertengkaran dengan Cia gara-gara tugas ini. "Seberapa cantik Ibu kita". Ah, itu terlalu klise bagi Bapak Cia. Sama sekali tidak berguna.
"Cia akan menulis seberapa tampan Bapak, Cia."
"Heh, itu menyalahi tema. Bisa-bisa tugasmu dapat nol."
"Kan Bapak sendiri yang bilang waktu itu, Cia bisa membuat karang yang lebih bagus. Jadi Cia putuskan akan membuat karang sebagus mungkin tantang seberapa tampan dan hebatnya Bapak, Cia. Juga soal seberapa enak masakan bapak Cia. Pak Ganjar tidak akan marah Pak. Nanti kalau dia marah, Cia aduin ke Bapak. Supaya Pak Ganjar kena marah Bapak," ucap Cia dengan penuh semangat.
"Mana bisa seperti itu." Bapaknya tidak habis pikir dengan Cia.
"Bapak adalah bapak terhebat bagi, Cia. Jadi biarkan Cia menceritakan sehebat apa Bapak, Cia. Setampan apa Bapak Cia. Dunia juga harus tahu kalau masakan Bapak itu tidak ada duanya. Lezat tak tertandingi." Cia mengacungkan kedua jempolnya. Tersenyum lebar.
Bapaknya hanya menatapnya lekat. Sama sekali tidak memberi komentar apapun.
Cia terus menulis tugasnya sampai selesai.
***
"Kenapa tulisanmu jadi tentang Bapakmu Sintia. Bapak kan sudah bilang temanya 'Seberapa cantik Ibu kita'. Itu untuk memperingati hari Ibu." Pak Ganjar protes dengan isi tulisan yang baru Cia baca dengan lantang di depan papan tulis.
Hari ini hari Sabtu, hari di mana pengumpulan tugas dari pak Ganjar. Tugas membuat karangan dengan bertemakan "Seberapa cantik Ibu kita". Anak-anak diminta maju satu persatu sesuai urutan absen dan membacakan tulisan mereka di depan.
Saat giliran Cia, Cia membacanya dengan penuh keyakinan, dengan lantang menyebut nama Bapaknya. Pak Ganjar malah protes tidak sesuai tema katanya.
"Sengaja tidak sesuai tema, Pak. Sintia ingin menceritakan seperti apa Bapak, Sintia. Sehebat apa Bapak Sintia yang telah membesarkan Sintia seorang diri dari dulu. Sintia tidak punya Ibu dari dulu, bahkan tidak tahu wajahnya. Jadi Sintia tidak bisa menceritakan seberapa cantik Ibu. Tapi Sintia bisa menceritakan seberapa tampan Bapak Sintia yang sangat hebat ini." Demikian kata Cia.
Pak Ganjar tidak mau ambil pusing. Pak Ganjar juga tahu latar belakang keluarga Cia. Jadi, tidak ada salahnya mengalah. Toh pak Ganjar juga bilang tulisan ini tidak terikat aturan. Meksipun sangat melenceng sekali tulisan Cia dari tema yang ditentukan.
Cia tersenyum di tempat duduknya. Menatap lamat-lamat kertas di tangannya. Bapaknya tampan sekali bukan. Demikian yang Cia eluh-eluhkan sejak tadi.
Malam itu sebenarnya saat saat Bapaknya bercerita soal Ibunya, Cia belum benar-benar tertidur. Saat suara samar tangisan Bapaknya terdengar, Cia kaget. Tapi tidak membuka mata. Lalu dengan saksama mendengarkan perkataan Bapaknya. Cia tahu malam itu, Bapaknya tidak sejahat yang dia pikirkan. Bahkan Bapaknya adalah Bapak yang paling hebat yang dia punya.
"Sekarang giliran Ahmad Dhaifullah . Ayo Ahmad maju, baca tulisanmu dengan nyaring." Suara pak Ganjar membuyarkan lamunan Cia.
TAMAT
diselesaikan Di Sumenep, 05 - 14 Juli 2023
TULISAN CIA:
"SI HEBAT, BAPAK CIA"
Pak. Aku anakmu hanya mampu mengucapkan terima kasih. Meski sesekali, mungkin sudah tidak terhitung berapa kalinya bebal dan bandelnya. Sudah tidak terhitung membuatmu marah. Sering merengek meminta ini itu.
Anakmu hanya bisa mengucapkan terima kasih. Punggungmu sakit karenaku. Matamu terkantuk kelelahan setiap malam juga karenaku.
Bapakku adalah makhluk tertampan yang ada. Wajahnya yang berkeringat sore hari baru pulang bekerja. Wajahnya yang bangun esok subuh menunaikan shalat. Wajahnya yang khawatir saat aku sakit. Bapakku tampan, bahkan lebih tampan dari Shahrukh Khan. Wajah yang marah-marah saat aku susah diatur. Wajah yang sering jengkel dengan kelakuan anaknya.
Bapakku hebat. Dia bisa membesarkanku seorang diri. Bapakku hebat, dia bisa membuatku tersenyum. Lalu apa ada yang lebih hebat dari Bapakku menurutku? Jelas tidak ada. Dan jangan lupakan masakan Bapakku. Tercium lezat saat pagi hari di rumah kami.
Komentar
Posting Komentar