Melihat mulut langit mengatup
Menelan semburat kuning
Aku bertanya,
Apa kau telah mati dalam senyumku
Beserta dengan anganku yang tumbuh subur
Melihat burung menari bersama kepakan sayapnya
Aku kira ada aku di singgungan senyummu
Ternyata hanya kabar duka dari langit yang tidak memberi restu
Sepatuku telah rusak solnya
Jangan ajak berlari lagi sore ini
Menyaksikan alamat peristirahatanmu
Aku kira itu awan yang berkorban tubuh
Meninabobokkanmu lama
Dan memutar lagu berirama
Aku permisi jika sudah mati
Apa aku akan ngelayatmu di semburat kuning yang telah habis
Atau aku masih harus menunggu kabar duka berikutnya
Jika senyummu telah mati
Dan sisa tubuhmu beserta jiwanya
Aku minta izin untuk tetap mencintaimu
Sumenep, 05 Januari 2023
Komentar
Posting Komentar