Hari ini Sulastri dan anaknya aman pergi ke Jakarta, merantau. Sedangkan suami Sulastri sudah lebih dulu berangkat dua Minggu yang lalu. Tetangga-tetangga di desa mereka umumnya memang merantau ke ibu kota, dengan pekerjaan menjaga toko kelontong. Bahkan sudah ada yang sudah mempunyai toko sendiri, tidak lagi menjaga milik orang lain.
Sesuatu jadwal di tiket Bus yang dia pesan dua hari lalu. Siang ini Sulastri sudah mengemasi barang-barang yang akan dibawa. Jam sepuluh tepat keduanya di antar oleh Dirman saudara laki-laki Sulastri, menunggu Bus di pinggir jalan raya. Tidak perlu ke terminal, karena terminal dengan rumah Sulastri jauh sekali.
Bus yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Sulastri menyalami kakaknya itu, lalu naik ke dalam Bus. Tapi nasib sial, Sulastri yang tidak pernah bekerja jauh dan tidak terbiasa menggunakan Bus, akhirnya merasakan pusing dan hendak muntah.
Sedangkan anak Sulastri yang bernama Firman sedang aktif-aktifnya mengenai dunia. Anak yang berumur 4 tahun itu tidak henti-hentinya bertanya. Tidak peduli keadaan Ibunya.
"Ibu, Ibu," ucapnya sambil menarik-narik ujung kerudung Sulastri. Sulastri hanya menoleh.
"Ibu pernah menginjak Jakarta?" Firman bertanya.
"Pernah," jawab Sulastri enggan. Dia memang pernah dulu waktu SD ke Jakarta ikut pamannya.
Selang dua menit, Firman bertanya lagi, "Apa ibu pernah menginjak Sumatra dan Kalimantan?" Sulastri lagi-lagi menjawab sudah. Pusing di kepalanya semakin menjadi, dan perutnya semakin terasa diobok-obok.
Selang tiga menit, Firman menarik ujung kerudung Ibunya. "Apa ibu juga pengen menginjak Sulawesi, Yogyakarta, Bali dan yang lain?"
Karena sudah tidak sabar lagi. Sulastri akhirnya menjawab, "Diamlah, Nak. Tinggal mulutmu yang belum Ibu injak."
Firman langsung diam, sedangkan Sulastri sudah memegang kepalanya yang pusing.
Diselesaikan di Sumenep, 04 Januari 2023
Komentar
Posting Komentar