"Sedang apa di sini, Mail?" Aku bertanya pada Mail, tetangga samping rumah. Kami sekarang sedang duduk-duduk di warung kopi. Tidak, jangan anggap kami pengangguran ya karena duduk di sini. Ini weekend kan, pabrik libur. Jadi kami nongkrong dulu.
"Eh, aku dengar si Sinta sama Yadi kawin lari ya?" ucap Bahrul sambil menyeruput kopinya.
"Kawin lari apanya?" Tanya Mail.
"Ya kawin lari," jawab Bahrul kemudian.
"Iya aku dengar juga begitu. Berita ini sudah menjadi perbincangan satu desa," Aku menimpalinya. Ikutan berbicara mengenai berita yang sedang hangat-hangatnya di desa kami.
"Kasian sekali pasti mereka capek kawin lari," ucap Mail tiba-tiba saat orang-orang di warung sudah pada diam.
"Ya tidak lah, kan cuma kawin menjabat tanga penghulu," ucap Bahrul kemudian.
"Loh katanya tadi kawin lari, berarti kawinnya sambil lari-lari dong," ucap Mail tanpa merasa bersalah.
"Kawin lari bukan seperti itu juga Mail," terangku pada Mail.
"Aku lama-lama kesal pada Mail ini, Jamali," ucap Bahrul padaku.
"Bisa botak aku lama-lama bicara dengannya," lanjut Bahrul.
"Bukannya, memang sudah botak ya," kata Mail kemudian.
Bu Minah selalu pemilik warung langsung tertawa terpingkal-pingkal.
Diselesaikan di Sumenep, 08 Januari 2023
Komentar
Posting Komentar