Langsung ke konten utama

HUMOR "KAMU NAENYA", Oleh: Erka Ray


Hari ini panas sekali, maklum kemarin-kemarin hujan terus. Pas giliran panas, behhh malah gak nanggung. Lalu apa yang paling nikmat saat panas-panas begini, ya tentunya menyalakan kipas, atau minum es buah.

Akan tetapi, hal ini berbeda dengan yang dilakukan Bu Yati, pemilik warung sembako pojok. Kenapa disebut demikian nama tokonya, ya karena kepingin saja kata Bu Yati.

Bu Yati siang ini tidak sedang memakan es buah atau minuman dingin lainnya, tapi Bu Yati sedang menyalakan kipas anginnya yang berukuran besar di dinding. Merentangkan tangan, sambil menikmati kesiur angin, dan ditemani suara TV yang menampilkan Film Azab.

Tatkala sedang menikmati angin dari kipas besarnya, datanglah seorang gadis kecil hendak membeli sesuatu di tokonya. Bu Yati berdiri dengan tubuh gempalnya. Menyambut ramah gadis kecil itu. Biasa anak tetangga,.kalau Bu Yati menampakkan wajah galaknya, yang ada anak ini akan mengadu pada Ibunya.

"Adekk, mau beli apa, Dek?" tanya Bu Yati dengan senyumnya yang terlihat aneh.
Lalu si gadis kecil itu menjawab dengan ekspresi wajah yang ngenyek
"Kamuu naenyaak? Kamu bertanya tanya aku mau beli apa?" seloroh gadis itu.

Bu Yati mengusap dadanya dengan perasan kesal. Sudah tahu cuaca panas begini, masih saja dibikin tambah panas.

Lalu si gadis kecil mengabil minuman yang ada di kulkas sembari menanyakan harga minuman itu.
"Kalau minuman yang ini harganya berapa, Bu?" tanyanya sambil menunjukkan minuman berkemasan oren.

Lalu Bu Yati menjawab, "Kamu naenya?? Kamu bertanya tanya harga minuman itu?"

Si gadis pun kena mental sambil nahan malu.


Diselesaikan di Sumenep, 04 Januari 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

PUISI "MURAHAN - CERITA PUTRI RAJA - YANG TAK BERTAPAK - KEHILANGAN", Oleh: Erka Ray

MURAHAN  Si murah sedang menulis kisah-kisah baru di buku yang menguning Si murah sedang menyatakan dengan lantang soal dirinya yang murahan Si murah tak bermoral menjilat sepatu sendiri yang kotor di depan halayak Si murah baru saja menghapus air mata sendiri Apakah si murah sudah tak layak menempatkan harga tinggi?  Semisal setara semangkuk mie yang mengepul asap baru dimasak Sumenep, 30 Januari 2023 CERITA PUTRI RAJA Aku pintar berbual Jika aku adalah seorang putri raja Gaunku indah sekali  Kalau disuruh ketika mungkin aku akan lepaskannya  Berbaring sendirian dalam pengaduan Aku tak tahu, aku putri yang seperti apa Aku pandai membuat cerita  Biar kukisahkan lagi soal tahtaku yang tinggi Saat menoleh aku telah terlampau jauh dari kalian Akulah putri raja yang tiaranya berdarah Nyawaku tersangkut di sana Suatu ketika di ceritaku Aku meninggal memeluk kain-kain lusuh Agaknya aku baru saja menulis Akulah yang akhirnya membuat cerita diriku yang mati  Malang...

CERMIN - "KISAH MAS BULAN", Oleh: Erka Ray

"Seperti Anjani yang kehilangan Mas Laut dalam tragedi demo tahun 1998 dalam novel 'Laut Bercerita', semoga Mas Bulan tidak pernah kehilangan siapapun dan apapun. Itu doaku. Doa sepintas saat kita bertemu." Aku tidak tahu siapa nama Mas Bulan, tapi karena wajahmu teduh layaknya bulan saat ditatap, maka aku menamaimu 'Mas Bulan'. Laki-laki pertama yang kutemui di bus, yang tidak basa-basi menyapa perempuan yang duduk di sebelahnya. Kau tak menyapaku sama sekali, Mas. Tak seperti laki-laki lain. Mereka para lelaki baik tua atau muda masih sering basa-basi menyapaku di dalam bus dengan berbagai perangai modusnya. Aku tak suka laki-laki atau siapapun yang mengajakku berbicara saat di bus. Aku mual, Mas. Aku sakit kepala, ngantuk bukan kepalang. Dan mereka masih basa-basi menyapaku, menggangguku yang hanya ingin menatap pemandangan dari kaca bus. Padahal aku sama sekali tidak terbesit untuk basa-basi mengajak berbicara siapapun di dalam bus. Kecuali, or...