Pagi yang cerah. Secerah senyum-senyum penjual di pasar. Meski bau ikan begitu menyengat, amis di segala penjuru, suara bising klakson motor yang tidak sabaran, pula dilengkapi dengan suara ibu-ibu yang sibuk menawar. Akan tetapi, bukankah itu siluet yang indah jika diabadikan lewat foto. Ya kecuali bau ikannya sih.
Kernet angkot sibuk mencari penumpang untuk angkotnya, begitu dengan supirnya. Selang beberapa menit angkot Slamet dan Supardi penuh. Suparti sebagai supir dan Slamet sebagai kernet. Keduanya kompak sekali memang kalau disuruh mencari menumpang.
"Alhamdulillah," ucap keduanya ketika melihat angkot sudah penuh.
Dua menit kemudian mereka berangkat. Di sela-sela perjalanan, terdengar bunyi handphone yang nyaring. Laki-laki dengan rambut modelan cepak itu langsung mengangkat telfonnya. Lumrah saja di dalam angkot kalau ada yang menelfon.
"Iya, ada apa, Sayang." Laki-laki itu meninggikan suaranya. Nampaknya sang kekasih hati yang sedang menelpon.
Orang-orang masih tidak mempedulikan. Masih biasa saja, begitupun dengan Slamet dan Supardi.
"Ah, iya, aku sedang di jalan ini. Biasa ramai," ucap laki-laki itu tadi.
"Naik apa? Ya tentu aku naik Pajero, Sayang. Buat apa Pajero di rumahku kalau tidak turun ke jalan aspal" Laki-laki itu mulai ngelantur rupanya. Angkot tua dengan cat yang sudah agak luntur begini dia bilang Pajero.
"Iya aku sudah sarapan. Tadi menunya ikan Tongkol bakar, Sayang. Nikmat sekali," ucapnya pada sang kekasih hati.
Orang-orang di dalam angkot mulai cekikikan mendengar obrolan laki-laki itu dengan kekasihnya.
Slamet mulai menagih ongkos pada penumpang. Satu persatu mulai membayar ongkos sekian rupiah.
"Oy, kau ditagih ongkos angkot tuh. Cepat bayar," ucap ibu-ibu berkedudukan biru pada laki-laki itu.
"Tunggulah, aku sedang menelpon." Laki-laki itu merogoh sakunya.
"Eh, bukan apa-apa, Sayang. Biasa suara angkot di sebelah. Aku dan Pajero ku sedang di Lampu Merah," bualan kesekian terdengar.
Beberapa menit kemudian telfon itu pun berakhir.
"Eh, Bang, kembalianku mana?" Laki-laki itu mencolek Slamet selaku kernet.
"Kau ini, katanya tadi naik Pajero. Kembalian dua ribu saja kau masih minta," sindir Slamet. Orang-orang di dalam angkot tertawa. Laki-laki itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Diselesaikan di Sumenep, 05 Januari 2023
Komentar
Posting Komentar