Langsung ke konten utama

HUMOR "ANGKOT RASA PAJERO", Oleh: Erka Ray


Pagi yang cerah. Secerah senyum-senyum penjual di pasar. Meski bau ikan begitu menyengat, amis di segala penjuru, suara bising klakson motor yang tidak sabaran, pula dilengkapi dengan suara ibu-ibu yang sibuk menawar. Akan tetapi, bukankah itu siluet yang indah jika diabadikan lewat foto. Ya kecuali bau ikannya sih.

Kernet angkot sibuk mencari penumpang untuk angkotnya, begitu dengan supirnya. Selang beberapa menit angkot Slamet dan Supardi penuh. Suparti sebagai supir dan Slamet sebagai kernet. Keduanya kompak sekali memang kalau disuruh mencari menumpang.

"Alhamdulillah," ucap keduanya ketika melihat angkot sudah penuh.

Dua menit kemudian mereka berangkat. Di sela-sela perjalanan, terdengar bunyi handphone yang nyaring. Laki-laki dengan rambut modelan cepak itu langsung mengangkat telfonnya. Lumrah saja di dalam angkot kalau ada yang menelfon.

"Iya, ada apa, Sayang." Laki-laki itu meninggikan suaranya. Nampaknya sang kekasih hati yang sedang menelpon.

Orang-orang masih tidak mempedulikan. Masih biasa saja, begitupun dengan Slamet dan Supardi.

"Ah, iya, aku sedang di jalan ini. Biasa ramai," ucap laki-laki itu tadi.
"Naik apa? Ya tentu aku naik Pajero, Sayang. Buat apa Pajero di rumahku kalau tidak turun ke jalan aspal" Laki-laki itu mulai ngelantur rupanya. Angkot tua dengan cat yang sudah agak luntur begini dia bilang Pajero.

"Iya aku sudah sarapan. Tadi menunya ikan Tongkol bakar, Sayang. Nikmat sekali," ucapnya pada sang kekasih hati.
Orang-orang di dalam angkot mulai cekikikan mendengar obrolan laki-laki itu dengan kekasihnya.

Slamet mulai menagih ongkos pada penumpang. Satu persatu mulai membayar ongkos sekian rupiah.
"Oy, kau ditagih ongkos angkot tuh. Cepat bayar," ucap ibu-ibu berkedudukan biru pada laki-laki itu.

"Tunggulah, aku sedang menelpon." Laki-laki itu merogoh sakunya.

"Eh, bukan apa-apa, Sayang. Biasa suara angkot di sebelah. Aku dan Pajero ku sedang di Lampu Merah," bualan kesekian terdengar.

Beberapa menit kemudian telfon itu pun berakhir.

"Eh, Bang, kembalianku mana?" Laki-laki itu mencolek Slamet selaku kernet.
"Kau ini, katanya tadi naik Pajero. Kembalian dua ribu saja kau masih minta," sindir Slamet. Orang-orang di dalam angkot tertawa. Laki-laki itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Diselesaikan di Sumenep, 05 Januari 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

PUISI "MURAHAN - CERITA PUTRI RAJA - YANG TAK BERTAPAK - KEHILANGAN", Oleh: Erka Ray

MURAHAN  Si murah sedang menulis kisah-kisah baru di buku yang menguning Si murah sedang menyatakan dengan lantang soal dirinya yang murahan Si murah tak bermoral menjilat sepatu sendiri yang kotor di depan halayak Si murah baru saja menghapus air mata sendiri Apakah si murah sudah tak layak menempatkan harga tinggi?  Semisal setara semangkuk mie yang mengepul asap baru dimasak Sumenep, 30 Januari 2023 CERITA PUTRI RAJA Aku pintar berbual Jika aku adalah seorang putri raja Gaunku indah sekali  Kalau disuruh ketika mungkin aku akan lepaskannya  Berbaring sendirian dalam pengaduan Aku tak tahu, aku putri yang seperti apa Aku pandai membuat cerita  Biar kukisahkan lagi soal tahtaku yang tinggi Saat menoleh aku telah terlampau jauh dari kalian Akulah putri raja yang tiaranya berdarah Nyawaku tersangkut di sana Suatu ketika di ceritaku Aku meninggal memeluk kain-kain lusuh Agaknya aku baru saja menulis Akulah yang akhirnya membuat cerita diriku yang mati  Malang...

CERMIN - "KISAH MAS BULAN", Oleh: Erka Ray

"Seperti Anjani yang kehilangan Mas Laut dalam tragedi demo tahun 1998 dalam novel 'Laut Bercerita', semoga Mas Bulan tidak pernah kehilangan siapapun dan apapun. Itu doaku. Doa sepintas saat kita bertemu." Aku tidak tahu siapa nama Mas Bulan, tapi karena wajahmu teduh layaknya bulan saat ditatap, maka aku menamaimu 'Mas Bulan'. Laki-laki pertama yang kutemui di bus, yang tidak basa-basi menyapa perempuan yang duduk di sebelahnya. Kau tak menyapaku sama sekali, Mas. Tak seperti laki-laki lain. Mereka para lelaki baik tua atau muda masih sering basa-basi menyapaku di dalam bus dengan berbagai perangai modusnya. Aku tak suka laki-laki atau siapapun yang mengajakku berbicara saat di bus. Aku mual, Mas. Aku sakit kepala, ngantuk bukan kepalang. Dan mereka masih basa-basi menyapaku, menggangguku yang hanya ingin menatap pemandangan dari kaca bus. Padahal aku sama sekali tidak terbesit untuk basa-basi mengajak berbicara siapapun di dalam bus. Kecuali, or...