Cerpen ini lanjutan dari cerpen yang judulnya Sebelum Gelap, namun diberi judul berbeda saja. Jika ingin baca silahkan cari di Blog ini.
Selamat membaca semoga terhibur dengan alurnya yang panjang dan membagongkan.
Terima kasih.
__________________________________________
"Cepat, An." Ana. Gadis berusia 14 tahun yang saat ini sedang berlari-lari kecil dipanggil Neneknya. Gadis periang yang penuh tawa.
"Sudah jam 7. Kamu harus cepat-cepat ke sekolah," Nenek Ana berteriak dari arah dapur. Sedang sibuk dengan masakannya. Tidak banyak yang Nenek Ana masak pagi ini. Hanya nasi goreng. Sisa nasi yang tidak dimakan tadi malam lumayan banyak dan belum basi. Jadilah Nenek Ana berinisiatif untuk menjadikannya nasi goreng.
Apakah kalian pernah mendengar kalau nasi goreng itu lebih enak jika dibuat dari nasi sisa semalam dari pada nasi yang baru matang? Nah, Nenek Ana pernah mendengar hal itu dari sebuah siaran televisi. Jadilah dia teringat pagi ini dan mempraktikkannya. Ternyata enak betulan. Karena nasi sisa semalam belum basi sih.
"Habiskan sarapannya ya. Nenek sudah memasukkan bekalmu ke dalam tas. Di saku kanan ada uang jajanmu. Ingat jangan sampai ilang seperti kemarin. Terus buku-bukumu sudah nenek tata dengan rapi di dalam ya." Nenek Ana terus menceracau, bilang soal ini dan itu yang sudah dia siapkan semuanya untuk cucunya ini.
Ana sebenarnya berbohong soal uang jajannya yang hilang. Uang jajannya tidak pernah hilang. Lebih tepatnya diambil. Ya begitulah, sistem palak memalak di sekolah masih terus abadi.
Ana mengangguk. Beberapa saat kemudian terdengar suara panggilan dari arah luar. Ira teman sekolah Ana, telah datang untuk mengajaknya berangkat bersama. Rutinitas yang terus diulang-ulang
Ana berdiri meraba-raba mencari tongkatnya yang dia letakkan di sampingnya. Kemudian mencium tangan Neneknya. Mereka pamit berangkat.
Iya Ana meraba-raba mencari tongkatnya. Tongkat yang menuntunnya berjalan. Jika kalian membaca kisah Ana yang sebelumnya kalian akan tahu apa yang menimpa Ana dan keluarganya 6 tahun lalu. Sebuah kecelakaan maut yang membuat Ana harus kehilangan Mama, Papa dan Adiknya serta penglihatannya.
"Apa menu bekal Nenek hari ini, An?" Ira bertanya di sela-sela perjalanan mereka menuju sekolah. Ana memberi tahu kalau Neneknya membawakannya sarapan Nasi goreng yang enak. Mereka tertawa. Wajah yang cerah mengalahkan cerahnya matahari pagi.
Ira berhati-hati membantu Ana berjalan. Khawatir temannya tersandung atau apalah.
Ana bersekolah layaknya anak-anak normal lainnya. Meski dengan metode yang sedikit berbeda. Tapi kekurangan Ana ini tidak membuatnya patah semangat untuk belajar.
"Eh, buta," Wafi memanggil Ana. Anak yang satu ini memang usil sekali. Tidak berpikir dulu sebelum berbicara. Mereka saat ini sedang berada di dalam kelas.
"Sudah mengerjakan tugas tidak?" Wafi bertanya.
"Dia akan mengerjakan tugas bagaimana, menulis saja tidak bisa. Dia kan buta mana bisa." Suara Firman terdengar juga di telinga Ana. Mereka tertawa.
"Pasti tugasnya ditulisin sama Neneknya itu. Semuanya yang dia kerjakan harus dibantu, dia tidak bisa mengerjakan sendiri," Wafi menimpali. Ikut tertawa keras.
Ira di sebelah Ana memegang tangannya. Berbisik, "Jangan dimasukin ke dalam hati ya."
Anak-anak usil ini terus saja mengolok-olok Ana, soal dia yang buta. Soal dia yang masih bersekolah padahal tidak bisa melihat. Pernah diejek karena tidak punya orang tua.
Ana tertunduk dalam di bangkunya. Hanya bergetar. Matanya panas. Dia ingin menangis.
Siang harinya, matahari terik sekali bersinar. Ana dan Ira berjalan berdua saat pulang sekolah. Beberapa kali Ira berusaha becanda. Entah apapun itu, Ira sembarang mengambil topik candaan untuk membuat Ana tertawa, atau setidaknya tersenyum.
"Tahu tidak, kemarin aku ketawa loh denger kabar dari Ibu kalau pak RT masuk got. Dia nyungsep di kejar Angsanya Bu Yati," ucap Ira sambil tertawa. Ana hanya melihatnya sekilas tidak tertarik bercanda.
Ana sedih sejak pulang dari sekolah. Ejekan teman-temannya membekas kuat diingatan.
Sedangkan di rumah, Nenek Ana sedang duduk-duduk di ruang tengah baru saja selesai memanen sayur dan mengantarkannya ke rumah Pak Edi yang biasa jualan sayur keliling.
"Siapa yang menaruh sandal di sini. Ini menghalangi jalanku. Aku sudah tidak bisa melihat, jangan dihalangi." Ana berteriak di depan pintu. Kakinya tersandung sandal yang ada di sana. Ana langsung marah, imbas dari rasa sedihnya itu.
"Ada apa, An." Nenek Ana berlari-lari kecil dari arah ruang tengah. Kaget mendengar cucunya yang baru pulang sekolah berteriak.
"Sudah tidak apa-apa. Sudah Nenek singkirkan sandalnya. Sini Nenek bantu," ucap Nenek Ana sambil mengulurkan tangannya.
"Tidak usah, Nek. Aku bisa. Meski aku buta jangan perlakukan aku layaknya orang buta. Aku tidak suka." Ana berlalu dari hadapan Neneknya.
Di dalam rumah Ana tersandung lagi ke pojok kursi. Dia menggerutu lagi. Mengoceh ini itu. Neneknya paham apa yang terjadi. Pasti teman-temannya mengejeknya lagi soal dia yang buta. Nenek Ana mengusap matanya yang berkaca-kaca sambil melihat punggung Ana yang hilang dibalik pintu kamarnya.
"Sini, Nenek bantu ambil nasi ya," ucap Nenek Ana malam harinya saat mereka sedang makan malam. Tersaji Opor ayam di meja dan tumis tempe juga peyek jagung. Itu menu malam ini. Terlihat enak.
Gerakan tangan Nenek Ana yang hendak mengambil nasi ditahan oleh Ana.
"Tidak usah, Nek. Aku bisa mengambilnya sendiri. Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Ana mengambil alih centong nasi dari tangan Neneknya. Nenek Ana hanya diam memperhatikan cucunya.
Ana mulai menyendok nasi. Sayangnya saat akan dituangkan pada piring, nasi itu salah sasaran. Nasinya tumpah pada meja. Ana histeris. Dia tidak suka seperti ini. Bahkan untuk menuangkan nasi pada piring saja dia tidak bisa. Benar kata temannya, dirinya harus selalu dibantu. Dan Ana tidak suka itu.
"Aku bahkan untuk menyendok nasi saja tidak bisa, Nek. Aku tidak suka buta. Kenapa aku harus buta, Nenek," Ana menceracau di sela-sela isak tangisnya. Ana mulai melempar-lemparkan piring. Berhamburan pecah di lantai. Nasi juga ikut berserakan. Salah satu pecahan piring mengenai tangannya. Sedikit berdarah.
Ana terus terisak. Dia tidak suka.
"Aku tidak bisa apa-apa. Aku tidak berguna, Nenek."
Nenek Ana bangkit, memeluk Ana. Berusaha menenangkan. Berbisik, ini sudah takdir dari Tuhan.
"Aku tidak suka takdir Tuhan yang seperti ini. Aku tidak mau buta. Aku tidak mau kehilangan semuanya. Tidak mau kehilangan Mama, Papa dan Adik," Ana memprotes. Ingatannya 6 tahun lalu terus berputar di kepala kayaknya kaset. Juga layaknya spidol permanen, susah dihapus.
"Jangan pernah menyalahkan Tuhan, Ana. Nenek sudah beberapa kali mengatakan ini padamu. Jangan pernah nyalakan Tuhan atas takdir ini. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kamu. Tuhan tahu. Tuhan punya alasan kenapa Dia membuatmu seperti ini." Nenek Ana ikut terisak. Tidak tega dengan nasib cucunya.
Susah sekali bagi Nenek Ana untuk mengembalikan senyuman Ana sejak kecelakaan itu. Nenek Ana mati-matian membuat cucunya terus bahagia, tidak merasa kekurangan. Dia bahkan mengesampingkan kesedihannya yang harus kehilangan Anaknya secara tiba-tiba. Dia lakukan semuanya untuk Ana.
Momen pelukan ini masih berlanjut sekitar satu jam.
"Apa kamu sudah lebih tenang, An?" Nenek bertanya saat dirasa Ana sudah mendingan. Tidak menangis lagi.
Ana mengangguk sebagai jawabannya.
"Pergilah istirahat An. Nenek tahu kamu lelah. Jangan pikirkan apapun yang bisa memberatkan hati dan pikiranmu, An." Nenek Ana mengusap lembut pucuk kepala Ana.
"Iya, Nek. Maafin Ana ya. Ana egois. Ana terlalu memikirkan diri Ana sendiri. Ana tidak memikirkan hati Nenek yang juga sedah. Ana Maafin Ana, Nek," ucap Ana dengan lembut.
"Maafin Ana yang selalu menyusahkan Nenek semenjak kepergian Mama dan Papa. Nenek harus sibuk mengurus Ana, belum lagi Nenek harus bekerja. Maafin Ana sudah merepotkan Nenek," lanjut Ana.
Nenek Ana langsung menggelengkan kepala. Tidak, semua yang Ana pikirkan tidak benar. Baginya Ana sama sekali tidak merepotkan. Kasih sayang Neneknya besar untuk Ana.
Malam itu mereka berdua berpelukan lagi. Saling menyalurkan kasih sayang dan perasaan. Ana menyayangi Neneknya, begitu juga sebaliknya.
Sayangnya, takdir langit berkata lain. Esok pagi sepertinya akan ada awan hitam di atas rumah, mungkin turun hujan. Akan banyak mata-mata yang sembab. Orang-orang yang ramai di depan rumah. Orang-orang yang sibuk.
"An, sudah pagi. Kamu tidak mau bangun. Sudah jam enam, sebentar lagi kamu harus sekolah," ucap Neneknya di depan pintu kamar Ana. Kemudian berlalu. Masih banyak kerjaan di dapur.
Selang tiga puluh menit. Ana tidak kunjung keluar dari kamarnya. Sedangkan Ira teman Ana sudah duduk manis di ruang tengah untuk menjemput Ana berangkat bersama ke sekolah.
Nenek Ana akhirnya masuk ke dalam kamar Ana. Dan takdir Tuhan sungguh menyayat malam ini. Nenek Ana membeku di ambang pintu.
"Ana," Nenek Ana berteriak. Ira yang mendengar teriakkan itu langsung berlari ke kamar Ana. Ira juga membeku di ambang pintu melihat Ana dengan kondisinya yang sekarang, dan Nenek Ana yang sudah bersimpuh menangis histeris.
Ana bunuh diri. Dengan tali yang melilit di leher dan terikat pada kayu di atas kamarnya. Wajahnya sudah membiru, nyawanya sudah tiada.
Sebenarnya, saat pamit tidur. Ana tidak bisa tidur. Sudah mencoba. Pikiran-pikiran negatif, ejekan teman-temannya, kecelakaan 6 tahun lalu, dia yang buta akibat kecelakaan itu, wajah Neneknya yang selalu tersenyum. Semuanya memenuhi kepala. Ana tidak kuat dengan bebannya.
Malam itu, Ana memutuskan untuk mengakhiri semuanya, termasuk nyawanya. Dia menganggap kalau dirinya hanya beban bagi sang Nenek. Dengan dia pergi maka beban Neneknya akan hilang.
Pagi itu Ana dimakamkan bersebelahan dengan Mama, Papa dan Adiknya. Cepat sekali pagi itu prosesi pemakamannya. Sejak mengetahui Ana telah tiada. Ira pontang panting memanggil tetangga untuk membantu. Tidak ada sekolah pagi ini. Tidak ada sarapan pagi meskipun piring-piring sudah penuh dengan aneka masakan kesukaan Ana. Neneknya sengaja memasak itu pagi ini. Berniat sepotong momen sarapan pagi yang indah akan terjadi di meja makan mereka.
Pagi ini Ana telah pergi.
Diselesaikan di Sumenep, 15 Januari 2023
Komentar
Posting Komentar