Pagi ini lewat kisi-kisi jendela Matahari sudah mulai menyapa benda-benda padat di dalam rumah. Berkata 'Hai' untuk mengawali pagi ini.
Di dapur yang terletak di bagian belakang rumah, tampak seorang perempuan berusia 28 tahun sedang sibuk dengan wajan dan spatula di depannya. Sibuk menuangkan bumbu-bumbu. Sibuk mondar-mandir di dapur yang tidak terlalu luas.
"Cepat bangun, Mas. Sudah jam 6 sebentar lagi kamu harus pergi kerja," Diana berteriak dari arah dapur membangunkan suaminya yang tertidur lagi setelah salah Subuh di depan TV.
"Wangi apa nih. Enak sekali." Zen mendekat pada istrinya yang sedang memasak tumis. Wanginya memang tercium ke seluruh penjuru rumah.
Zen meletakkan dagunya pada pundak istrinya. Diana terperanjat, kaget. Meski sebenarnya hal ini sudah biasa Zen lakukan saat istrinya sedang memasak. Wangi Istrinya dan wangi masakannya selalu membuatnya candu.
"Sudah sana jangan deket-deket aku terus. Mas harus cepat mandi terus berangkat kerja." Diana mendorong tubuh Zen agar berangkat ke kamar mandi yang ada di samping dapur.
Zen suami Diana bekerja di sebuah bengkel besar di kecamatan sebelah. Dengan gaji yang lumayan, dan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Rumah tangga mereka yang sudah berjalan delapan tahun ini terlihat mesra dan harmonis, seperti dijauhkan dari hal-hal yang membuat sedih. Namun siapa sangka, jalan tanpa lubang dan kerikil itu sedikit mustahil bukan. Begitu juga dengan rumah tangga. Tidak ada yang mulus-mulus saja, pasti ada masalah. Entah itu pertengkaran dan sebagainya.
"Tahu gak, Di. Sri anaknya Bu Latifah itu yang baru nikah beberapa bulan yang lalu, sudah hamil loh. Terus Wilda baru nikah satu tahun udah lahiran tuh. Kamu mana?" Ibu mertua Diana sudah beberapa kali bilang hal itu. Soal kehamilan.
Diana dan Zen sudah berusaha sebisa mereka. Ikut program hamil dan semacamnya. Mungkin Tuhan belum berkehendak saja untuk saat ini. Mereka masih terus menanti selama delapan tahun ini.
"Ikut Ibu yuk, Di. Ibu mau liat bayinya Wilda yang baru lahir itu. Bu Minah juga ke sana loh sama tetangga-tetangga yang lain," ajak Ibu mertuanya.
Di desa mereka sudah menjadi tradisi, jika ada bayi yang baru lahir, maka para tetangga akan pergi melihat bayi itu dengan membawa buah tangan. Entah itu alat mandi untuk bayi, baju dan berang-berang untuk bayi. Tapi ada juga yang membawa beras gula dan bahan-bahan pokok lainnya. Tradisi ini sudah berlangsung dari dulu. Tidak pernah punah, karena mereka akan saling membalas satu sama lain jika ada bayi yang baru lahir.
"Ya Allah, lucu sekali bayinya, Wil. Lahir normal ya?" Bu Minah bertanya pada Wilda yang sedang menyusui anaknya.
"Iya, Bu. Alhamdulillah bisa lahir normal dan lancar prosesnya." Wilda masih sibuk dengan bayinya.
"Kamu kapan, Di, nyusul Wilda. Udah keduluan yang lain loh," ucap tetangga yang lain. Diana hanya tersenyum, bilang kalau mungkin belum saatnya Tuhan memberinya kepercayaan untuk ini.
Mereka tidak lama di rumah Wilda. Hanya beberapa saat lalu pamit pulang.
"Kamu gak nyoba pergi ke dokter lagi, Di," tanya Bu Minah.
"Siapa tahu ada yang bermasalah sama kamu," lanjut Bi Minah. Diana tidak terlalu menggubrisnya. Orang-orang juga sudah tahu apa usaha Diana dan Zen lakukan untuk bisa punya anak.
Sebenernya dulu Diana sempat hamil, tapi keguguran saat berusaha 3 bulan. Dan hingga saat ini mereka belum dikarunia lagi.
"Gimana hari ini, aku dengar dari Ibu kalian pergi melihat anaknya Wilda yang baru lahir ya?" tanya Zen, malam hari saat dirinya sudah pulang bekerja.
Diana menceritakannya singkat soal dirinya yang pergi ke rumah wilda. Bilang kalau bayinya lucu sekali. Orang-orang bersuka cita.
"Anak kita nanti juga pasti tidak akan kalah lucu dari anaknya Wilda. Atau lebih lucu malah." Zen tersenyum duduk di dipan samping istrinya. Mereka sudah berada di kamar.
Sekarang sudah jam sembilan malam. Mereka beranjak beristirahat. Pintu rumah sudah dikunci, jendela-jendela ditutup rapat. Beberapa lampu di teras rumah-rumah penduduk ada yang dimatikan.
"Bagaimana kalau ternyata aku tidak bisa hamil, Mas." Diana memecah keheningan di antara mereka dengan perkataannya yang tiba-tiba.
Sebenarnya sudah beberapa kali Diana mengucapkan ini. Terlalu banyak kemungkinan yang dia pikirkan soal ini. Bisa jadi Diana tidak bisa hamil lagi. Itu yang selalu dipikirkannya.
"Jangan berkata seperti itu. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Percaya sama Mas. Tuhan sedang menguji kesetiaan, kesabaran dan keimanan kita saat ini. Terus berpikir positif, Sayang." Zen memeluk tubuh istrinya. Menyalurkan kekuatan secara tidak langsung.
Zen tahu, Ibunya pasti lagi-lagi menyinggung soal kehamilan. Apalagi melihat tetangga ada yang baru hamil dan ada yang baru melahirkan. Pasti Ibunya mengungkit hal itu lagi tadi siang.
"Sudah, Bu. Kata dokter kita tidak perlu menekan Diana dan membuat dia kepikiran soal hal ini. Itu akan menganggu kesehatan mentalnya. Ibu tahu kan, kami sudah berusaha. Ibu hanya butuh bersabar untuk ini," ucap Zen beberapa hari yang lalu pada Ibunya, saat Zen dan Diana baru pulang dari rumah sakit.
"Lalu bagaimana kalau ternyata Istrimu tidak bisa hamil lagi, Zen. Kamu tidak tahu omongan tetangga itu bagaimana," ucap Ibunya. Untung Diana tidak mendengar hal itu. Diana sudah pergi ke kamar duluan.
Zen kembali fokus pada Istrinya, tidak lagi mengingat-ingat perkataan ibunya. Di kamar mereka, Zen masih memeluk Diana.
"Ibu sangat mengingatkan cucu, Mas," Diana berkata lirih.
"Menikahlah lagi, Mas," lanjut Diana. Zen langsung melepaskan pelukannya.
"Kamu ngomong apa, Di. Sudah Mas bilang berulang kali sama kamu. Mas tidak akan menikah lagi. Mas menikahi kamu bukan semata-mata hanya untuk anak. Mas mencintai kamu, dan siap menerima kekurangan kamu." Zen mulai emosi. Pasalnya, Diana sudah mengatakan ini beberapa kali. Dan Zen sudah menjawabnya beberapa kali juga. Diana bilang, kalau Ibu mertuanya sangat menginginkan cucu. Persetan mengenai hal itu bagi Zen. Zen tidak peduli. Mereka masih bisa berusaha. Mereka punya Tuhan yang selalu bersama mereka setiap saat.
Zen keluar kamar memilih untuk menenangkan diri. Zen tidak suka Diana berkata seperti itu.
Esok harinya, terlihat kecanggungan di antara Zen dan Diana. Mereka sarapan pagi dengan senyap. Fokus pada piring masing-masing. Ibu mertua Diana sudah pergi pagi-pagi buta ke ladang membantu suaminya, Ayah mertua Diana.
"Sudah, jangan pikirkan lagi soal yang tadi malam. Tersenyumlah hari ini. Jangan pikirkan hal yang tidak-tidak." Zen mengelus pucuk kepala Diana yang terbalut kerudung. Lalu berpamitan hendak berangkat kerja.
"Eh, Diana beli sayur?" Bu Minah basa-basi menyapa. Sudah tahu kalau ke tukang sayur keliling pasti beli sayur, masih saja bertanya. Diana hanya tersenyum sebagai jawabannya.
"Gimana Di, apa sudah isi?" Bu Minah masih usil berkata hal sensitif itu. Tetangga yang satu ini emang jilid sekali.
"Kamu ya, Minah, bisa tidak jangan selalu bertanya seperti itu. Itu menyinggung perasaan Diana," ucap Bu Latifah membela Diana.
"Apanya yang menyinggungnya, Diana biasa saja tuh. Kamu saya yang sewot, Latifah," Bu Minah menjawab dengan nada kesal.
"Kamu memang tidak bisa menjaga perasaan orang ya. Kalau mau bicara itu dijaga dan dipikir terlebih dahulu, jangan sampai menyakiti hati orang. Coba kalau kamu yang ada di posisi Diana. Sakit hati tidak." Bu Latifah mulai kesal dengan sikap Bu Minah ini. Pasalnya Bu Minah ini selalu bertanya hal yang sama setiap melihat Diana membeli sayur.
Karena tidak mau memperpanas suana. Diana melerai mereka. Menyuruh mereka berdamai. Diana bilang dia tidak sakit hati, dirinya biasa saja. Meski aslinya tidak demikian. Diana memilih pamit setelah selesai berbelanja.
Hari ini mentari bersinar terik sekali. Panas, membuat gerah berkepanjangan. Di kipas tidak mempan, terus gerah.
"Wajah kamu pucat, Di. Kamu sakit?" Zen bertanya setelah dirinya pulang kerja. Melihat wajah Istrinya yang pucat dan terlihat lesu membuatnya khawatir.
"Tidak, aku baik-baik saja, Mas," demikian kata Diana.
Mereka istirahat setelahnya, meski Zen beberapa kali memaksa untuk pergi periksa. Khawatir Diana sakit dan semakin parah.
Ternyata hingga seminggu kedepan, Diana masih pucat wajahnya, terlihat lesu, sering kecapean. Diana tidak sehat. Sudah diberi obat dari warung, ternyata tetap tidak sembuh. Zen meminta istrinya untuk periksa, Diana tetap tidak mau. Baginya ini hanya butuh istirahat.
"Sudahlah, Mas, tidak usah. Ini hanya sakit biasa. Pasti karena kecapean saja," demikian kata Diana. Zen hanya mengangguk. Istrinya keras kepala.
Namun malam harinya. Keadaan semakin serius. Diana semakin lemas. Tidak ada toleransi lagi dari Zen. Dia membawa Diana ke puskesmas terdekat malam itu juga. Ibu mertua Diana ikut khawatir. Meski dirinya beberapa kali menuntut soal cucu. Tapi dia juga menyayangi Diana layaknya anak sendiri. Akhirnya memutuskan ikut ke puskesmas menemani anaknya.
"Tidak ada yang perlu dicemaskan, Zen." Bu Laila salah satu Bidan yang sekaligus tetangga mereka berkata meyakinkan.
"Kalian tidak perlu cemas. Ini seharusnya menjadi kabar bahagia untuk kalian sekeluarga. Kamu harus menjaga istrimu lebih ekstra lagi. Jangan membuatnya kecapean dan stres ya." Malam itu, Bu Laila mengatakan kalau Diana sedang hamil. Usia kehamilannya baru berjalan dua Minggu.
Bu Laila tahu penantian Zen dan Diana untuk kehamilan ini. Semua tetangga juga sudah tahu. Bu Laila ikut terharu melihat pasangan ini.
Zen menangis memeluk Diana yang masih berbaring lemas. Diana mengucapkan syukur di hatinya. Ibu mertuanya ikut bahagia. Sebenernya Ibu mertua Diana juga menyayangi Diana terlepas dari perkataannya yang selalu menyinggung soal kehamilan.
Malam ini Zen dan Diana tahu, mereka hanya sedang diuji mengenai kesetiaan, kesabaran, kepercayaan dan keimanannya.
Malam ini Tuhan telah berkehendak. Kun Faya kun, maka jadilah semuanya. Penantian delapan tahun ini membuahkan hasil.
"Tuhan telah mengatur semuanya," ucap Zen disela-sela rasa syukurnya.
Diselesaikan di Sumenep, 13 Januari 2023
Komentar
Posting Komentar