Langsung ke konten utama

PUISI "SATU SALURAN TV", Oleh: Erka Ray

 Suara TV yang terlampau nyaring

membuatku berpaling

apa yang sedang disibukkan mereka,

padahal tidak ada kisah kita di sana

meski aku mencarimu,

kamu tidak akan ada di iklan-iklan yang itu-itu saja


Dari remote dengan warna hitam

aku hanya ingin menjamah nomornya,

Ternyata ada angka dua, tapi kamu tidak akan jadi yang kedua

saat aku tancapkan penglihatan ini di sisi kanan

Ada pembawa acara yang memberi isyarat,

tapi kenapa saat aku berisyarat, kamu tidak suka


Dari saluran yang satu aku lompat ke saluran yang lain

aku kira sudah menemukanmu di antara ramainya acara-acara sinema

tapi kamu malah merangkap jadi pelawak di saluran yang satunya


Aku ke sana,

memintamu dengan mata yang basah,

tapi kamu bilang, lelucon ini masih harus diteruskan


Aku mematikan TV,

tidak ada yang cukup pas saat ku suguhkan pada penglihatan,

tidak ada yang mesra saat ku pasangkan dengan pendengaran


Sumenep, 14 Agustus 2022

Komentar