Langsung ke konten utama

CERPEN "SEBELUM GELAP" Oleh ; Erka Ray


 Petir di atas sana saling menyapa, saut menyahut. Malam ini hujan deras di desa kami. Malam yang terasa panjang untuk dilewati. Hawa dingin seakan-akan menusuk kulit menembus tulang. Ini bukan lebay, tapi memang betulan dingin.  

Seharusnya malam ini orang-orang bersuka cita, duduk-duduk santai bercengkrama dengan secangkir kopi. Dan toples berisi kue dengan beraneka macam bentuk dan rasanya terpajang rapi di meja ruang tamu. Iya itu di rumah tetangga. Tapi malam ini hujan deras. Jadilah kue-kue itu dimasukkan kembali ke dalam lemari. 

Sayup-sayup terdengar suara takbir berkumandang di masjid desa kami. 


"An, bisa bantu Nenek sebentar." Suara panggilan Nenek membuyarkan lamunanku. 

Aku membantunya memasak opor ayam. Masakan ini wangi sekali, masakan Nenek memang selalu enak, tidak tertandingi. 

"Besok pagi-pagi buta sebelum matahari terbit, kita langsung beres-beres rumah biar tidak kesiangan buat ke makam," tuturnya. Nenek masih fokus dengan centong kuah ditangannya, asik mencicipi kuah opor takutnya masih ada yang kuras pas. 


Setelah semuanya selesai. Selesai cuci piring, selesai masak opor ayamnya. Lalu disimpan di atas meja. 

Aku mulai menguap. Pamit pada nenek kalau aku akan tidur lebih awal. 

Jika bagi sebagian orang, malam hari raya adalah malam yang penuh kebahagiaan suka cita, benar, aku setuju soal itu. Tapi sayangnya setiap orang memiliki cerita hidup yang berbeda-beda, masalahnya pun beda-beda. 


*****

Malam itu 6 tahun yang lalu. 

"Kurang 2 kota lagi kita akan sampai ke rumah nenek," ucap Papa menenangkanku waktu itu yang rewel karena sudah bosan di dalam mobil. Ceritanya waktu itu malam hari raya idul Fitri. Aku, Mama, Papa dan Adek. Kita mudik untuk lebaran bersama nenek. Dulu kita masih serumah dengan nenek, tapi semenjak papa ditugaskan di luar kota, jadilah kami terpaksa pindah. 


Di garasi mobil banyak sekali oleh-oleh yang kami bawa, semuanya akan dibagikan pada kerabat kami. Adek ku, dia tidur pulas di gendongan Mama. 


Seperti halnya orang yang kelelahan saat bekerja seharian penuh. Orang mengemudi mobil juga pasti lelah, apalagi Papa mengemudikan sendiri, tidak ada yang mengganti. Jarak antara kota kami dengan rumah nenek jauh. Memakan waktu seharian. Tapi papa memilih pulang di malam hari. Katanya lebih nyaman.


"Nanti pas nyampek rumah langsung tidur di kasur kok, Sayang." Mama masih berusaha membujukku yang ingin cepat-cepat sampai.


"Besoknya bisa main sama Kakak Jes." Kakak Jes itu anak dari saudaranya Papa. 


Malam itu. Saat aku sudah hampir tertidur. Sayup-sayup aku denger mama berbicara.


"Belok ke kiri, Mas." Suara mama panik. Tapi Papa masih terdiam.

Papa sempat terlelap sebentar. Dari arah berlawanan tiba-tiba ada Bus yang ngebut sambil nyalip kendaraan di depannya. Klakson Bus yang nyaring, sorot lampunya yang menerangi mobil kami, langsung membuat Mama kaget, dan papa langsung kehilangan kantuknya. 

Hanya sepersekian detik. Bus itu dan mobil kami saling bertabrakan. Papa yang masih kaget tidak sempat membelokkan laju mobil. Maka yang terjadi saat itu terjadilah. Keluarga yang awalnya lengkap, kini telah kurang. Senyum serta sapaan selamat pagi di meja makan, tidak akan lagi terdengar. Dongeng-dongeng pengantar tidur, tidak akan lagi terdengar. 


Malam itu kaca-kaca pecah berhamburan. Pintu mobil yang copot. Penyok di segala sisi. Tubuh papa terjepit. Begitu juga dengan Bus itu, rusak parah. Supirnya juga terjepit di kursi kemudi. Penumpangnya, entahlah. Tubuh mama terpental keluar dengan Adikku yang masih dalam gendongannya. Aku. Aku sedikit terluka di kepala. Tapi ada luka yang masih membekas dari kejadiannya itu. Selebihnya aku tidak melihat apapun. 

"Ma, Pa. Masih bisakah aku melihat kalian." Setelah itu aku benar-benar terlelap.


Malam itu, aspal jalan tidak lagi hitam. Warna merah telah mendominasi. 


**** 


"Di depanmu sebelah kiri." Nenek berteriak dari dapur. Sebenarnya dia tidak perlu berteriak. Meski tidak bisa melihat aku bisa mencium wangi opor ayam ini. Ini membuatku tambah lapar.


 Lagi-lagi suara takbir terdengar dari masjid desa kami. Untuk yang kali ini sungguh nyaring, tidak lagi sayup-sayup. 

Setelah selesai shalat hari raya. Aku dan Nenek pergi ke makam. Mama, Papa dan Adik di makamkan kota kelahirannya. 


Bunga yang aku bawa semakin membuat indah makam Mama, Papa dan Adik. Aku yakin tempat kalian juga indah. Kado terindah buat kalian hanyalah Al-fatihah. 

Pertanyaanku waktu, apa aku masih bisa melihat kalian. Ternyata aku benar-benar tidak bisa melihat. Wajah tersenyum di malam 6 tahun lalu itu, adalah apa yang bisa kulihat terakhir kali sebelum semuanya gelap. Pecahan kaca itu merusak penglihatanku.


"An, Tuhan tahu apa yang terbaik buat kita. Jangan pernah membenci, jangan pernah menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi," ucap Nenek. Aku membalasnya dengan tersenyum. 

Aku tidak menyalahkan siapapun meskipun semuanya telah gelap. Aku tidak bisa melihat.

Kami duduk jongkok di depan makam Papa, di sebelahnya ada makam Mama dan Adik. 


Diselesaikan, 14 Juni 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE, Oleh: Erka Ray

Judul Resensi: Sepanjang Janji Digenggam  Judul Buku: Janji Penulis: Tere Liye Bahasa: Indonesia Penerbit: Penerbit Sabak Grip Tahun Terbit: 28 Juli 2021 Jumlah Halaman: 488 halaman ISBN: 9786239726201 Harga Buku: -  Peresensi: Erka Ray* Penulis dengan nama asli Darwis ini terkenal dengan nama pena Tere Liye. Dunia buku dan tulis menulis tentu tidak akan asing lagi. Pria kelahiran Lahat Sumatera Selatan 21 Mei 1979 ini sudah mulai menulis sejak masih sekolah dimulai dari koran-koran lokal. Selain seorang penulis dia juga merupakan seorang Akuntan dan juga lulus Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Tere Liye memilih berbeda dengan penulis lainnya, dengan tidak terlalu mengumbar identitas dan jarang menghadiri seminar, workshop kepenulisan dan lain-lain. Novel Janji ini merupakan novel ke sekian yang telah ditulisnya. Mulai menulis sejak tahun 2005 dengan karya pertamanya yaitu "Hafalan Salat Delisa" yang telah diangkat menjaga film layar lebar. Selain itu j...

NOVELETTE - "KEPAL TANGAN", Oleh; Erka Ray

Pagi hari, kehidupan mulai menggeliat di sebuah pedesaan. Satu dua jendela rumah mulai dibuka oleh pemiliknya. Ayam tak berhenti berkokok sahut-sahutan dengan suara kicau burung di atas sana. Dari arah timur mentari mulai muncul. Cahayanya menyirami persawahan dengan padi yang mulai membungkuk memasuki usia panen, menyapa ladang penduduk dengan beranekaragam tanaman. Embun di rumput-rumput sebetis mulai menggelayut, diinjak oleh orang-orang yang mulai pergi ke ladang pagi ini. Menjemur punggung dibawah terik matahari sampai siang bahkan ada yang sampai sore hari.  Terdengar suara ibu-ibu memanggil seorang tukang sayur. Teriakan ibu-ibu memanggil anak-anak yang bandel susah disuruh mandi untuk berangkat sekolah. Teriakan ibu-ibu yang meminjam bumbu pada tetangganya. Kehidupan di desa ini sudah mulai menggeliat sejak subuh dengan suara air yang ramai di kamar mandi. Suara adzan yang nyaring sekali, terdengar kesemua penjuru.  Anak-anak berseragam dengan tas besar ter...

PUISI "SAJAK TOPLES KOSONG", Oleh: Erka Ray

Aku toples yang diambil pagi-pagi dalam lemari  Kemana aku dibawa Meja yang habis dilap itulah tempatku berada Aku toples yang dibuka dengan gembira  Tangan tuan rumah, tangan tamu-tamu menjamah isi dalamku Aku ditawarkan, "Mari makan" "Mari dicicipi" Aku toples yang gembira di hari raya Itu aku, Itu aku yang dulu Kemana aku hari ini? Aku adalah toples yang membisu di dalam lemari  Badanku kosong Tangan-tangan tua dan muda tak menjamahku Tuan rumah acuh kiranya, Kemana uangnya untuk membeli isi yang biasanya diletakkan pada tubuhku  Pun rumah ini sepi  Tuan rumah seperti mati di hari raya Di mana aku? Aku ada dalam lemari saat hari raya Aku tak diambil pagi-pagi untuk diletakkan di atas meja ruang tamu Tuanku tengah miskin  Tuanku tak ada uangnya Tuanku membuatku tak lagi diperlihatkan pada tamu-tamunya  Dan tuanku rumahnya tak bertamu Sumenep, 11 April 2024