Langsung ke konten utama

Postingan

PUISI "PEMBERI NODA", Oleh: Erka yang

Jika bukan kita Lalu siapa  Kertas putih jadi hitam  Bernoda  Kita pemberi noda itu  Lalu tak berdosa Seakan tidak ada apa-apa  Maaf Mulut terlontar Kita tak bermuka nyatanya Perih mulut mengukir senyum  Ujung pena tak patah masih bersyukur Ruang hampa Kertas putih tak merata  Hitam dominan di warna  Kita, Iya itu kita Jika bukan, lalu siapa Yang akan jadi pemberi noda  Ujung lidah hitam dosa Memanfaatkan sesama  Kita tak baik  Hanya manipulatif Kertasmu sampai tak putih nama sekali  Telah bernoda Masih diberi noda Tak merasa bersalah kah kita?  Berhenti Pamekasan, 30 Maret 2023

PUISI "HENDAK ISTIRAHAT", Oleh: Erka Ray

Istirahat Lelah? Iya, Perjalanan jauh Ujung mata bergerilya Lancang sudah Nestapa dikobarkan Ujung nadi pergi mencari nyaman  Berhenti Sepeninggalan Sendiri Sepi tak berujung menyudahi Beralas ucapan Janji manis di gelas tadi  Hambar ludah saat ditelan    Tak perlu menengadah Tangan sudah  Berhenti, Istirahat, Membimbing tidur Di mana? Gelas tadi terhapus sudah janjimu  Tak diingatkan Memang sebaiknya tidak Meringkuk saja, Selimut kumal tak berharga Bisa kita sudahi  Lelah Aku hendak istirahat di tepi-tepi jadi Yang untuk digenggam pun tak punya Pamekasan, 30 Maret 2023

PUISI "NOSTALGIA RINDU", Oleh: Erka Ray

Siluet malam  Alam membungkuk memberi penghormatan Tak gencar Tangan kananmu cerah  Berirama, Bibirmu mengatup  Awan sebelah timur masih tak menguning  Meski dari sudut desa  Suara sayup-sayup Samar soal pernyataan diri Pada diri yang merindu sujud paling syahdu Bernostalgia lagi  Tak harap, tak gencar, Memposisikan diri pada sebelah barat  "Allahu Akbar." Mata-mata terbuka Melawan malam  Sedang meringkuk pada dekapanmu menjadi candu  Lama tak bersua Aku berpelesir rindu  Dengan menggunakan celengan rindu Koin masuk, Koin keluar membeli tanganmu  Sisi rindu  Nostalgia subuh  Aku meringkuk Tak melihat langit masih gelap Tutup mata, Telinga juga  Di luar masih gelap  Aku genggam tanganmu lama Pamekasan, 30 Maret 2023

PUISI "KOSONG", Oleh: Erka Ray

Sayup-sayup Kisi-kisi jendela tak luput  Ikut masuk melewatinya Lampu-lampu satu persatu menyala  Piring dibalik, Air dituang, Matamu masih tak sempurna menatap Sedang apa kamu?  Diluar gelap  Tak ada ujung jari di pelukis yang hendak menciptakan cahaya Kamu telah membaca doa, Sendiri di kamar persegi Tak lengkap Meski kunyahan pertama yang bernafsu Luas kamar yang sunyi menemani Masih sayup  Saat kamu bangun  Ingin melanjutkan hari esok Makanlah, Habiskan semua Energi esok yang kau genggam Tangan basah mengingatkan Sedang di rumah-rumah yang lain juga sama Membalik piring Anak yang susah bangun  Dilanjutkan dengan suapan pertama Kenyang di suapan terakhir Kamu ikut terlelap lagi setelahnya Pamekasan, 29 Maret 2023

PUISI "KITA HAMBA YANG BERTEMU", Oleh: Erka Ray

Hampir pupus di kakimu Menyerahkan diri  Iba?  Tidak ada  Kita berlumur lumpur  Yang basah badan  Jadi kotor semuanya  Tak perduli Kaki tangan dilepas  Raib di bingkai matamu Malam syahdu Tak terbesit  Keinginan menghambakan Luluh hati  Riang diri  Pulang tak berarah  Hingga asing tak lepas dari jemari Kita tak bersama pada akhirnya Kakiku tak tentu  Barat yang dituju, Timur yang disambangi Ujung jari tak nyaman  Gelisah, Hamba yang tak patuh  Berlari menuju titik temu  Bernostalgia, Penuh dosa  Bersujud, "Ampuni aku yang tak tahu." Berhari-hari Kita berjumpa Temu tak berujung Kita pergi Sedang aku berduri dan berdarah  Pemujaan untuk diri  Pamekasan, 29 Maret 2023

PUISI "CEPATLAH PERGI JIKA MAMPIR", Oleh: Erka Ray

Ingin mampir?  Silahkan Jalanku tak mulus  Bisa dilihat Aku duduk  Kursiku hanya tersisa satu  Mampirlah, Jika kau sanggup Berdirilah lama  Aku tak pernah mempersilahkan duduk  Kamu ingin mampir Silahkan, Namun segeralah pergi Aku tidak terbiasa menerima tamu yang basa-basi Cukup ke inti  Jika tak betah  Tanganku terbuka kanan kiri  Jangan mampir  Rumahku lantainya rusak  Kakimu nanti terluka Tak pernah ke sini  Aku tak ingin kau datang  Siapa?  Kamu siapa?  Jangan ke sini  Tapi mampirlah, Lihat aku iba di matamu Pandang saja  Tak ada yang istimewa Kamu ingin mampir  Jangan terlalu lama  Aku takut mengurungmu  Atau aku yang terkurung tanganmu Cepat pergi Tak baik berlama-lama di sini  Pamekasan, 28 Maret 2023

PUISI "GERIMIS SEBINGKAI SORE", Oleh: Erka Ray

Gerimis di luar sana Senyum di gulung bak tikar  Rentan basah sang pipi  Sering dihapus  Gerimis depan rumah, Cukup bahas tanah Cukup lembab dinding Jendela-jendela tak terbuka lebar  Dingin katanya Gerimis tak berhenti Apalah daya Sore hari lapangan futsal sepi  Beberapa pengendara menerima Emperan toko yang hanya membisu sendiri Tanah lapang tak ramai Yang biasa menenteng sarung tak diperbolehkan keluar Hujan seharian  Selimut dari primadona dadakan Ujung lidah terjulur Napas tersengal-sengal Rupanya semangkuk yang sedang hangat terhidang Mangkuk putih Senyum dan gigimu yang juga putih Tangan mengibas-ngibas  Sepertinya Mie cukup mendinginkan kita  Sedang di luar, Gerimis masih liar Pamekasan, 28 Maret 2023