Langsung ke konten utama

Postingan

PUISI "TERTEMPEL DI JENDELAMU", Oleh: Erka Ray

 Kisah kita aku tulis pada kaca yang berdebu jendela yang karatan sebab lama tidak dibuka kain yang kumal dan kusam kujadikan dia sebagai penghapus kisah kita yang salah Pada dua kata pertama, kita bersembunyi di denyut-denyut yang masih berusaha dikontrol beringkuk di kata 'lembut' yang masih mitos kisah kita tidak untuk disebut indah Pada kertas putih, garis-garis yang sering berwarna kebiruan, mulai mengotorinya warna abu-abu pensil jadi selingkuhan di putih yang belagak suci apa kita hilangkan saja putihnya keseluruhan? jika kamu setuju akan aku usap darahku di sana sebagai pewarna Jendela yang buram menjadi tempat paragraf-paragraf kita menempel dengan keseriusan menyelinap masuk ke kamarmu yang persegi membaringkan diri, aku ingin istirahat untuk bisa melanjutkan kisah ini Pamekasan, 31 Agustus 2022

PUISI "PERKATAANKU TIDAK BAIK", Oleh: Erka Ray

 Langit didoakan untuk kehilangan birunya pohon disumpahi kehilangan daunnya air dizolimi agar keruh warnanya dan pada akhirnya, aku yang kehilangan Matahari didoakan redup cahayanya pelangi dicuri satu warnanya jalanan mulai cerewet karena berlubang aspalnya aku mendoakan yang tidak baik ucapanku mulai linglung bisakah pikiranku pulang Aku menghina putih yang tidak lagi suci hitam yang tidak lagi menyeramkan merah yang sok kuat aku menghina warna-warna itu mereka terlalu munafik bagiku Sudah, aku tidak suka daun harus berpura-pura renta untuk dikasihani senja harus pura-pura menangis saat akan pergi kenapa penuh drama? perkataan mulai tidak baik aku mendoakan kamu ditinggalkan tubuh sendiri dikhianati senyuman sendiri dan kamu kehilangan semuanya seperti aku Pamekasan, 30 Agustus 2022

PUISI "TUHAN, AKU SAKIT", Oleh: Erka Ray

 Tuhan, apa kakiku masih berguna kenapa tidak bisa kutukar dengan yang lain Tuhan, aku terlanjur menjemawa diri menyebut diri ini bermahkota mengklaim diri ini suci yang dijunjung tinggi Tuhan, aku perindu langitmu yang teduh saat selarik cahaya ada disudut matanya aku langsung menjadi si rendahan yang tak punya apa-apa saat bias rembulan menyapa wajahmu aku menenggelamkan diri di sana Tuhan, aku urungkan untuk menjemawa diri aku urungkan mentahtakan diri ini dari beling-beling yang tidak tahu diri menusuk tidak iba dan tidak peduli Tuhan, tanganku kosong minta diisi aku beri seluruh pengharapanku pada-Mu jangan jatuhkan mata ini karena penglihatannya salah jangan usir diriku dari tempat ini Meski Tuhan, aku lagi-lagi adalah patah yang sengaja dipatahkan aku ranting renta yang coklat tua ingin hijau tapi tidak tahu diri Tuhan, aku urungkan diriku untuk tidak pergi darimu Pamekasan, 30 Agustus 2022

PUISI "MENANGGUNG MALU", Oleh: Erka Ray

 Jika matamu ingin tertutup akan aku persilahkan penglihatan berguguran ini pedih kuselipkan di matamu mukaku berkerut menyapa usia sendiri sesekali aku ingin bermonolog dengan diri sendiri jika kamu ingin terduduk akan aku sediakan satu kisah di mana aku sudah tidak sempurna lagi lupa pada diri sendiri aku mengorbankan diri sendiri untuk kisah yang kosong Di kisah itu aku selalu berdialog dan lupa bermonolog tanganku sibuk menyapa diri sendiri seraya berbisik, tolong berhentilah aku berkerudung malu pada diri sendiri aku ingin istirahat dari ricuhnya pendengaran ini diri ini iba saat harus dijajal kemunafikan Aku menutupi tubuh ini dari malu mulut-mulut yang beringas tanpa ampun menyumpahi kisah ini basi dan tidak menarik lagi Pamekasan, 30 Agustus 2022

PUISI "JIKA KUSAM", Oleh: Erka Ray

 Saat kusam air matamu relakan dia seperti itu saat rebuk tulangmu, tetap relakan dia seperti itu akan ada yang berbeda dari susut manapun senyummu yang selalu gelisah akan tenang pada akhirnya pikiranmu yang campur aduk, akan merindukan kesibukannya lagi Jika kusam pandanganmu tunggu aku di jalan yang sudah remang ada mataku yang siap jadi matamu hingga menjadi mata kita yang saling menjaga Jika tetap kusam petunjukmu ada aku sebagai petunjukmu pada akhirnya saat rambu-rambu jalanan cuma jadi patung yang tidak berguna ada aku dalam dirimu yang renta tapi tetap setia Pamekasan, 29 Agustus 2022

PUISI "ADA AKU UNTUKMU", Oleh: Erka Ray

 Apa jarimu tanggal satu? kamu korbankan untuk apa? apa air matamu kering? kamu kuras untuk siapa? tawamu hilang, siapa yang menjadi malingnya? Tangan ini sudah kucuci bersih siap untuk membelaimu bahu ini sudah cukup kuat siap untuk menjadi sandaranmu Bajuku cukup bersih, jika sudah tidak ada lagi kain untuk menghapus air matamu akan kukorbankan dia demi siapa? tentu demi kenyamanan kita Jika kakimu tinggal sebelah, ada kakiku yang siap jika tanganmu dimutilasi ada tanganku di sini Kita bisa menjadi sepasang meski kekurangannya di mana-mana Sumenep, 29 Agustus 2022

PUISI "APA DAN SIAPA", Oleh: Erka Ray

 Aku kehilangan kata untuk mendeskripsikan kita kita ini apa warna pada bunga? putih pada awan, atau biru pada langit? Kita ini apa, aku sampai kehabisan kata-kata untuk dijadikan seserahan aku kebingungan di tanah lapang tidak tahu arah barat, kukira selatan Apa kita adalah kelopak mawar yang tidak cukup menutupi rasa malu atau kita hanya sekedar awan yang bersandiwara menangis untuk menyejukkan tanah mungkin kita hanya pohon-pohon yang sibuk menggoda dirayu angin, dia jual mahal Kita jalang yang mengemis pada langit tangan kotor, lalu mengambil bunga untuk membersihkan merusaknya, membuatnya tidak layak lagi untuk dipandang Kita ini apa? Kita ini siapa? Pertanyaan yang membuat muak langit malam tempat pulang peraduan yang tidak lagi nyaman padahal kita butuh itu Sumenep, 29 Agustus 2022