Langsung ke konten utama

PUISI "RUMAH TERAKHIRMU", Oleh: Erka Ray

 Semilir angin hari ini terlihat usil

Saat aku hendak menuju ke rumahmu

Rumah terakhir 

Menerbangkan ujung kerudung

Yang warnanya menyaingi warna langit 


Aku kegerahan menuju rumahmu

Tempat beristirahat

Yang terakhir

Duduk di sana

Aku masih berusaha memetik bunga 

Yang ingin bersimpuh pada tubuhmu

Yang mulai terkikis masa


Tidak terasa 

Dulu kita bertengkar soal pilihan warna

Kamu memilih hitam

Dan aku memilih putih

Namun putih yang ternyata menutupi tubuhmu pada akhirnya

Hingga diproses waktu dengan lebih rinci

Dibungkus beserta sakit dan perihnya


Aku masih duduk santa di rumahmu yang terakhir

Meski angin 

Berulang kali meminta pulang

Sudah cukup katanya bungaku di atas tubuhmu



Sumenep, 23 Januari 2023

Komentar